Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 3 )

Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 3 ). Sebagaimana kajian yang telah kita bahas pada kajian sebelumnya yaitu  Keyakinan atau keimanan, tentang realitas ketuhanan dalam proses penciptaannya merupakan satu paket dengan penciptaan manusia  pada postingan Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 2 ) sehingga keimanan atau pengakuan tentang keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang tidak perlu dibuktikan lagi karena keyakinan tersebut sudah ada pada masing – masing jiwa, sedangkan pengingkaran pada hakikatnya merupakan suatu pengakuan ekstrim tentang keberadaan Tuhan itu sendiri

Melalui pemahaman Al-Quran  QS : 007 : Al A’raaf : Ayat : 172 yang sudah disampaikan sebelumnya, dapatlah kiranya difahami bahwa pengakuan akan keberadaan Tuhan secara benar pada masing – masing individu merupakan kebutuhan dasar atau kebutuhan pokok yang harus dipenuhi dan agama adalah satu – satunya jalan yang benar yang mampu menjawab semua hal tentang realitas ketuhanan secara benar dan sempurna sesuai dengan tuntutan kebutuhan jiwa manusia.

Agama yang benar adalah agama yang realitas ketuhanannya bisa dipertanggungjawabkan dan memuliakan harkat dan martabat manusia seutuhnya, bukan agama yang realitas ketuhanannya bertentangan dan merendahkan serta mengingkari harkat dan martabat kemanusiaan disamping nilai – nilai ketuhanan yang dikembangkan bisa difahami melalui logika yang sehat.

” Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” ( QS : 112 : Al – Ikhlash : ayat 1 – 4 )

Melalui ayat Al-Quran surat  Al – Ikhlash tersebut seluruh pertanyaan tentang realitas ketuhanan sudah bisa terjawab secara sempurnasetiap yang mempunyai anak adalah sesuatu yang berkembang biak dan yang berkembang biak itu pasti bukan Tuhan yaitu Tuhan itu Maha Esa, mutlak tunggal dan tidak beranak serta tidak diperanakkan termasuk didalamnya tidak dinyatakan mempunyai anak, karena

Sebagai makhluk, kita tentunya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila Tuhan juga berkembang biak. Entah sudah berapa banyak jumlah Tuhan – Tuhan itu sekarang. Jika Anak Tuhan itu hanya satu, pertanyaan selanjutnya adalah, Kenapa Anak Tuhan itu hanya satu ? dan seterusnya… dan seterusnya…  akan sangat banyak pertanyaan susulan yang tidak akan pernah bisa terjawab.

Jadi dalam memahami konsep ketuhanan dalam blog “ Kajian Hakikat Ilmu Tauhid “ ini adalah dengan mengabaikan konsep – konsep pemikiran yang mencoba memberikan penggambaran tentang Tuhan, karena realitas ketuhanan itu tidak berada dalam tataran akal tapi berada dalam tataran iman yang tumbuh dan berkembang satu paket dengan setiap makhluk. Sehingga setiap makhluk, pada hakikatnya sudah beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang Tidak Beranak dan Yang Tidak Dinyatakan Mempunyai Anak. ( pahami kajian sebelumnya )

Upaya pembuktian tentang keberadaan Zat Tuhan, merupakan sebuah upaya menyeret iman kedalam daerah akal. Pemahaman akal akan cendrung berputar dalam konsep hitam dan putih, benar dan salah, Sehingga ketika keberadaan Zat Tuhan dibawa kedalam tataran akal, maka jawabannya sudah bisa dipastikan bahwa ” Tuhan itu Ada ” atau ” Tuhan itu tidak Ada “

Jika akal menemukan keberadaan Zat Tuhan melalui konsep “ Jejak Yang Meninggalkan Bekas “ sebagai mana yang sudah dibahas dalam kajian sebelumnya, maka tidak mustahil akan menimbulkan pertanyaan tentang keberadaan Tuhan itu sekarang ? atau setidak – tidaknya bagaimana cara Tuhan menciptakan seluruh alam ini beserta isinya yang seakan – akan tanpa batas ini ? serta banyak pertanyaan lain yang tidak akan pernah bisa dijawab oleh akal

Sebagai contoh kasus dalam konsep ini adalah, ketika difahami dalam konsep akal tentang proses penciptaan manusia dari tanah, maka logika sederhananya bisa digambarkan sebagai berikut :

” Tuhan memerintahkan malaikat untuk mengambil tanah dari bumi dan kemudian Tuhan membentuk tubuh Nabi Adam AS sebagai mana bentuk manusia seperti kepala, leher, badan, tangan dan kaki. Selanjutnya Tuhan meniupkan roh ke dalam tubuh yang sudah jadi itu, maka hiduplah Adam AS sebagai manusia. ”

Dalam contoh kasus penciptaan Nabi Adam AS dalam tataran akal tersebut, apabila disandingkan dengan ” Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”  ( QS : 112 : Al – Ikhlash : ayat 4 ). Yang juga bermakna Tuhan itu tidak bisa disamakan atau dipersamakan dengan apapun juga. Sedangkan pada penggembaran proses penciptaan Nabi Adam AS tersebut sama dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada seorang seniman yang sedang membuat patung dari tanah liat. Bukankah “ Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia. “ ( QS : 036 : Yaasiin : Ayat : 82 )

Jadi dengan menyeret konsep ketuhanan kedalam tataran akal, sama artinya dengan menjerumuskan diri kita kedalam jebakan nafsu yang tidak akan pernah puas yang pada akhirnya melahirkan dilema yang tidak lagi realistis sebagaimana konsep ketuhanan Yesus dan Trinitas yang tidak akan pernah bisa dijelaskan secara sempurna oleh siapapun melalui pendekatan konsep apapun. Bukankah Al-Quran telah membimbing kita untuk tidak terjebak kembali oleh kebodohan logika masa lalu ? [ Jawaban dan Penjelasan ]

Comments 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.