Shalat Tarwih, Mengurai Simpul Yang Terbuka – 2

Shalat Tarwih, Mengurai Simpul Yang Terbuka – Memecah satu dalil menjadi dua dalil, kemudian masing – masingnya dijadikan sebagai dasar untuk pelaksanaan dua jenis ibadah yang berbeda, jelas – jelas merupakan bentuk pemaksaan dan pemerkosaan hukum dan pastinya kurang bisa diterima akal sehat.

Kalaulah pemaksaan dalil tersebut terpaksa harus diterima juga, maka mestinya pelaksanaan shalat Tarawih wajib dilaksanakan dengan cara 4 rakaat 4 rakaat dengan 2 kali salam bukan dengan cara  2 rakaat 2 rakaat dengan 4 kali salam serta shalat Witirnya harus dilaksanakan 3 rakaat dengan 1 kali salam bukan 2 rakaat kemudian salam ditambah 1 rakaat lagi kemudian salam. Apabila ini dilaksanakan tentunya tidak sesuai dengan beberapa hadist sahih yang lain yang menyatakan bahwa shalat sunat itu dilakanakan 2 rakaat 2 rakaat setiap 1 kali salam

Selain itu, maksud dari 4 rakaat dalam hadis Siti Aisyah radhiyallahu‘anha di atas, masih memiliki ihtimal ( kemungkinan ) bahwa Rasulullah melakukannya 4 rakaat dengan 1 salam, bisa juga dipahami dengan pengertian bahwa 4 rakaat yang beliau kerjakan dilaksanakan dengan memakai 2 salam yakni 2 rakaat kemudian salam 2 rakaat kemudian salam.

Jika 4 rakaat tersebut dilakukan dengan cara 2 rakaat- 2 rakaat bisa diterima, maka pendapat inilah yang lebih selamat dan bisa dipertanggungjawabkan. Sebagaimana ada keterangan hadis shahih yang mengatakan bahwa shalat malam itu dilakukan dengan cara 2 rakaat- 2 rakaat.

Sesuai dengan kaidah hukum yang menyatakan bahwa  Apabila terjadi kemungkinan-kemungkinan maka hal itu menyebabkan gugurnya Istidlal ( menjadikan dalil )”. Maksudnya adalah pendapat yang memahami 4 rakaat dikerjakan dengan sekali salam itu tidak bisa dijadikan dalil, karena pendapat itu hanya sebuah kemungkinan dan masih ada kemungkinan lain yang juga mungkin.

Sesuatu pendapat hukum dan pemahaman hukum yang mengandung “ kemungkinan “ dinyatakan gugur manakala ada dalil dan alasan yang lebih jelas. Hadis Nabi yang menyatakan shalat malam dilakukan dengan 2 rakaat  2 rakaat sangat cocok untuk mengkompromikan dan memahami hadis Siti Aisyah radhiyallahu‘anha tersebut”.

Ketika Sayidina Umar bin Khathab radhiyallahu‘anhu melakukan ijtihad dengan menyatukan para Sahabat dalam satu jamaah pada pelaksanaan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat yang dipimpin oleh seorang imam terukti tidak mendapat pertentangan dari para Sahabat yang lain bahkan setelah Sayidina Umar bin Khattab radhiyallahu‘anhu wafat, Sayidina Usman radhiyallahu‘anhu tetap melanjutkan pelaksanan shalat Tarawih dengan 20 rakaat, demikian pula dengan Sayidina Ali Karamallahu Wajhahu tetap mengerjakan shalat Tarawih seperti yang disepakati oleh para Sahabat dan sampai saat ini tidak ditemukan ada riwayat yang zhahir yang menyatakan bahwa Sayidina Ali atau Sahabat yang lain menentang pelaksanaan shalat Tarawih 20 rakaat.

Dengan tidak adanya penolakan para Sahabat terhadap keputusan yang diambil oleh Sayidina Umar bin Khatab radhiyallahu‘anhu maka otomatis keputusan itu mempunyai kekuatan hukum sendiri yang kemudian di kenal dengan “ ijmak para Sahabat “. Pelanggaran terhadap sesuatu yang sudah disepakati para Sahabat merupakan pelanggaran terhadap agama. Sehingga dalam Mazhab Syafii dinyatakan bahwa, kalau shalat Tarawih dikerjakan bukan dengan cara 2 rakaat, 2 rakaat, shalat Tarawih tersebut dipandang batal atau tidak sah.

Jika shalat Tarawih 11 rakaat dianggap pendapat yang paling benar, tentunya sampai dengan 3 abad setelah Rasulullah wafat, shalat Tarawih 11 rakaat yang dilaksanakan dengan cara berjamaah itu sudah sangat populer. Padahal dalam kenyataannya shalat Tarawih 11 rakaat baru populer pada waktu belakangan ini saja. Selain itu dalam sekian banyak riwayat, kita justru menemukan riwayat yang menjelaskan tentang tambahan rakaat shalat Tarawih seperti 36 rakaat yang dilaksanakan oleh Imam Malik, tetapi sampai saat ini kita tidak menemukan riwayat yang menyatakan bilangan rakaat shalat Tarawih kurang dari 20 rakaat.

Menurut Mazhab Syafii shalat Tarawih yang dikerjakan dengan cara 4 rakaat sekali salam hukumnya dikatakan tidak sah dengan beberapa alasan. Tetapi yang jelas alasan-alasan tersebut merupakan ittiba’ ( mengikuti ) kepada Rasulullah dan para Sahabat yang tidak boleh diganggu oleh kreasi baru, jika ada kreasi baru, maka kreasi tersebut tidak akan jelas namanya.

Jadi jelaslah bagi kita bahwa shalat Tarawih yang dimaksud adalah shalat Tarawih sebagai mana yang kita pahami seperti sekarang ini yaitu di laksanakan pada bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat dengan 10 salam dan diadakan jeda istirahat tiap – tiap 4 rakaat ( Tarawihah ) kemudian dilanjutkan dengan shalat Witir sebanyak 3 rakaat dengan 2 kali salam

Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa imam Malik menetapkan hukum kalau jumlah bilangan rakaat salat Tarawih itu adalah sebanyak 36 rakaat namun menurut imam Nawawi, riwayat yang masyhur dari Imam Malik adalah yang senada dengan pendapat jumhur dari kalangan Ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan HaNabilah yaitu 20 rakaat, maka dari itu semua Ulama 4 madzhab sudah sepakat dan telah sempurna menjadi sebuah Ijmak ( Kesepakatan Ulama ) bahwa bilangan rakaat sholat Tarawih itu adalah sekurang – kurangnya 20 rakaat bukan 8 rakaat sebagaimana yang dikampanyekan oleh orang – orang yang kurang mampu mempergunakan akal sehatnya dalam mempelajari dan menggali ajaran Islam secara benar.

Sedangkan hadis Siti Aisyah radhiyallahu‘anha di atas merupakan hadis yang menyatakan dalil shalat Witir, bukan dalil shalat Tarawih, karena shalat yang dilihat oleh Siti Aisyah radhiyallahu‘anha adalah shalat malam Rasulullah yang beliau kerjakan sepanjang tahun baik pada bulan Ramadhan dan di bulan lainnya. Oleh karenanya, sangat tepat kalau 11 rakaat yang dinyatakan dalam hadis tersebut adalah dalil untuk jumlah rakaat maksimal untuk  shalat Witir, bukan sebagai dalil shalat Tarawih. Karena shalat Witir ada di bulan Ramadhan dan di bulan lainnya. Sedangkan shalat Tarawih hanya  khusus pada bulan Ramadhan saja dan tidak ada pada bulan lainnya selain bulan Ramadhan

Shalat Tarawih hukumnya sunah muakkadah ( sunah yang sangat dianjurkan ) bagi setiap laki-laki dan perempuan yang dilaksanakan pada tiap malam selama bulan Ramadhan yang waktu pelaksanaannya mulai dari setelah shalat Isya sampai terbit fajar. Lebih utama lagi apabila shalat Tarawih dikerjakan di akhir malam sesuai dengan pendapat Syaikh Umar bin Muzhaffar bin Wardiy yang mengatakan, “ Begitu juga ( shalat yang disunahkan antara shalat Fardhu Isya sampai Fajar ) adalah shalat Tarawih sekira di fashalkan dan dilakukan setelah shalat sunah malam ( Tahajjud ) itu lebih afdhal.”

Bagi yang belum melaksanakan shalat Isya, tidak diperkenankan melakukan shalat Tarawih. Kalau dia tetap melakukannya, maka shalat Tarawihnya tidak sah sesuai dengan pendapat Syaikh Yusuf bin Ibrahim al-ArdabiliyShalat Tarawih dikerjakan 20 rakaat dengan 10 salam. Seandainya seseorang shalat 4 rakaat dengan satu salam, atau ia shalat Tartawih sebelum shalat fardhu Isya maka batal shalat Tarawihnya.”

Sebaiknya shalat tarwih dilaksanakan secara berjamaah sebagaimana yang disyariatkan oleh Syaidina Umar bin Khatab radhiyallahu‘anhu. Apabila imam memimpin pelaksanaan shalat tarwih hanya 8 rakaat ditambah Witir 3 rakaat, maka genapkanlah shalat Tarawih itu menjadi 20 rakaat dan tentunya tidak perlu melaksanakaan shalat Witir lagi bagi yang sudah melaksanakan shalat Witir dengan imam, karena hanya ada 1 shalat Witir dalam 1 malam

Jangan meninggalkan imam sebelum proses pelaksanaan shalat selesai atau sebelum imam selesai shalat karena “ Imam itu diangkat untuk diikuti.” ( HR :  Bukhari dan Muslim ). Apabila kita meninggalkan imam sebelum proses shalat berjamaah selesai maka, pahala Qiyamul Lail akan hilang atau tidak dihitung, sesuai dengan hadist Nabi SAW dari Abu Dzar radhiyallahu‘anhu,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para Sahabatnya. Lalu beliau bersabda, “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh. ” ( HR. An Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Tirmidzi ).

Dan hadist yang lain dari Abu Dzar yang mengatakan bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya. ” ( HR : . Ahmad )

Demikianlah kajian singkat “ Shalat Tarwih, Mengurai Simpul Yang Terbuka “ ini bisa bermanfaat menambah wawasan dan menjadi bahan renungan bagi kita semua agar tidak mudah terpengaruh oleh pihak – pihak yang kelihatannya benar padahal hakikatnya mereka sedang menjalankan misi adu domba untuk melemahkan aqidah Islam, karena untuk menghancurkan, mereka juga tahu kalau itu tidak mungkin. ( Hakikat Ibadah )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.