Hakikat Takbiratul Ihram Sebagai Gerbang Menuju Allah

Hakikat Takbiratul Ihram Sebagai Gerbang Menuju Allah  – Kajian ilmu syariat lebih berfokus pada kajian sah – tidak sah nya suatu ritual ibadah yang dilaksanakan, maka pada kajian hakikat ilmu hakikat, pembahasannya lebih terfokus pada diterima dan tidak diterimanya suatu ritual ibadah. Hakikat ilmu tauhid itu adalah kelanjutan dari pemahaman dari ilmu syariat. Apabila ritual ibadah yang dilaksanakan, acuannya hanya terbatas pada kajian ilmu syariat semata, maka ritual ibadah itu hanyalah sebuah rutinitas tanpa makna yang menghabiskan waktu dan tenaga atau hanya akan mendatangkan kelelahan saja dan apabila ritual ibadah itu hanya mengacu kepada kajian ilmu tauhid semata, maka ibadah tersebut hanyalah sebuah mimpi dan khayalan kosong yang tidak bermakna dan kebohongan spiritualitas semata.

Sesungguhnya kesempurnaan suatu ibadah terletak pada diterima – tidaknya ibadah yang sah itu oleh Allah Tuhan Rabbal ‘Alamin karena, walau ritual ibadah yang dilaksanakan itu sah sesuai syarat dan rukunnya, tetap saja belum tentu pasti diterima Allah Tuhan Rabbal ‘Alamin namun tentunya mustahil juga pada akal bahwa, Allah Tuhan Rabbal ‘Alamin akan menerima ibadah yang nyat – nyata tidak sah kalau ditinjau dari hukum syariat. Sehingga hubungan antara ilmu syariat dan ilmu tauhid merupakan satu kesatuan ilmu yang saling melengkapi dan berkelanjutan yang tidak akan pernah bisa dipisahkan.

Secara syariat, Takbiratul Ihram merupakan salah satu rukun yang pertama dalam shalat karena shalat itu secara syariat berarti beberapa perbuatan dan beberapa perkataan yang dimulai dengan Takbiratul Ihram dan diakhiri dengan salam. Takbiratul Ihram adalah mengangkat tangan sambil lidah melafazkan atau mengucapkan kalimat takbir “ Allahu Akbar “ ( ada juga yang memahami besertaan dengan niat shalat )

Dalam kaidah hukum, kalimat takbir dalam Takbiratul Ihram “ Allahu Akbar “ itu harus dilafazkan atau harus diucapkan dan setiap sesuatu yang diucapkan itu pastinya berasal dari lidah, sehingga harus ada suara. Pengucapan kalimat Takbir “ Allahu Akbar “ tersebut oleh Imam shalat harus terdengar oleh makmum, namun dalam shalat sendirian boleh di sirr dengan batasan pengucapan minimal suara takbir “ Allahu Akbar “ harus didengar oleh telinga sendiri. Apabila tidak, maka Takbiratul Ihram yang dilaksanakan menjadi tidak sempurna dan artinya secara hukum apabila salah satu rukun tidak dilaksanakan secara sempurna maka shalatnya pun menjadi tidak sempurna.

Kalimat takbir “ Allahu Akbar “ merupakan kalimat yang bermakna memuji kebesaran Allah Tuhan Rabbal ‘Alamin oleh seorang hamba yang didasari rasa tawaduk yang dalam. Kalimat takbir tersebut maknanya pengakuan terhadap kebesaran Allah Rabbal ‘Alamin, setiap pengakuan itu harus berasal dari hati bahwa “ Hanya Allah lah yang memiliki sekalian kebesaran, selain dari Allah adalah kecil bahkan maha kecil karena Allah itu Maha Besar “. Jadi Takbir bukan hanya sebatas pengucapan yang berasal lidah saja tapi pengakuan yang berasal dari hati yang dilahirkan melalui ucapan lidah.

Dalam pembelajaran ilmu tauhid, ketika pengucapan kalimat takbir oleh lidah tersebut, apabila hati tidak mampu menghadirkan Allah di dalamnya, maka khusuk dalam shalat itu akan sulit untuk di capai. Kekhsukkan dalam Takbirratul Ihram itu adalah kunci utama untuk mencapai shalat yang khusuk. Apabila shalat tidak khusuk, maka bisa dipastikan shalatnya tidak akan diterima Allah, karena Allah hanya akan menerima shalat dari hamba – hambanya yang khusuk dalam ibadahnya. Apabila kita tidak mampu meghadirkan Allah dalam Takbirratul Ihram, tapi walau hanya dengan menyakini bahwa “ Allah pasti melihat kita “ sudah bisa dikatakan cukup untuk orang awam dalam ibadahnya

Dalam Kajian Ilmu Tauhid, salah satu makna atau hakikat dari khusuk itu adalah, tidak berhadap hati kepada sesuatu yang lain, tidak juga kepada diri kita sendiri atau apapun juga melainkan hanya kepada Zat yang wajib ujud saja, kalau ada yang dilihat ataupun yang terlihat semua itu pada hakikatnya hanyalah nama – nama saja.

Dalam pemahaman syariat Takbirratul Ihram dimaknai sebagai Takbir yang mengharamkan segala sesuatu yang sebelumnya dihalalkan, maka dalam ilmu tauhid, Takbirratul Ihram dimaknai sebagai pintu tempat lenyapnya segala sesuatu yang ujud kedalam sifat zat yang wajib ujud tadi.

Takbiratul Ihram adalah tempat lenyap dan larutnya jasmani kedalam rohani, hilangnya tubuh yang kasar dan lahirnya tubuh yang halus, hilangnya diri yang zahir kedalam diri yang batin. Semua rasa, baik cinta dan takut ataupun kepatuhan dan ketertundukan semuanya lenyap dalam ke – Maha Besaran – Allah

Untuk memasuki maqam khusuk, seorang hamba harus melenyapkan diri yang batin tadi ke dalam sifat Allah sehingga yang tertinggal hanyalah sifat Allah, menghilangkan aku melahirkan sifat Allah, bukan aku melainkan sifat Allah semata – mata. Zahirnya aku merupakan zahirnya sifat Allah, lenyapnya aku merupakan lenyapnya sifat Allah dalam alam batang tubuh aku.  Lenyapnya sifat Allah dalam alam batang tubuh aku, maka yang muncul adalah Zat Allah semata – semata sebagai bukti bahwa Zat Allah itu  Ujud  lagi Maujud

Hidup aku karena Hayatnya Allah Ta’ala, hidup aku hidup Allah, bukan aku yang hidup melainkan Allah. Tahunya aku karena Ilmunya Allah Ta’ala, tahu aku adalah tahunya Allah, bukan aku yang tahu melainkan Allah. Kuasa aku karena  Qudratnya Allah Ta’ala, kuasa aku adalah kuasanya Allah, bukan aku yang kuasa melainkan Allah. Kehendak aku karena Iradatnya Allah Ta’ala, kehendak aku adalah kehendaknya Allah, bukan aku yang berkehendak melainkan Allah. Melihat aku karena Basyarnya Allah Ta’ala, penglihatan aku adalah penglihatannya Allah, bukan aku yang melihat melainkan Allah. Mendengar aku karena Samiknya Allah Ta’ala, pendengaran aku adalah pendengaran Allah, bukan aku yang mendengar melainkan Allah. Berkata aku karena Kalamnya Allah Ta’ala, perkataan aku adalah perkataan Allah, bukan aku yang berkata melainkan Allah. Tidak ada sesuatu pun yang ada pada aku melainkan ada pada Allah, bukan aku melain Allah, sesungguhnya hidupku, matiku hanya karena Allah semata – mata.

Demikian sekilas tentang Hakikat Takbiratul Ihram sebagai gerbang menuju Allah dengan harapan bisa sebagai tambahan wawasan bagi kita semua untuk lebih memahami Hakikat Ilmu Yauhid. Dan tak lupa Myrazano berharap semoga para pengunjung blog Kajian Hakikat Ilmu Tauhid ini selalu mendapat Rahmat dan Hidayah Allah SWT dan terhindar dari kesesatan paham iblis – iblis yang menyamar sebagai mursyid. Amin Ya Rabbal Alamin ( Kajian Hakikat Ilmu Tauhid )

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.