Hakikat Mursyid dan Silsilah Ilmu Tauhid

Hakikat Mursyid dan Silsilah Ilmu tauhid – Dalam khasanah keilmuan islam, periwayatan merupakan salah satu sendi pokok yang tidak bisa diabaikan, sehingga peran guru dengan silsilah ilmu yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan merupakan kaidah yang harus dipenuhi


Seorang guru atau mursyid dalam pembelajaran tasawuf berperan bukan saja sebagai seorang sumber pemberi ilmu tapi sekaligus sebagai pengarah dan pembimbing para murid atau salik dalam pencapaian setiap maqam tauhid yang sedang dan akan dilewatinya

Seorang mursyid yang bijak akan tahu betul setiap potensi yang dimilki oleh setiap saliknya, sehingga setiap materi pembelajaran tasawuf melalui jalan tariqat antara satu orang salik bisa saja berbeda dengan salik yang lain. Pembelajaran ilmu tasawuf kepada seorang pedagang yang kesehariannya berada di pasar sebagai pusat aktifitasnya akan berbeda dengan pembelajaran tasawuf yang diberikan kepada seorang pegawai yang kesehariannya berada dikantor. Demikian juga pembelajaran yang diberikan kepada anak muda akan berbeda dengan seorang salik yang sudah dewasa dan seorang salik yang belajar sungguh – sungguh dengan seorang yang hanya belajar sekedar memenuhi keingintahuannya saja. Sehingga seorang mursyid  tidak akan pernah mememberikan ilmu dan amalan melebihi dari kemampuan yang dimiliki sang salik

Hal tersebut lebih banyak didasakan kepada pemahaman bahwa ilmu tasawuf merupakan ilmu hati yang sebagiannya tidak bisa dicerna dan diterjemahkan oleh akal sebagian orang. Karena ilmu tasawuf merupakan ilmu hati, maka dalam setiap pembelajaran tasawuf mutlak berada dibawah bimbingan seorang mursyid yang benar – benar mengetahui dan paham tentang ilmunya dan mengetahui dengan pasti tujuan dari pembelajaran yang diselenggarakan serta juga dapat dengan pasti mengetahui kompetensi dan tujuan pembelajaran yang diikuti oleh masing – masing saliknya

Secara sederhana dapat disampaikan bahwa tujuan dari pembelajaran tasawuf itu adalah untuk menumbuhkan, mengembangkan dan memperteguh keimanan kepada Allah SWT sehingga tercapai makrifat atau suatu kondisi penyaksian dalam diri akan kekuasaan dan keberadaan Allah dalam setiap hidup dan kehidupan yang dilalui manusia, sehingga setelah melewati maqam taubat, seorang salik akan dibimbing untuk mengenal Allah sebagi satu – satunya Tuhan yang berhak untuk diibadahi dalam maqam pembelajaran ilmu tasawuf pada tahapan – tahapan selanjutnya

Pada tahapan ini ( mengenal Allah ) hanya tersedia dua jalan yang bisa dilewati yaitu “ Ketika Allah Telah Memperkenalkan Dirinya Sendiri Melalui Ilmu – Nya Kepada Setiap Jiwa yang Dikehendaki-Nya ” dan “ Mengenal Allah Melalui Bimbingan Jiwa Yang Allah Sudah Memperkenalkan Diri – Nya kepadanya “  atau “ kepada seseorang yang sudah mengenal Allah sebagai Tujuan dari Sekalian Sembah

Secara logika, tentunya akan mustahil kita akan sampai kepada satu tujuan yang akan kita capai apabila kita dibimbing dan mengikuti petunjuk jalan dari seseorang yang sama sekali tidak tahu arah jalan yang akan dilewati dan jalan yang paling mudah untuk dilewati serta tempat atau tujuan yang akan dituju. Bagaimana mungkin seorang penunjuk jalan bisa membimbing kita ketempat tujuan, sementara dia sendiri tidak tahu tujuan yang akan dituju dan jalan mana yang harus dilewati

Malikat jibril AS sebagai Ruh Kudus, tahu persis keberadaan Allah dan tahu persis jalan – jalan yang bisa dilewati untuk bertemu dengan Allah, sehingga, kehadiran malaikat Jibril AS yang mendampingi Rasulullah dalam perjalanan Israk dan mikraj untuk menemui Tuhannya sudah cukup menjadi dalil dari sedikit hikmah yang bisa dipetik dari kisah perjalanan Israk dan Mikraj Rasulullah yang penuh hikmat itu.

Perlu dipahami juga, bahwa sesungguhnya malaikat Jibril AS hanya bisa mengantarkan dan membimbing perjalanan Rasulullah sampai batas langit ke tujuh saja yaitu batas alam tertinggi bisa ditembus oleh akal. Menuju Sidratul Muntaha dan seterusnya yang merupakan alam iman, malaikat Jibril AS tidak lagi mampu menembus alam iman Rasulullah, sehngga Rasulullah harus berjalan sendiri bertemu Tuhannya tanpa ditemani malikat Jibril AS

Ketidakhadiran maikat Jibril AS dalam perjalalan Rasulullah menuju Tuhannya haruslah dipahami bukan dalam konsep ketidakmampuan malikat Jibril AS untuk bertemu dan berkomunikasi dengan Allah sebagai Tuhannya. Jibril adalah Roh Kudus yang menerima langsung kalamullah yang akan di sampaikan kepada Rasulullah, sehingga pertemuan dan komukasi antara Tuhan dan jibril secara langsung dalam format yang lain bukanlah sesuatu yang mustahil. Ketidak hadiran malikat Jibril dalam menemani Rasulullah, haruslah dipahami sebagai kemandirian iman dan keimanan Rasulullah sebagai makluk mulia

Demikian juga peran seorang mursyid dalam pembelajaran tasawuf bagi seorang saliknya hanya berperan mengantar dan membimbing saliknya hanya sampai di depan gerbang tauhid saja, selanjutnya sang saliklah yang akan melangkah sendiri untuk bertemu dan berkomunikasi dengan Tuhannya, Sang mursyid hanya akan membimbing dan mengantarkan agar sang salik tidak tersesat dalam perjalannya menuju Tuhannya

Jadi, jika pembelajaran tauhid tanpa perantara dan bimbingan seorang mursyid yang bijak sangatlah tidak dianjurkan, karena tanpa kehadiran seorang mursyid, disamping silsilah ilmunya tidak jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, peran mursyid tersebut akan bisa saja digantikan oleh Iblis karena iblis juga sudah pernah bertemu dengan Tuhannya yang akhirnya melahirkan kesombongan dan keangkuhan serta kedurhakaan yang tak terampuni ( kajian hakikat mursyid )

3 Comments to "Hakikat Mursyid dan Silsilah Ilmu Tauhid"

  1. eWan's Gravatar eWan
    November 26, 2012 - 12:57 pm | Permalink

    Untuk kepentingan diri semata-mata adalah racun berbisa bagi seorang murid yang baru belajar berjalan. Nabi Khidir AS menerima Nabi Musa AS sebagai muridnya, tetapi dengan syarat Nabi Musa AS jangan bertanya apa saja yang beliau lakukan dihadapan matanya….

    Nabi Khidir memaafkan Nabi Musa AS berkenaan perkara menenggelamkan kapal dan membunuh seorang kanak-kanak. Apabila beliau ditanya mengapa
    tidak mahu menerima upah bayaran kerana membaiki tembok, Nabi Khidir tidak mahu lagi menerima Nabi Musa AS sebagai muridnya…

    Kedua-dua soalan yang pertama itu adalah untuk kepentingan Syariat. Manakala soalan yang terakhir itu adalah untuk kepentingan diri.. (Rujuk Surah Kahfi : Ayat 60 – 82).

  2. eWan's Gravatar eWan
    November 27, 2012 - 3:36 am | Permalink

    Firman Allah : “Maha Suci (Tuhan) yang memperjalankan Hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari, dari Masjidil Haram kemasjid yang jauh (Baitul Muqaddis) yang telah telah Kami berkati sekelilingnya, supaya Kami perlihatkan kepadanya sebahagian ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Surah Al-Israq : Ayat 1/111).

    Ruh Manusia tidak serupa dengan Ruh Malaikat, kerana Ruh Manusia boleh naik lagi keperingkat yang lebeh tinggi seperti Alam Jabarut dan Alam
    Lahut. Malaikat diAlam Malakut tetap dengan tempatnya. Pada malam Mikraj, Malaikat Jibrail berkata kepada Nabi Muhammad SAW sebagai menjawab permintaan Nabi supaya menemani baginda naik lebeh tinggi lagi dari Sidaratul Muntaha : “Jika saya terbang selangkah lagi, nescaya Cahaya KeAgungan Allah akan membakar sayapku”.

    Sebelum peristiwa Israq Mikraj Nabi Muhammad SAW telah dibimbing oleh Malaikat Jibrail, tatakala sepanjang baginda berada diAlam Pertapaan selama 44 hari diGua Hiraq. Maka dari sinilah ada sesetengah ajaran Tareqat, Guru Mursyidnya mewajibkan Anak-Anak Muridnya supaya bersuluk selama 44 hari, kerana mengambil sempena berkat perjalanannya Junjungan Agung kita Nabi Muhammad SAW….

  3. December 2, 2012 - 8:21 pm | Permalink

    trims infonya..sangat bermanfaat sob…

Leave a Reply