Akhlak Benteng Syariat

Akhlak Benteng Syariat. Secara sangat realistis Islam sebagai agama yang lurus menekankan bahwa infrastuktur dunia ini sebagai jembatan emas yang harus di manfaatkan dan di raih menuju pada kehidupan abadi ( Akhirat ). Manakala jembatan dunia hancur, maka akan hancur pulalah kehidupan akhirat. Hal ini tergambar dari seorang muslim yang senantiasa mengacu pada dua dimensidoa yang berpedoman pada kehidupan dunia dan akhirat. Waminhum man yaqullu, Rabbana atina fiddunia hasanatan wafillakhirati hasanah waqina azabanar. “Dan di antara mereka ada yang berdoa. Yaa tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka “.( Qs Al Baqarah-201 ). Dalam doa di atas terlihat dunia dulu yang kita ucapkan, yang memeberikan makna tundukan / kendalikan dulu segala hal yang bersifat fana, niscaya kita akan mampu meraih akhirat. Ungkapan ini tidak boleh di tafsirkan secara parsial tetapi harus di hayati secara serius. Tak mungkin kita membuang sesuatu dari dua komponen yang saling terkait, itulah ungkapan sederhananya ( dunia wal akhirat ). Hidup yang di landasi ilmu yang bermanfaat dan akhlak mulia serta mati dalam keadaan Islam dan Iman.

Akhlak, memiliki pengertian yang sangat luas dan memiliki perbedaan yang sangat siqnifikan dengan istilah moral dan etika. Standar atau ukuran baik-buruk akhlak adalah berdasarkan pada Al Quran dan Sunah Nabi Saw sehingga bersifat temporal dan abadi. Sedangkan moral selalu di kaitkan dengan ajaran baik dan buruk yang di terima umum oleh lapisan masyarakat dan yang menjadi standarisasinya adalah Adat Istiadat. Di Minangkabau adat istiadat itu sejak dulunya memang sudah bersendikan Kitabullah ( Al Quran ) yang jelas akan abadi ( Al Qurannya ) yang di istilahkan dengan ABS-SBK Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Namun, sudahkan prilaku / akhlak kita sepenuhnya sesuai dengan Kitabullah dan Sunah Saw ? atau paling kurang mendekati pada kedua dasar tersebut di atas ?. Sementara itu etika lebih dominan di konotasikan dengan ilmu atau filsafat yang berstandarkan sepenuhnya pada akal. Oleh karena itu hal ini menyebabkan nilai moral dan etika bersifat lokal dan temporal.

Bebeberapa pendapat pakar Islam memberikan pengertian akhlak secara terminologi ( istilah ), diantaranya menurut Ibnu Maskawiah ( 421.H / 1030.M ) menurut beliau akhlak merupakan keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tampa melalui pemikiran dan pertimbangan. Sementara menurut Hujjatul Islam Imam Al Gazali ( 1059-1111.M ) memberikan devinisi akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, tampa memerlukan pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan. Sejalan dengan pendapat di atas, dalam Mu’jamal-Wasith, Ibrahim Anas mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahir macam-macam perbuatan baik atau buruk tampa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan

Apapun devinisi akhlak tersebut muaranya adalah tingkah laku atau perbuatan yang secara garis besarnya akan membentuk kepribadian seseorang, apakah kepribadian seseorang itu sesuai menurut aturan agama atau malah sebaliknya. Singkatnya akhlak adalah alat untuk mengetahui ukuran baik dan buruk yang lahir dari dalam diri manusia bisa secara alami bisa juga secara tidak alami . Walaupun demikian mengukur akhlak tidak semudah mengukur sesuatu yang real, akhlak itu sendiri tidak real. Lalu dengan apa kita mengukur akhlak tersebut ?. Ada yang mengukurnya dengan adat kabiasaan, yang akan selalu mempengaruhi manusia itu kapan dan di manapun, paling kurang akan selalu mengikuti saja ( bertaqlid ) kepada kaumnya / lingkunganya dalam segala perbuatan yang bersifat umum. Yang terkadang tidak memperdulikan apakah suatu hal itu masuk akal ( rasional ) atau tidak masuk akal ( irasional ) bahkan sampai mengingkari hati nurani manusia itu sendiri.

Selain itu adalagi manusia yang mengukur akhlak itu dari segi kebahagiaan atau kesenanganan yang dapat di raihnya seperti aliran akhlak Hedonisme. Aliran akhlak ini berpendapat ukuran baik dan buruk adalah kebahagiaan atau kesenangansemata, dengan kata lain bahwa kebahagiaan itu adalah tujuan akhir dari manusia. Sedangkan menurut mereka yang di maksud kebahagiaan adalah kesenangan, keenakan yang terluput dari penderitaan, bencana dan kesusahan, aliran ini memegang satu prinsip bahwa seharusnya orang mencari kesenangan, keenakan yang sebesar-besarnya, begitu juga dalam hal pekerjaan akan selalu memilih yang paling besar / banyak tingkat kesenanganya. Dan masih banyak lagi aliran akhlak lainya seperti aliran akhlak Instuisi, Evolusi dsb. Ajaran Islam sebagai agama yang di ridhoi Allah Swt memberikan tuntutan pada manusia melalui Rasulullah Saw tentang bagaimana seharusnya manusia itu mampu menjadikan dunia ini sebagai ladang untuk menaburkan amal ibadah hanya pada Allah Saw semata. Sejarah tentang hal ini pada setiap periode dan setiap generasi telah membuktikan bahwa syariat Islam khususnya, hanya dapat di realisasikan dengan baik dan sempurna apabila di dukung akhlak yang mulia atau tabiat / tingkah laku yang baik pada setiap insan muslim tampa kecuali, dimanapun dan kapanpun.

Akhlak penyempurna keimanan, kita harus mendukung akan hal ini. Namun, keimanan yang semata-mata berbentuk pengetahuan tentang keesaan tuhan, ibadah yang semata-mata berupa gerak-gerik dan tata tertib ( nidham ) yang hanya berbentuk undang-undang / hukum, tidaklah akan mendatangkan / menghadirkan kemakmuran bersama, keadilan sosial, kebahagiaan dsb, bilamana tidak di dukung oleh akhlak karimah dalam setiap pribadi anggota masyarakat terutama umat Islam itu sendiri. Akhlak yang di tuntut itu adalah akhlak yang bersendikan agama, bukanlah sekedar mengetahui ilmunya saja, bukanlah sekedar mengetahui bahwa kebenaran itu adalah mulia dan dusta / kebohongan itu adalah suatu kehinaan, bukan pula sekedar hapal bahwa ikhlas itu agung sedangkan tipu daya adalah kehancuran. Jelasnya, visi Islam yang biasa di perdengarkan akan berjalan pincang dan tertatih-tatih manakala tidak ada keselarasan, keseimbangan, keharmonisan antara sub-disiplin aqidah, syariat dan akhlak sebagai mata rantai untuk membentengi keimanan umat Islam.

Akhlak yang di tuntut dalam setiap pribadi muslim / muslimah tampa kecuali adalah akhlak yang bisa mengantarkanya pada sifat kesempurnaan keimanan.Yang akan terus memotivasi dirinya untuk bisa melakukan apa yang patut dan sepantasnya di lakukan, dan meninggalkan apa yang seharusnya tidak di lakukan. Akhlak seperti inilah yang selalu di ajarkan Rasulullah Saw yang akan bisa menjadi benteng bagi syariat dan memperkuat keimanan. Seperti yang telah beliau sabdakan “ Orang mukmin yang sempurna imanya adalah orang yang terbaik budi pekertinya “. “ Tiada yang lebih berat timbangan seorang mukmin di hari kiamat dari pada keindahan akhlaknya. Sesungguhnya Allah benci pada orang yang keji mulut dan kelakuanya “. ( Hr. Tarmizi ). Semoga Allah yang maha kuasa dan maha suci dari segala-galanya selalu menumbuhkan akhlak yang mulia dalam diri kita sebagai umat Muhammad Saw, yang juga harus kita awali dengan selalu berfikir positif, serta selalu menjadikan Akhlak mulia itu sebagai satu cita-cita yang akan membentengi keimanan dan ketaqwaan pada Allah Aza Wajalla… Allah Hu A’llam [ Terbit Pada Harian Haluan, Pada Tanggal 09 Juni 2006 – Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan Tinggal di Padang ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.