Haruskah Mencari Tuhan Selain Allah ..?!

Haruskah Mencari Tuhan Selain Allah ..?! – Pernyataan Allah sebagai tuhan seluruh alam pada kajian ini, mengacu kepada kata Rabb yang biasa digunakan untuk memuji dan menyampaikan memohon dalam bentuk doa-doa kebaikan kepada Allah swt.

Kata Rabb dalam Al-Quran ditemukan sebanyak 900 kali dan pada umumnya berpola kata majemuk tak setara atau pola kata bersandar. Ibnu Mansyur menyatakan bahwa kata Rabb mengacu kepada kepemilikkan atau hak rububiyah atas semua makhluk. Kepemilikan tunggal yang tidak ada sekutu atas kepemilikan itu.

Pemilik dari semua pemilik, Raja dari sekalian raja atas semua kerajaan. Ar-Rabb menurut Ibnu Arabi adalah zat yang memindahkan keadaan dari keadaan yang lain dan menggantikannya dari suatu bentuk dengan bentuk yang lain untuk menumbuhkan dan mengembangkannya sampai mencapai keadaan yang sempurna.

Dari segi bahasa menurut Ibnu Atsir, kata Rabb mengacu kepada arti raja, majikan, pengelola, pengasuh, pemelihara, pengatur dan yang memberi nikmat. Apabila kata Rabb merupakan kata yang berdiri sendiri akan mengacu kepada Allah, sehingga apabila mengacu kepada selain Allah, maka kata Rabb harus merupakan pola kata gabung.

Jadi kata Rabb tidak disebut sendirian kecuali untuk Allah yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk dan apabila ditambahkan kepada kalimat yang lain, maka itu bisa juga untuk Allah seperti Rabb al alamin yang berarti Tuhan semesta alam, Rab as-samawat yang berarti Tuhannya langit, Rabb al- ardh yang berarti tuhannya bumi, Rabb al-mala ikah yang berati tuhannya para malaikat serta Rabb al-arsy yang berarti tuhan pemilik Arsy.

Menurut riwayat yang masyhur atau terkenal bagi para ulama kata atau nama ar-Rabb tidak termasuk dan tidak ditemukan dalam kelompok al-Asma al-Husna walau sesungguhnya kata Rabb tersebut termuat sangat banyak dalam nash Al-Quran dan nash hadist Rasulullah saw.

Dari beberapa metoda dan beberapa kata yang dengannya Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk ciptaan-Nya, kata ar-Rabb ini cenderung disertai dengan kalimat pujian, atau dengan kata ar-Rabb ini Allah memuji dirinya sendiri yang sekaligus merupakan perintah kepada setiap makhluk ciptaannya untuk memuji Allah sebagai Tuhan, seperti Rabb al Alamin yang merupakan kata gabung antara kata Rabb dan kata alamin ( kata majemuk atau plurar ) dengan kata dasar alam ( sesuatu yang diciptakan ) yang merupakan kalimat pujian yang utama terhadap Allah. ” Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam “ ( QS : Al-Fatihah ayat 02 ). ” Maha suci Allah, Tuhan semesta Alam “ ( QS : Al-Araf ayat 54 ) dan beberapa ayat Al-Quran yang menyebutkan sebanyak 900 kali seperti “ Ibahim menjawab, aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam “ ( QS : Al-Baqarah ayat 131 ), ” Sesungguhnya aku takut kepada Tuhan seru sekalian alam ” ( QS : al-Maidah : 28 )

Jadi Allah Tuhan seluruh alam atau Rabb al Alamin bukan hanya merupakan sebuah kalimat pengakuan dari makhluk sebagai hamba, terhadap Allah sebagai khalik yang menguasai seluruh alam ciptaan-Nya, tetapi Rabb al Alamin juga merupakan kalimat pujian yang sangat utama terhadap Allah.

Hanya untuk Allah segala ibadah tertuju, karena Dia sebagai sebab ibadah itu didirikan. Hanya Tuhan pemilik seluruh alam ini yang mampu memberikan keputusan dan makna dari setiap ibadah yang didirikan dan dilaksanakan setiap makhluk ciptaan-Nya. ” Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam “ ( QS : Al-An am ayat 162 ) dan ” Katakanlah, apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu “ ( QS : Al-An am ayat 164 ) [ Kajian Hakikat Tauhid ]

Comments 5

  • ????? ????
    ???? ???? ???

  • kuno ah. sebelum memutar mutar logika dengan bahasa ada baiknya memahami sedikit tentang bagaimana bahasa dan makna bekerja. Baca Saussure, Barthes, Lacan,dan teman2nya….paling nggak tambah2 wawasan. Googling aja banyak kok.

  • Setelah membaca semua situs ini, saya kok jadi bertanya-tanya. Isinya berbicara tentang Allah yang maha Gha`ib. Seharusnya yang hal-hal gha`ib diperoleh dengan wahyu. Kata wahyu di sini mengandung dua, Al Qur’an dan Sunnah. Tapi kok … Semua artikel minim ayat dan minim (jika tidak boleh disebut tidak ada) hadis. Bukankah Rasul berpesan untuk mengigit kuat-kuat kedua sumber itu. Adakah saya yang salah memahami agama Islam? Saya tetap berhusnudzan penulisnya rajin membuka Tafsir Al Qur`an (tentunya yang berbahasa arab) dan rajin mengaji kitab-kitab Shahih. Saya khawatir pembahasan ini secara online malah hanya menimbulkan “keraguan”. Jika memang ada guru yang layak, apakah tidak sebaiknya sebutkan saja nama dan alamatnya. Biar pengunjung bisa belajar langsung jika mereka mahu.

  • @ Nyong : terimakasih atas apresiasi dan kunjungannya. masukan yang diberikan. insya Allah akan menjadi perbaikan selanjutnya
    dan ditunggu kunjungan berikutnya

  • Tolong jelaskan Arti dan Makna dari Khalak Insan ala Surati Rahman…..?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.