Iman Bukanlah Produk Akal
Iman Bukanlah Produk Akal – Logika berpikir scientific menyuguhkan kekuatan akal menemukan daya optimalisasi yang menjembatani antara yakin dan tidak yakin. Kisruh dalam berpikir menyulitkan pemahaman yang sempurna tentang sesuatu objek yang dipelajari. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa kekuatan lahir sebagai kelengkapan atas diri manusia berfungsi menengahi kesulitan yang dimiliki oleh otak sadar manusia.
Dalam kesadaran penuh orang mampu menangkap apa yang dilihat dan didengar. Akan tetapi, dalam kondisi di bawah sadar, kemampuan otak itu hilang menuju kepada wujud yang tak dapat ditangkap oleh otak sadar. Akal yang berada di dalam kemampuan otak untuk berpikir sangat berperan menjembatani kesulitan tersebut.
Akankah bahwa peran akal menemukan kemampuannya untuk menjembatani antara otak sadar dan tidak sadar? Ilmu logika berpikir mengkaji kekuatan akal melampaui apa yang seharusnya terjadi di dunia realita. Kesadaran akan kekuatan yang dimilikinya mempengaruhi akal berfungsi sebagaimana seharusnya! Akal hanya meyakini apabila secara logis dapat diterima oleh pemahaman akal! Jika tidak logis, maka akal menolaknya.
Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia dilengkapi dengan akal untuk berpikir! Proses berpikir secara logis membutuhkan suatu bukti kepastian. Jika ada maka ada. Tak mungkin ada bila tiada! Akal menemukan kekuatan berpikir pasti karena dirancang oleh Allah sebagai alat untuk menguji keadaan yang dihadapi dengan bukti-bukti!
Ada-Nya dalam akal ditangkap dengan bukti-bukti nyata! Sekiranya Allah Ada, maka akal akan membuktikan kepastian ada-Nya. Dalam penciptaan langit dan bumi, mustahil terjadi dengan sendirinya bila tiada-Nya Yang Menciptakan. Ada berarti ada, maka ketika ada itu lahir berada menunjukkan ada itu karena ada-Nya di dalam keberadaan.
Ada-Nya ditunjukkan dengan keberadaan yang ada! Jika tiada keberadaan yang ada, tiada ada-Nya! Mustahil langit dan bumi mewujud jika tiada yang bersamanya mewujud ada. Akal dapat menerima proses berpikir semacam ini.
Bagaimana akal dapat menjembatani tentang kesulitan memahami ada-Nya di alam yang sulit dijangkau oleh penglihatan mata (lahir)? Akal sebagai karunia yang diturunkan bersamaan lahirnya manusia di alam dunia, maka akal hanya mendapati bahwa keberadaannya ada di alam yang nampak! Bagaimana dia (akal) memahami bahwa di balik yang nampak ada-Nya Yang Menciptakan?
Akal diciptakan oleh Allah untuk berpikir lebih dari sekadar melihat dan mendengar. Akal dilengkapi kekuatan omega yang mampu menembus ketidakmampuan proses berpikir! Berpikir adalah suatu proses mengindera dari apa yang dilihat dan didengar. Akal akan menyimpulkan benar dan tidak benar bila didukung oleh suatu kajian informasi yang diterimanya.
Dengan kekuatan omega itulah akal mampu menerima akan ada-Nya di dalam informasi yang diperoleh dari al-Qur’an! Dia adalah Zat Yang Maha Esa! Akal mencoba menganalisa dengan kemungkinan apa yang tak mungkin dipahami oleh akal itu sendiri. Akal berupaya memahaminya dengan suatu nilai-nilai yang akan terjadi!
Sekiranya ada dua Tuhan, adakah Yang Paling Berkuasa? Jika Yang Satu memandang diri-Nya sebagai Yang Paling Berkuasa, maka Tuhan Yang Kedua pasti di bawah Kekuasaan Tuhan Yang Satu. Lalu, apakah disebut Tuhan bila Dia berada di bawah kekuasaan Tuhan Yang Satu? Maka, akal akan menolak bahwa Yang Kedua pasti bukan Tuhan!
Akal menerima bila ada kekuatan omega di dalamnya untuk menemukan bukti-bukti logis dari kemungkinan-kemungkinan yang tak dapat dipahami oleh akal itu sendiri. Akan tetapi, jika masih ditemukan orang menerima keyakinan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, maka itu bukan berasal dari kekuatan omega akal, selain adanya ketiadaan nilai-nilai keimanan yang ditanamkan sebagai dasar untuk menerima keyakinan yang dibangun oleh akal dengan kekuatan omeganya. Iman bukanlah produk akal, selain hidayah dari Dia Yang Maha Berkuasa dalam penciptaan makhluk-Nya. ( forum.republika.co.id )
Mungkin Artikel Ini Yang Anda Butuhkan ...
- Haruskah Mencari Tuhan Selain Allah ..?!
- Hakikat Zat Pada Sifat Allah ( 1 )
- Metoda Pemahaman Ilmu Tauhid
- Hakikat Zat Pada Sifat Allah ( 2 )
- Profile
- Hakikat Zat Pada Sifat Allah ( 3 )
- Hakikat Zat Pada Sifat Allah ( 4 )
- Hakikat Zat Pada Sifat Allah ( 5 )
- Mengapa Harus Belajar Tasawuf ?!
- Sifat Jaiz atau Mungkin Pada Allah SWT
- Ibadah itu Hukumnya Haram
- Seberapa Kafirkah Kita ?!
- Bertasawuf Dalam Syariat
- Agama, Pembebanan Yang Membebani
- Hakikat Ramadhan Sebagai Bulan Percintaan
- Mendudukkan Perkara Bid'ah Dengan Benar ( 1 )
- Allah Bersifat Ujud, Artinya Ada
- Mendudukkan Perkara Bid'ah Dengan Benar ( 2 )
- Hakikat Gairah Dalam Diri
- Mendudukkan Perkara Bid'ah Dengan Benar ( 3 )
- Sebelum Allah Menjadi Tuhan
- Kejelasan Rasionalitas Al-Qur'an
- Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 1 )
- Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 2 )
- Salah Satu Bukti Keaslian Al-Quran
- Allah Bersifat Qidam Artinya Dahulu
- Hakikat Al - Quran Sebagai Kitab Hikmah
- Pengertian dan Hakikat Al-Asma Al Husna
- Hukum Ataukah Pesanan Dibalik Penangkapan Ariel Peterpan?
- Allah besifat Baqa' Artinya Kekal
- Memahami Hakikat Nur Muhammad
- Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi Artinya Allah Tidak Serupa Dengan Alam
Tags: Al-Asma Al-Husna, Allah, Hakikat Tauhid, Sifat Allah, Zat Allah

December 16th, 2011 at 2:53 am
Ijin copas ke .doc yah tapi koq ga bisa
untuk dibaca waktu senggang di kerjaan lewat HP
Ditunggu emailnya yah
Terima kasih blog nya keren
December 21st, 2011 at 9:33 pm
Salam kenal.semoga ALLAH SWT Selalu Memberi hidayah.serta Kekuatan selalu bisa berkarya.kandungan tulisannya Bagus Wawasan Luas Tentang Pemahaman Tauhid.Yaallah Jadikanlah Saudara Myrazano Hambamu yang taat Patuh dan tunduk Kepada ajaranmu dan ridoilah Karya tulisannya.Amin yaarabbal ‘Alamin.sedikit cerita sebelum Mengikuti Baiat Jamaah tauhid Kepasuruhan Lagi penasaran Penasarannya Mengenal Allah.sering membaca Tulisan saudara.Alhamdulillah setelah Baiat sudah nyampek apa yang di maksud dalam tulisan saudara,makasih.sukses selalu dan terus berkarya.