Syariat dan Hakikat Shalat

Syariat dan Hakikat Ibadah Shalat. Ibadah sesuai hukum asalnya adalah haram kecuali ada perintah yang memerintahkannya, Dan secara adat, setiap perintah, dalam konteks ibadah ini tentunya sudah disertai dengan petujuk pelaksanaan ibadah tersebut secara terang dan jelas termasuk tujuan dari dilaksanakannya suatu ibadah, seperti syarat dan rukun suatu ibadah, Sehingga setiap perintah ibadah yang tidak ditemukan dan atau tidak disertai dengan petunjuk pelaksanaannya secara jelas dan terang tidak termasuk dalam konteks ini,

Sah dan tidaknya suatu ibadah yang telah dilaksanakan, secara hukum tergantung kepada terpenuhi atau tidaknya syarat dan rukun serta hal – hal lain yang terkait dengan ibadah itu. Kalau sudah terpenuhi, maka ibadah tersebut sudah sah secara hukum

Sahnya sebuah ibadah tidak serta merta menyebabkan ibadah itu diterima dan mendapat imbalan yang pantas dari Sang Pemberi Perintah, tetapi sahnya ibadah itu hanya menggugurkan kewajiban pelaku atas pelaksanaan ibadah pada saat itu yaitu perintah telah dilaksanakan

Untuk mengetahui diterima atau tidaknya suatu ibadah dapat dilihat dengan tercapainya sebagain atau keseluruhan tujuan dari ibadah yang perintahkan itu. Seperti salah satu dari tujuan pelaksanaan ibadah shalat adalah “ mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar “. Sehingga terhindarnya seseorang dari perbuatan keji dan mungkar baik kekejian dan kemungkaran yang berasal dari dirinya sendiri atau Kekejian yang berasal dari orang lain , merupakan salah satu indikasi telah diterimanya ibadah shalatnya

Selanjutnya perlu difahami bahwa, diterimanya ibadah shalat juga tidak serta merta ibadah shalat itu bernilai di sisi Allah SWT karena ada ibadah shalat itu setelah diterima tentu akan dilanjutkan dengan penilaian atau evaluasi atas ibadah itu.

Dari penilaian yang dilakukan akan didapat hasil apakah ibadah shalat itu bernilai sempurna, baik atau buruk. Tentang nilai ibadah sahalat di hadapan Allah belum dibahas dalam kajian ini dan Insya Allah akan dibahas pada kajian – kajian selanjutnya. Pada kajian ini kita akan membatasi tentang Syarat Sahnya Shalat Secara Syariat dan Hakikatnya sehingga terlihat korelasi yang nyata dan terang antara hubungan Syariat dan Hakikat sebagai Ibadah Tauhid

Adapun syarat sahya shalat ditentukan atas 5 syarat yaitu

1. Masuk Waktu Shalat

Shalat itu adalah suatu ibadah yang ditetapkan waktunya, sehingga tidak sah shalat seseorang itu apabila tidak dilaksanakan pada waktu yang telah ditetapkan itu

“ Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman “. ( QS : 004 : An Nisaa : Ayat : 103 )

Masuknya waktu secara syariat adalah memandang telah tergelincirnya matahari dan lain sebagainya dan hakikatnya adalah memandang nyata sifat Tuhan pada diri kita yang batin

2. Menutup Aurat.

Pengertian menutup aurat adalah menutup permukaan kulit sesuai dengan batasan – batasan yang dikatakan aurat dengan pakaian atau yang dianggap pakaian atau yang disamakan dengan itu

Dari Ummu Salamah : Dia pernah bertanya kepada Nabi salallaahu ‘alaihi wasallam, “Apakah seorang wanita itu boleh sholat dengan mengenakan baju panjang dan penutup kepala tanpa mengenakan kain?” Beliau menjawab, ” Boleh, jika baju itu luas yang biasa menutupi kedua punggung telapak kakinya.” ( HR : Abu Dawud ).

Menutup aurat secara syariat adalah menutup permukaan kulit ( yaitu dengan tidak menampakkanya ) dengan pakaian atau kain atau yang dianggap pakaian atau yang disamakan dengan itu dan tidak termasuk didalamnya menutup dengan cat atau lumpur atau yang disamakan dengan itu dan hakikatnya adalah meliputi tubuh kita yang kasar dengan diri kita yang batin dan selanjutnya meliputi diri kita yang batin dengan sifat Tuhan

 3. Suci Tubuh dari Hadas dan Najis

Suci tidak sama dengan bersih atau steril karena makna suci secara syariat harus memenuhi beberapa syarat yang ditetapakan oleh hukum syariat. Hadas besar di sucikan dengan mandi, hadas kecil disucikan dengan wudhuk sedangkan najis disucikan dengan beberapa cara yang sudah ditetapkan dalam hukum fiqih thaharah

” Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`.” (Muttafaqun ‘alaih)

” Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci.” ( HR : Muslim )

Suci Tubuh dari Hadas dan Najis secara syariat adalah suci tubuh dari pada hal – hal yang nyata atau tersebunyi termasuk anggota wudhuk yang meneyebabkan tidak sah atau batalnya shalat dan hakikatnya adalah Suci diri dari sekalian nafsu dunia dan syetan

4. Suci Pakaian dan Tempat

Maksud dari suci pakaian dan tempat artinya pakaian yang dipakai untuk menutup aurat yang sudah suci dan disucikan itu juga harus suci dari sekalian najis karena menutup yang suci dengan yang najis atau menutup yang najis dengan yang suci tidak menghilangkan sifat kenajisannya tetapi keduanya akan dihukum sama dengan hukum asalnya yaitu najis. Sedangkan sedikit atau banyaknya kadar kenajisannya tetap dihukum sama karena “ bila sedikitnya najis, maka banyaknya juga najis “. Demikian juga halnya tepat seperti tanah, lantai, tikar, karpet dan atau sajadah tempat sahalat juga harus suci dari najis

” Dan pakaianmu, maka sucikanlah.” ( QS : 074 : Al Muddatsir : Ayat 04 )

“ Dari Asma binti Abu Bakar radhiallahu’anhuma, dia berkata: Seorang wanita datang (menemui) Nabi sallallahu’alaihi wasallam dan bertanya: “Bagaiamana pendapat anda, salah seorang di antara kami sedang haid, lalu mengenai baju. Apa yang dia perbuat? (beliau) menjawab: “Hendaknya dia  garuk, kemudian dibersihkan dan disiram dengan air, lalu dia boleh shalat (dengan memakai baju tersebut)”. ( HR Bukhari )

Suci pakaian dan tempat secara syariatnya adalah suci pakaian dan tempat dari segala kotoran dan sekalian najis dan hakikatnya adalah bahwa tubuh kita yang kasar ini adalah kotoran disisi Allah, maka dibuanglah diri kita yang kasar itu maka pandanglah diri kita yang batin yaitu suatu cahaya yang amat suci lagi jernih yang terang gemerlap bercahaya, maka disitulah kita karam menyembah Tuhan kita

5. Menghadap Kiblat

Shalat itu wajib hukmnya menghadap kiblat dan tidak sah shalat seseorang itu tanpa menghadap kiblat sementara dia mampu untuk menghadapnya,

“ Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. ) ” ( QS : 002 : Al – Baqarah : Ayat 144 )

Menghadap kiblat secara syariat adalah meluruskan dada dengan Ka’bah di Mekah dan hakikatnya adalah menghadapkan tubuh kita yang kasar kepada diri kita yag batin dan selanjutnya menhadapkan diri kita yang batin kepada sifat Tuhan

 Demikian semoga bisa sedikit menjelaskan hubungan antara syariat dan hakikat dan pentingnya pembelajaran ilmu hakikat dan menjawab pertanyaan “ Apakah Ibadah Syariat Saja Sudah Cukup ? ( hakikat Ibadah )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.