Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 2 )

Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 2 ). Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya tentang jawaban dan penjelasan atas pertanyaan salah seorang sahabat blogger yang meminta bukti dan pembuktian tentang keberadaan tuhan pada Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 1 ).

Kembali kepada materi pertanyaan awal, bagaimana caranya untuk meyakinkan diri kita sendiri dan atau orang lain bahwa Tuhan itu benar – benar ada, sedangkan realitas ketuhanan itu sendiri bersifat keyakinan atau keimanan ?.

Untuk menjawab dan menjelaskan pertanyaan tersebut secara jelas dan terang serta lebih mendalam tentunya, kita harus mengembalikan persoalannya kepada konsep awal dari proses penciptaan keimanan itu sendiri pada setiap manusia yang telah dijelaskan Allah SWT melalui melalui Rasulullah Muhammad SAW dalam Al – Quran yang merupakan kitab tauhid terakhir unatuk seluruh umat manusia yang berakal.

” Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) “, ( QS : 007 : Al A’raaf : Ayat : 172 )

Ayat A-Quran tersebut telah dengan tegas menyatakan bahwa, setiap manusia yang dilahirkan satu paket dengan penciptaan keimanan. Keimanan tersebut sudah tertanam dan ditanamkan dalam bentuk perjanjian pengakuan dengan Sang Penciptanya, sehingga setiap manusia yang berakal dan masih mempergunakan akalnya secara sehat dan benar pasti akan mengakui dan meyakini bahwa Tuhan itu ada.

Adanya ritual dan sesembahan yang dilakukan pada kaum – kaum primitif, seperti sesembahan terhadap dewa – dewa dan pujaan pujaan lainya yang mungkin sebutan dan istilahnya berbeda dari suatu tempat ke tempat yang lain, merupakan suatu refleksi atau pengungkapan secara sadar bahwa ada sebuah kekuatan lain yang mengendalikan kehidupan mereka yang mereka tunduk dan berharap limpahan dan perlindungan dari dewa – dewa yang mereke puja tersebut.

Jadi pembuktian tentang ada tidaknya Tuhan, sesungguhnya adalah sesuatu yang tidak perlu lagi untuk dibuktikan. Realitas ketuhanan itu merupakan tatataran keyakinan yang sudah ada dalam masing – masing jiwa. Penolakan terhadap keberadaan Tuhan pada hakikatnya adalah juga pengakuan dalam bentuk yang ekstrim karena setiap penolakan pasti ada yang ditolak dan setiap keingkaran pasti ada yang diingkari. Itu dalah hukum yang berlaku umum

Ketahuilah bahwa mempertanyakan tentang ada tidaknya Tuhan pada hakikatnya merupakan suatu bisikan iman yang perlu dibina dan dikembangkan sehingga kembali tumbuh menjadi sebuah keyakinan yang kokoh dan murni serta terbebas dari pengaruh – pengaruh yang merusak keimanan itu sendiri dalam perkembangannya nanti

Agama adalah satu – satunya wadah yang diciptakan Tuhan untuk mengapresiasikan keimanan tersebut karena di dalamnya terdapat petunjuk – petunjuk dan kebenaran yang realistis untuk menyalurkan keimanan itu secara benar. Melalui agama, keimanan yang sudah ada dalam masing – masing jiwa akan mendapat siraman kesegaran yang membuatnya tumbuh dan berkembang menjadi kokoh dan kuat sebagaimana awal dia dicptakan.

Pada manusia modern, kesadaran akan realitas ketuhanan, diakui atau tidak. semakin hari semakin tumbuh dan berkembang. Fenomena tersebut dapat dilihat dengan semakin menajamnya pertarungan keyakinan antara satu agama dan atau satu keyakinan mempengaruhi agama dan atau keyakinan yang lain. Setiap umat beragama adalah mutlak untuk mengakui dan meyakini bahwa hanya ajaran agamanyalah yang paling benar walau pada akhirnya setiap umat akan secara terus – menerus melakukan kajian dan bahasan untuk lebih memahami kebenaran dari ajaran agama yang diyakini itu

Apabila ajaran yang diyakininya tersebut pada akhirnya mampu memenuhi harapan ketenangan dan kedamaian jiwa sebagaimana hakikat tujuan dari agama tersebut, maka agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang dengan pengikut yang semakin banyak dan sebaliknya, ketika ternyata realtas ketuhanan yang dikembangkan oleh suatu faham keagamaan ternyata tidak mampu menjawab realitas ketuhanan itu seiring dengan perkembangan peradaban, maka lambat laun agama tersebut akan ditinggalkan oleh mengikutnya dan pada akhirnya hanya agama yang benar – benar mengakui keberadaan Tuhan secara benar sajalah yang akan terus tumbuh dan berkembang serta diamalkan oleh pengikutnya.

Untuk ajaran – ajaran agama yang secara logika tidak mampu menumbuhkan keimanan tentang realitas ketuhanan secara realistis, lambat laun akan hilang fungsi dan perannya dalam peradaban manusia. Hal itu sudah terlihat dan dirasakan oleh para pemuka agama di Eropa, dimana peran dan fungsi gereja lambat laun telah tergantikan oleh peran dan fungsi negara dalam mensejahterakan masyarakat secara umum.

Seiring waktu, jumlah gereja yang ditinggalkan semakin lama semakin banyak jumlahnya, umat yang sebelumnya datang ke gereja untuk mendapatkan pembagian makanan dan perlindungan sekarang sudah tidak lagi datang ke gereja. Negara sudah memenuhi sebagian besar kebutuhan mereka. Otoritas peran yang sebelumnya dipegang secara mutlak oleh gereja telah diambil sepenuhnya oleh negara.

Sementara itu, nilai – nilai ketuhanan yang dikembangkan oleh gereja melalu ajaran agama Kristen semakin hari sudah semakin tidak realistis dan sebagiannya sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan logika ilmu pengetahuan disamping beberapa ajaran agama Kristen yang lain tidak bisa diamalkan sebagaimana kebutuhan umat, sehingga hanya orang – orang tua yang merasa sudah tidak punya pilihan lagi saja yang masih bertahan pada setiap kebaktian.

Generasi muda yang terpelajar dan cendrung kritis dalam memenuhi kebutuhan dasar keimanannya yang hakiki mulai merasakan akan kebutuhan agama yang yang benar – benar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh yaitu agama yang memuliakan martabat manusia sebagaimana seharusnya, termasuk kebenaran atas realitas ketuhanan yang bisa dipertanggungjawabkan [ Jawaban dan Penjelasan ]

Comments 1

  • Namo Budhaya. Namah Syiwaya….Kenapa Kajian ini terlalu ringan hingga mudah dipahami. Salam Taukhid berdasarkan Wahyu Kalamulloh Itu~kan Harus diuraikan bukti Dalam Masalah Tuhan Yang Maha Esa Itu harus syarat dg pemahan Lathi Ati Pekerti juga Bukti Diri Karomatullohul Haq…bukan sekedar kulitnya saja tapi ke Tingkat Haqeqat Ma’rifat diri Yang Sejadi…Bukti…Permainan Kata2 itu baru sebaran Syareat Bukankah Pentaukhidan diri…Terucap penuh bahasa Santun dan Bukti diri terkumpul bukan karena membaca Tulisan tapi Pahamilah Al~Qur’an Qodhiem juga Ilmu Waskitho diri Sangkan Paraning Dumadi…jadi Berbobot..Laku Tirakat Riyadhoh Mujahadah Seseorang penuh Rasa Tertuang indah dlm Salam Dunia Salam Nur Alam Nur Muhammad. terus Tegakkan Kbenaran. Ksucian Sjati.Om SANTI~SANTI..Om Mani Padme Hum….Agar Ilmu Sirrulloh dpt dijelaskan…Hu’ Awal~Hu’ Akhier. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.