Dosa dan Pahala dalam Sepenggal Rumus Matematika

Dosa dan Pahala dalam Sepenggal Rumus Matematika. Dalam rumus matematika yang umum kita memahami bahwa 10 – 1 = 9 artinya, secara logika, apabila kita mempuyai 10 pahala kebaikan kemudian dikurangi dengan 1 dosa keburukan, maka akan ada 9 kebaikan lagi yang masih tersisa sebagai keuntungan dari perhitungan matematika dosa dan pahala ini

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya.

  1. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak jadi melaksanakannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak.
  2. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” ( HR. Bukhâri dan Muslim )

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman (kepada malaikat pencatat amal), bila hambaKu berniat melakukan perbuatan jelek, maka janganlah kalian catat sebagai amalnya (amal jelek). Jika dia telah mengerjakannya, maka catatlah sebagai satu keburukan. Dan bila hambaKu berniat melakukan perbuatan baik, lalu tidak jadi melaksanakannya, maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya, maka catatlah kebaikan itu sepuluh kali lipat”. ( HR. Muslim )

Selanjutnya dari rumus matematika dosa dan pahala ini kita akan menemukan bahwa setiap angka atau bu\ilangan yang apabila dikalikan dengan angka atau bilangan 0 ( nol ) maka hasilnya adalah sama dengan 0 ( nol ) seperti 1 x 0 = 0

Jadi satu dosa keburukan yang telah dilakukan akan hilang dan akan dihapus oleh Allah dengan melakukan beberapa pebuatan baik seperti sedekah, puasa pada hari – hari tertentu dan lain sebagainya

“ Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api ” (HR. Tirmidzi)

Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. ( QS : 11 : Huud : Ayat : 114 )

Ikuti kisah berikut yang diambil dari situs eramuslim.com ; Suatu waktu di zaman tabi’in, hiduplah seorang syeikh dengan karisma yang begitu digandrungi oleh penduduk negeri tersebut. Jubahnya tebal lagi panjang. Sorbannya hampir menyentuh tanah. Jenggotnya menandakan kesalehan yang tinggi dalam dirinya.

Semua orang yang menemuinya tidak akan melewatkan telapak tangannya. Bahkan saking berjubelnya penduduk yang berebut untuk menjamahnya, banyak yang rela meski hanya kebagian kaki sang syeikh.

Persitiwa-peristiwa tersebut tidak luput dari pantauan pemuda ‘alim yang kelak menjadi seorang imam. Terpesona dengan hiruk-pikuk warga yang selalu menyambut setiap kehadiran sang syeokh, ia pun mulai melancarkan strategi guna mencari tahu ibadah macam apa yang telah dikerjakan sang syeikh hingga semua orang mengelu-elukannya.

Suatu siang bolong, pemuda ‘alim menguntit perjalanan sang syeikh, tentunya tanpa sepengetahuaan sang syeikh. Setelah sekian lama mengikuti perjalanan yang diharapkannya akan mendapatkan ilmu yang sangat berharga, tibalah sang syeikh di sebuah toko roti yang didapati tiada seorang pun yang menjaganya. Setelah melihat situasi dan memastikannya aman, sang syeikh mengambil sebuah roti ukuran besar kemudian memasukkan ke dalam jubahnya tanpa meninggalkan sepeser uang pun di kedai roti tersebut.

Si calon imam terperanjat mengetahui gerak-gerik sang syeikh. “Jelas itu merupakan tindak pidana dengan modus mencuri, ” jeritnya dalam hati. Penasaran dengan sikap sang syeikh, pemuda ‘alim kembali mengekor di belakangnya dengan tanda tanya besar di kepala.

Menyusuri lorong-lorong perumahan yang sempit lagi kumuh, sampailah sang syeikh di suatu perkampungan padat penduduk. Mengetahui sang idola muncul, serta merta berbondong-bondong warga mengerumuninya. Pemuda ‘alim masih memantau dari kejauhan tanpa mengedip sekalipun. Terperangahlah si pemuda ‘alim melihat sang syeikh membagi-bagikan roti hasil curiannya kepada para warga yang berdatangan meminta ‘berkah’ kepadanya tanpa disisakan untuk dirinya sendiri. “Ini tidak bisa dibenarkan, ” gumam pemuda ‘alim.

Dengan mengumpulkan keberanian, pemuda ‘alim mendekati sang syeikh dan melancarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal hatinya.

“Wahai Syeikh, aku melihat dirimu mencuri roti yang kemudian kau bagikan hasil curianmu itu kepada wakyat yang tiada mengetahuinya, ” hardik pemuda ‘alim.

“Ketahuilah hai pemuda, Alloh hanya membalas perbuatan buruk sebanyak ia melakukan perbuatan buruk tersebut. Sementara Dia akan membalas sepuluh kali lipat setiap perbuatan baik yang kita kerjakan. Aku mencuri roti hanya sekali, maka Alloh akan membalasku hanya sekali pula. Kemudian aku berbuat kebaikan dengan membagikannya, maka aku mendapat sepuluh kebaikan. Jadi, aku masih punya sembilan kebaikan, bukan?” jelas sang syeikh. ( Hakikat Tauhid )

” Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS : 55 : Ar Rahmaan : Ayat : 60)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.