Hakikat Gairah Dalam Diri

Hakikat Gairah Dalam Diri. Semangat atau Gairah bisa diartikan suatu dorongan yang berasal dari hati sanubari untuk melakukan sesuatu yang bisa diterima oleh akal. Karena semangat atau gairah ini bersumber dari hati, maka semangat itu timbul dari sebuah keyakinan yang diterima atau cocok dengan pertimbangan akal, sehingga naik turunnya semangat sangat tergantung dengan keyakinan hati dan kemampuan akal dalam mencari dan menemukan serta memberikan pembenaran dari apa yang telah diyakini hati sanubari tersebut.

Berbeda dengan nafsu yang merupakan suatu dorongan yang berasal dari akal baik melalui pertimbangan hati sanubari atau tidak. Apabila hati sanubari tidak memberikan pertimbangan pembenaran secara pantas, maka akal akan berusaha mencari pembenaran sendiri untuk melahirkan gairah yang didorong oleh nafsu dalam melakukan tindakan. Kondisi ini kemudian disebut dengan gairah nafsu

Melalui paragraf singkat di atas dapat difahami bahwa semangat atau gairah yang menjadi pokok dalam kajian kali ini poisisinya berada antara akal dan hati sanubari sehingga semangat atau gairah ini adalah bagian yang memberikan rasa di dalam diri seperti rasa senang, rasa suka, rasa sakit, rasa letih dan lain sebagainya.

Rasa itu kemudian diterjemahkan oleh hati dalam bentuk reaksi. Ketika semangat atau gairah merasakan kesenangan, maka hati akan memberikan sinyal penambahan atau peningkatan reaksi yang disetujui oleh akal dan demikian juga sebaliknya ketika semangat atau gairah merasakan sakit atau letih, maka hati akan memberikan reaksi sinyal penurunan terhadap tubuh, sehingga gerakan tubuh jadi melambat bahkan sampai terhenti sama sekali.

Karena posisinya yang berfungsi sebagai penghubung antara hati dan akal dan pengaruhnya terhadap reaksi tubuh atas rasa yang ditimbulkannya, maka gairah ini merupakan salah satu pintu tempat masuknya segala sesuatu yang mempengaruhi hati dan akal.

Jika gairah lebih banyak disusupi oleh pengaruh keduniawian, maka gairah yang timbul justru lebih banyak dikendalikan oleh akal dan nafsu dan jika gairah ini terbebas dari pengaruh penyusupan faham keduniawian, maka gairah yang timbul adalah gairah yng terlahir dari hati dibawah kendali iman

Persolan gairah ini menjadi sangat penting ketika gairah itu berhubungan dengan ritual ibadah yang dilakukan. Gairah yang berasal dari pengaruh keduniawian akan melahirkan sifat sombong dan riya serta sejenis penyakit hati lainnya yang menyebabkan seluruh ritual peribadatan yang dilaksanakan menjadi sia-sia dan tidak bernilai sama sekali dihadapan Allah dan apabila gairah itu terbebas dari pengaruh keduniawian, maka setiap ritual peribadatan yang dilakukan akan melahirkan keikhlasan dan ketertundukan atas dasar cinta dan pengabdian terhadap Zat Sang Pemberi Perintah.

Pembersihan diri, pada hakikatnya adalah pembersihan gairah dalam diri dari pengaruh-pengaruh duniawi yang menyesatkan serta mengembalikan gairah tersebut kepada posisi yang sesungguhnya yaitu kedalam sifat Allah, sehingga setiap kecintaan yang timbul dari dalam diri adalah kecintaan yang dilandasi kepada keimanan dan ketertundukan yang muncul adalah rasa takut apabila pengabdian yang dilakukan tidak diterima. Kepasrahan yang dirasakan adalah keikhlasan bahwa Allah Maha Kuasa untuk berbuat segala sesuatu sesuai dengan Kehendak-Nya

Dengan memasukkan atau menempatkan gairah kedalam sifat Tuhan, maka pada saat itu yang menjadi semangat dalam diri kita adalah semangat yang berasal dari Zat Tuhan yang benama Allah, sakit dan letih yang dirasakan adalah kehendak Allah. Membenci setiap sesuatu yang dibenci Allah, Rasa cinta yang terlahir dalam diri hanya tersebab karena Allah mencintanya serta rasa senang yang dirasakan disebabkan Allah menyenanginya. Marah yang timbul dari dalam diri pada hakikatnya disebabakan Marah-Nya Allah. Tiada daya tiada kekuatan kecuali atas kehendak Allah semata

Semua itu merupakan suatu refleksi dan perwujudan dari sifat zat yang dilahirkan dari dorongan hati sanubari yang bersih dan suci dari pengaruh nafsu dunia dan syetan. Tidak ada sakit, tidak ada senang, tiada duka, tiada suka. Hidup tenggelam dan larut dalam kuasa Allah yang tak berbatas. Hilang dalam tebaran damai irama kekuasaan Allah yang meliputi sekalian alam. Pada saat itu tidak ada hasrat, tidak ada lagi do’a yang terucap, tidak ada lagi niat dan harapan yang akan dikabulkan. Ketika Allah bekata ” Jadi ” ( Kun ), maka ” Jadilah Dia ” ( Fayakun ). Amin. [ kajian hakikat diri ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.