Hakikat Ramadhan Sebagai Bulan Percintaan

Hakikat Ramadhan Sebagai Bulan Percintaan. Bulan Ramadahan atau bulan puasa merupakan bulan mulia dimana pada bulan Ramadhan ini, seluruh umat manusia yang beriman diberi kesempatan oleh Allah SWT sebagai Tuhan Semesta Alam untuk melaksanakan suatu ritual peribadatan puasa yang mulia demi kebaikan manusia itu sendiri.

Allah telah befirman dalam sebuah hadist qudsi yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW yang menyatakan bahwa “ … Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan langsung menentukan imbalannya ….”

Seorang anak manusia yang mengaku sebagai hamba Allah pasti akan berusaha dengan seluruh upaya untuk menjalankan seluruh perintah Allah sebagai Tuhan yang dicintai dan mencintainya. Karena seorang hamba yang bijaksana menyadari betul bahwa tidak semua makhluk mendapat penunjukkan langsung untuk melaksanakan sebuah ritual peribadatan. Puasa hanya diperintahkan kepada orang-orang yang terpilih dan telah dipilih Allah Tuhan Semesta Alam ( Rabb Al ‘Alamin ) , Puasa diperintahkan hanya untuk orang-orang yang beriman kepada Allah yaitu orang-orang yang telah dipercaya Allah untuk melaksanakan ritual ibadah tersebut

“ Hai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagai mana yang telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa “

Melalui pemahaman tersebut, maka tidak selayaknyalah seorang yang telah mendapat kepercayaan langsung dari Allah mensia-siakan kesempatan emas itu. “ Allah tidak pernah menurunkan suatu beban diluar kesanggupan hamban-Nya “, sudah cukup sebagai dasar bagi orang yang percaya bahwa ibadah puasa yang dinyatakan sebagai sebuah ritual ibadah untuk Allah pada hakikatnya merupakan sebuah ritual khusus yang mengandung kedalaman hikmah yang sebagian besarnya tidak sempat terpikirkan oleh makhluk yang diciptakan dengan kemampuan akal dan logika yang sangat terbatas.

Dalam hadist qudsi yang lain Allah SWT telah berfirman melalui sabda Rasulullah Muhammad SAW bahwa “ … Aku tergantung prasangka hamba-Ku, ….. “ dan apabila dihubungkan dengan hadits qudsi diatas yang menyatakan bahwa “ … Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan langsung menentukan imbalannya ….” Sungguh telah melahirkan sebuah pemahaman yang lebih mendalam lagi tentang hikmah yang terkandung dibalik pelaksanaan ritual ibadah puasa yang hanya diwajibkan kepada orang-orang yang beriman ini.

Dengan demikian, kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan yang penuh rahmah ini merupakan sebuah penghargaan dan penghormatan yang sangat teramat tinggi nilainya bagi seorang hamba ketika mendapat kesempatan untuk melaksanakan suatu perintah yang berhubungan langsung dengan Tuhan yang dicintainya dan mendapat kesempatan untuk membuktikan cintanya kepada Kekasihnya itu

Seorang pecinta sejati tahu dan sadar betul bahwa ketika yang ada dalam hatinya hanya sang kekasih pujaan hati, maka berarti dia sedang jatuh cinta, ketika yang terucap dari bibirnya hanyalah namanya, maka berati dia telah mencintainya dan ketika dia mendengar bahwa namanya juga diucapkan oleh pujaan hatinya, sang pecinta telah tahu bahwa sesunggunya dia telah dicintai.

Ketika Sang Khalik telah menitahkan sabda-Nya secara khusus kepada hamba-hamba yang dipercaya atas cintanya, maka pada saat itu seorang pecinta akan menyambut titah tersebut dengan penuh nafsu dan gelora cinta yang membara. Tidak ada hitungan waktu, materi dan tenaga, haus dan lapar tidak akan terasa, capek dan letih akan terabaikan yang ada hanya semangat dan bara api cinta yang senatiasa terus bergelora ketika membayangkan kebahagiaan yang akan didapat ketika bertemu dan melepaskan beban rindu memadu biru dalam qalbu

Demikian sekilas hakikat ibadah puasa yang merupakan salah satu ibadah wajib yang utama yang tidak diperintahkan kepada semua manusia. Prediket taqwa yang merupakan gelar langsung yang diberikan Allah SWT kepada hamba-hamba yang dikehendakinya merupakan suatu anugrah yang tidak tertandingi oleh anugrah lainnya. Ketika ibadah itu merupakan sesuatu yang khusus dilaksanakan untuk Allah dan Allah sendiri yang akan memberi langsung imbalannya, maka mulai dari Bulan Ramadhan yang suci ini, marilah kita bersama memantapkan kesadaran dan keyakinan dalam hati dengan seteguh-teguhnya untuk juga mempersembahkan secara langsung ibadah puasa ini kepada Allah tanpa perantara apapun atau siapapun karena tidak ada kebahagian yang lebih tinggi nilainya bagi seorang hamba selain ketika bertemu dengan Tuhannya.

Terakhir, melalui postingan Menyambut Bulan Suci Ramadahan yang berjudul “ Hakikat Ramadhan Sebagai Bulan Percintaan “ ini, saya pengelola blog myrazano.com dan oyonk.com menyampaikan dengan segenap kerendahan dan kesucian hati, beribu maaf apabila ternyata ada bagain-bagian yang kurang berkenan dari blog ini bagi pengunjung. Tidak ada manusia yang sempurna yang bebas dari kesalahan dan kekhilafan. Kepada Allah saya memohonkan ampun dan kepada sesama manusia saya memohonkan maaf, dengan harapan ibadah puasa yang akan kita jalankan ini diterima Allah dengan imbalan hidayah yang tak terhingga. Dan tak lupa semoga para mursyid dan guru- guru kita dan guru-gurunya guru kita dan seterusnya besertab keluarga dan kerabatnya yang beriman selalu berada dalam perlindungan dan petunjuk Allah SWT. Amin [ hakikat tauhid ]

2 Comments to "Hakikat Ramadhan Sebagai Bulan Percintaan"

  1. August 19, 2009 - 11:01 am | Permalink

    kami sekeluarga menyampaikan terimakasih yang sedalam dalamnya serta memohon maaf lahir dan batin kepada pengelola blog ini, smoga apa yang telah diberikan kepada kami skeluarga menjadi ibadah bagi yang menyampaikannya. Amin.

  2. August 26, 2009 - 6:17 am | Permalink

    Semoga kita bisa meningkatkan amal ibadah kita di bulan ramadhan ini. Mohon maaf lahir batin

Leave a Reply