Introspeksi Diri

Introspeksi Diri. Guna memberi arti dalam kehidupan ini khususnya bagi seorang pribadi muslim, berperilaku terpuji adalah jalannya. Islam menyebutnya Fastabiqul Khairat, melanggengkan hubungan dengan Allah, selalu merawat cinta kasih antar sesama manusia plus menjaga dan melestarikan alam semesta beserta isinya, merupakan bentuk perealisasiannya.

Setiap kebaikan yang dilakukan umat Islam dalam berbagai sisi kehidupan ini akan menjelma menjadi amal shaleh yang akan dibalasi pahala oleh Allah Swt. Terciptanya kehidupan yang harmonis,aman dan tentram merupakan keinginan kolektif manusia, yang juga merupakan rahmat dan karunia yang tak ternilai dari Allah Swt. Sebaliknya ditimpakannya musibah dan bencana merupakan sebuah peringatan dari Allah agar manusia itu menyadari kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya selama ini agar kembali kejalan yang benar.

Setiap bencana yang datang, hal pertama yang menjadi bahan perdebatan dari dulu sampai sekarang adalah masalah penyebabnya secara material saja. Artinya pihak – pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap satu musibah selalu mencari jalan bahwa musibah ini bukan disebabkan oleh faktor kelalaian dari manusia saja, faktor alam dan cuaca sering kali kena tuduh dari setiap musibah yang terjadi.

Hal ini memang sangat penting untuk dibahas guna menemukan solusinya,  dikarenakan setiap kali bencana datang sangat erat kaitannya dengan tanggungjawab dan tugas serta pola kerja dari manusia itu didalam mengemban amanah. Jadi untuk mengatasi dan menangulangi setiap musibah itu tidak cukup dengan saling tuding dan menyalahkan faktor – faktor sebagaimana disebutkan diatas saja.

Ada hal yang jauh lebih penting lagi yang harus selalu diingat oleh manusia yaitu meintrospeksi diri masing-masing kita, kesalahan dan dosa apakah yang telah diperbuat terhadap Allah dan manusia sehingga diturunkan-Nya berbagai bentuk musibah dan bencana yang datang silih berganti ini.

Dimulai dari musibah Tsunami di Aceh, akhir tahun 2004 lalu, gempa diberbagai daerah,angin puting beliung, kecelakaan didarat, dilaut dan diudara yang skalanya semakin meningkat dari tahun ketahun, banjir diberbagai daerah dan kota besar sampai ambruknya tanggul Situ Gintung jumat pagi 27 Maret 2009 lalu yang memakan korban lebih dari 100 ribu orang dan puluhan lainnya masih dalam pencarian, serta tanah longsor

Kita saksikan, darah berceceran dimana – mana seiring jerit tangis yang hamper tak terdengar, raungan mobil jenazah susul – menyusul mengangkat korban yang masih bisa diselamatkan maupun yang sudah meninggal, isak tangis keluarga korban yang memilukan hati setiap orang yang mendengarnya dsb. Selanjutnya puluhan bahkan ratusan manusia harus rela tidur berdesak – desakan dipengungsian, makan seadanya, tidur hanya berselimutkan kain bekas karena pemukiman mereka yang dulunya indah dan menawan digantikan oleh puing -puing reruntuhan yang telah rata dengan tanah, mereka menunggu datangnya jawaban dari kita saudaranya.

Mengapa negeri ini tak henti – hentinya didera musibah dan bencana ? apakah tuhan sudah begitu marahnya pada kita ?,atau manusia itu sendiri yang telah lari dari apa yang seharusnya dijalankan dengan benar dan sebaik-baiknya sehingga Allah Swt marah dalam bentuk murkanya alam ?,sementara manusia lainya semakin larut dalam gemerlapnya dunia ini. Dalam kondisi ini apa yang bisa diperbuat manusia?. Allah murka, alam ikut – ikutan marah sementara manusia hanya bisa pasrah dalam penyesalan yang tiada arti, inilah akibat dari perbuatan mereka sendiri.

Berfirman Allah.” Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri, supaya Allah merasakan sebagian (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali kejalan yang benar.” (Qs Ar Ruum : 41)

Khusus tragedi jebolnya waduk Situ Gintung akhir maret lalu yang telah menyentakan kita semua tidak terlepas dari amanah yang telah disia – siakan oleh para pemimpin khususnya didaerah sekitar waduk tersebut. Diberitakan berbagai media, warga sekitar waduk sebenarnya sudah melihat dan merasakan tanda -tanda akan runtuhnya pondasi waduk yang mengarah kepemukiman warga, dan sudah dilaporkan berulang kali pada pihak pengelolanya beberapa bulan sebelumnya. Namun, dari pihak pengelola yang telah diserahi amanah dan tanggungjawab tidak melakukan tindakan apa-apa. Dan pada akhirnya Jumat subuh tanggal 27 maret 2009 waduk tersebut memuntahkan jutaan kubik air,lumpur dan bebatuan.

Kalau ditelaah peristiwa ini diluar konteks takdir, terindikasi bahwa pengelolanya telah menyalahi tugas dan wewenangnya dalam mengemban amanah. Lebih jauh, setiap bencana dan musibah apapun bentuknya mensia-siakan amanah ini acap kali menjadi penyebab utamanya, ditambah lagi dengan faktor alam dan human error (kesalahan/ketololan manusia).

Kembali menumbuhkan sikap tanggungjawab dalam mengemban amanah harus secepatnya dilakukan, kalau negeri ini ingin selamat dari segala kesulitan hidup, musibah dan bencana.

Apa itu amanah dan kenapa manusia suka mensia-siakannya serta seberapa pentingkah amanah khususnya dalam ajaran Islam ?.

Kata amanah masih seakar dengan kata iman yang berarti dapat dipercaya. Maka, semakin tinggi tingkat iman seseorang maka harus semakin tinggi pula tingkat amanah dalam menjalankan  apapun bentuk tugasnya. Dalam ajaran Islam amanah merupakan ikrar untuk komitmen dalam memelihara kepercayaan orang lain dengan penuh rasa tulus ikhlas dan tanggungjawab yang besar.

Amanah kalau sudah diserahkan secara penuh pada seseorang bagaimanapun harus dijalankan dengan sikap tanggungjawab dan penuh dengan ketelitian dan kehati – hatian. Apalagi bagi seorang pemimpin yang telah diamanahi Allah untuk memimpin dan membimbing rakyat, bangsa dan negara ini menuju pada kehidupan yang diberkahi-Nya.

Pertanggungjawaban seorang pemimpin itu bukan saja terhadap rakyatnya saja, namun dihadapan Allah kelak semua itu akan dipertanya kembali. Tidak ada manusia yang bisa menyembunyikan segala sesuatu, kecuali Allah Swt tampakkan semuanya termasuk amanahnya selama hidup diatas dunia ini.

Kepemimpinan manusia dibumi ini hendaknya dilaksanakan dengan sungguh – sungguh dan penuh rasa tanggungjawab, manusia dituntut mengemban amanah sebagai wakil Allah dipermukaan bumi ini. Melestarikan alam dan mensejahterakan rakyat, hidup saling tolong – menolong dalam merajut rasa persaudaraan antar sesama umat manusia dsb, merupakan tugas utama dari manusia itu.

Seperti yang telah dipahami bahwa memelihara dan menjalankan amanah menurut aturannya erat sekali korelasinya dengan iman. Sedangkan iman adalah pengakuan, janji atau ikrar yang berbuah keyakinan. Mengingkari dan lari dari amanah dan tanggungjawab yang telah dterima bukanlah perilaku seorang muslim sejati. Berfirman Allah.” Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah itu setelah diikrarkan, sedangkan kamu telah menjadikan Allah sebagai saksi (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Qs An Nahl : 91). yang terjadi di Ranahminang (tanah datar) 30 Maret 2009 lalu yang memporak – porandakan sawah, ladang dan perkampungan penduduk.dan berita teranyar jatuhnya sebuah pesawat Foker angkatan udara yang merenggut nyawa beberapa orang perwira dan prajurit dari angkatan udara kita. Ini merupakan rentetan musibah dan bencana yang telah menelan korban nyawa dan materi yang tidak sedikit.

Sangat kita sesali dalam kehidupan manusia telah banyak terjadi pertentangan yang menjurus pada sikap permusuhan. Mereka tidak menyadari perilaku seperti ini telah merobek – robek dan menginjak – injak harga diri dan derajat manusia itu sendiri. Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, saling menghancurkan, hina-menghina, suka bikin onar dan tindakan sewenang – wenang dan penindasan terhadap kaum lemah serta melontarkan berbagai janji – janji yang tak akan mungkin tertepati dan perbuatan mungkar lainnya, telah menjadi preseden buruk dan dosa sosial yang menyelubungi kehidupan dimasyarakat kita saat ini.

Inilah tandanya bahwa iman dan rantai amanah itu telah putus satu demi satu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama hanya dijadikan simbol guna meraih suatu keinginan, perilaku dan tindak – tanduk sangat berseberangan dengan ajaran agama tersebut. Dalam keadaan seperti ini masih pantaskah manusia itu disebut sebagai makhluk paling malia yang beragama dan bertuhan ?

Amanah harus selalu dijaga dan dipelihara, ikhlas dalam menjalankannya. ” Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kalian untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pelajaran yang sebaik – baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah maha mendengar lagi maha melihat.” (Qs An Nisa : 58).

Tak bisa disangkal lagi akibat perilaku manusia yang suka mengkhianati amanah dan suka membuat kerusakan demi kepuasan nafsu segelintir orang, telah rela mengorbankan kehidupan orang lain. Kehidupan anak cucu kita kedepannya kini semakin terancam, kerusakan alam dan ekosistim lainya terus mengancam kita. Langkah yang harus segera kita lakukan adalah meintrospeksi diri dengan melaksanakan segala suruhan yang berkorelasi dengan peningkatan amal ibadah. Membuang jauh-jauh sifat – sifat tercela yang dilandasi hawa nafsu dan terlalu cinta pada kehidupan dunia dsb.

Allah Swtpun tidak menginginkan musibah dan bencana apapun menimpa ciptaanya khususnya umat manusia dipermukaan bumi ini. Namun keingkaran dan nafsu yang dibelenggu keserakahan telah membawa peradapan manusia pada titik nadir penderitaan. Pil pahit penderitaan itu harus kita telan mentah -mentah, sadarilah, kesalahan, kelalaian sampai pada perbuatan dosa dan maksiat semakin mempurukkan dari segala sisi kehidupan ini.

Marilah kita sama – sama kembali introspeksi diri, dosa apakah yang telah kita perbuat sehingga Allah murka, kesalahan apakah yang telah dihidangkan pada sesama manusia sehingga alam ikut – ikutan marah dalam rupa bencana dan musibah ysng datang silih berganti. ” Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka itu dari kesalahan (dosa)mu sendiri….( Qs An Nisa : 79). Allah Hu A’llam… [ Penulis : Penggiat Dakwah dan Pemerhati Masalah Sosial ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.