Shalat Tarawih, Mengurai Simpul Yang Terbuka – 1

Shalat Tarawih, Mengurai Simpul Yang Terbuka – Seluk beluk shalat Tarawih sebetulnya sudah selesai dibahas secara tuntas oleh ulama – ulama klasik, namun pada zaman sekarang masih saja ada sekelompok kecil orang yang mencoba dengan berbagai cara untuk membuka kembali simpul kajian yang sudah tamat itu dengan tujuan untuk mematahkah pendapat yang ada dan yang sudah diyakini kebenarannya dan diamalkan oleh para Sahabat dan para SalafuS Shalih ( ulama terdahulu )

Postingan ini disampaikan bertujuan untuk memperjelas dan mempertegas serta mengajak para pengunjung blog “ Kajian Hakikat Ilmu Tauhid “ ini untuk bisa membaca dan memandang serta memahami persoalan shalat Tarawih ini secara jernih dan jujur dengan hati yang bersih sebelum termakan dan terpengaruh oleh provokasi yang membahayakan diri sendiri dunia dan akhirat.

Postingan ini akan dimulai dari sebuah hadist sahih yang sangat terkenal karena merupakan dalil utama bagi mereka untuk mengutak – atik tentang pemahaman shalat Tarawih dan hadist ini dikenal dengan hadist Siti Aisyah radhiyallahu‘anha sebagaimana berikut ini :

Rasulullah tidak pernah melakukan shalat malam ( sepanjang tahun ) pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. Kemudian aku bertanya ”Ya Rasulullah apakah kamu tidur sebelum shalat Witir”? Kemudian beliau menjawab: ”Aisyah, meskipun kedua mataku tidur, hatiku tidaklah tidur”. (HR : Bukhari )

Hadist ini dipakai dan dipergunakan oleh mereka untuk menyalahkan dan membid’ahkan pelaksanaan shalat Tarawih 20 rakaat yang telah ditetapkan oleh Sahabat Nabi Umar bin Khathab radhiyallahu‘anhu dan tanpa mendapat bantahan dari para Sahabat Nabi yang lain sehingga secara otomatis telah menjadi dalil atau landasan hokum yang dikenal dengan “ Ijmak Sahabat “.

Mereka berpendapat bahwa shalat Tarawih itu hanya dilaksanakan sebanyak 8 rakaat ditambah 3 rakaat shalat Witir. Bahkan Mereka juga dangan gagah berani mengatakan bahwa para Sahabat Nabi yang dipimpin oleh Umar bin Khathab radhiyallahu‘anhu dahulu tidak mengikuti sunah Nabi SAW. Setidaknya itulah yang tersirat dibalik pertanyaan ” Manakah yang lebih afdhal mengerjakan shalat Tarawih sesuai dengan sunah Nabi SAW atau mengerjakan shalat Tarawih sesuai dengan hasil ijtihad Umar bin Khathab radhiyallahu‘anhu ”.?

“ Gampang – gampang susah “ memang untuk menjawab pertanyaan tersebut, apalagi sebagian kecil ( mungkin juga sebagian besar ) dari kita sebagai orang awam kurang begitu siap untuk untuk menyikapi pertanyaan jebakan seperti itu

Dikatakan “ gampang – gampang susah “ karena untuk gampangnya dalam menjawab dan penyikapi pertanyaan tersebut adalah dengan cara mempertegas pertanyaan itu dengan kalimat yang lebih jelas, tegas dan terang  yaitu ” Manakah yang lebih afdhal mengerjakan shalat Tarawih sesuai dengan sunah Nabi SAW sesuai dengan pemahaman dan ijtihad Umar bin Khathab radhiyallahu‘anhu atau mengerjakan shalat Tarawih sesuai dengan sunah Nabi SAW sesuai dengan pemahaman anda ( mereka yang bertanya )

Kalau pertanyaannya sudah dirubah seperti itu, tentunya kita dan semua orang sudah bisa menjawab dengan merujuk kepada hadist – hadist Nabi SAW berikut :

Hendaklah kalian ikuti sunahku dan sunah para Khalifah yang mendapat petunjuk setelahku, peganglah dengan kuat dan gigitlah olehmu dengan geraham ”.( HR : Imam Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Tirmidziy, al-Hakim dan Baihaqi )

“ Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar” (HR : Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Maajah )   

Kemudian, untuk kita yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah SAW tentunya akan memilih untuk mengikuti sunnah Nabi SAW sesuai dengan pemahaman dari para Sahabat Nabi SAW yang bertemu dan berguru langsung dengan beliau. Lagi pula pelaksanaan shalat Tarawih sebanyak 8 rakaat di tambah 3 rakaat shalat Witir itu tidak pernah ada, tidak pernah dijumpai serta tidak pernah dilaksanakan pada masa Sahabat dan atau pada masa Tabi’in sampai masa Tabi’ut tabi’in yang merupakan generasi – generasi terbaik Islam atau generasi SalafuS Shalih

Lagi pula sampai saat ini belum ditemukan keterangan yang benar – benar jelas tentang jumlah rakaat shalat Tarawih yang dilaksanakan Nabi SAW karena sepanjang hayat beliau tercatat hanya melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah sebanyak 2 atau 3 kali saja. Selanjutnya Beliau melaksanakan shalat Tarawih secara sendiri – sendiri ( tidak berjamaah ) dan tidak ada Sahabat yang mengetahui jumlah rakaat shalat Tarawih yang beliau laksanakan.

Sedangkan untuk jawaban “ susahnya ” tentu membutuhkan kajian dan analisa yang cukup tentang hadist Siti Aisyah radhiyallahu‘anha tersebut agar persoalannya menjadi jelas dan terang agar kita semua bisa memahami semuanya dengan benar.

Sebelum kita mencoba menganalisa hadist tersebut, mari kita mencoba memahami bahwa pada zaman Rasulullah SAW tidak di kenal adanya istilah shalat Tarawih, yang ada pada wktu itu hanyalah shalat malam yaitu shalat sunat yang dilakukan pada malam hari setelah shalat Isya sampai dengan terbit fajar, termasuk pada bulan Ramadhan dan bulan selain bulan Ramadhan

Kata Tarawih yang berarti istirahat dikenal melalui penjelasan al-Hafiz Ibn Hajar al-A’sqallani dalam kitab Fath al-Bâri Syarh al-Bukhari “ Shalat jamaah yang dilaksanakan pada setiap malam bulan Ramadhan dinamai Tarawih karena para Sahabat pertama kali melaksanakannya, beristirahat pada setiap dua kali salam “

Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Siti Aisyah radhiyallahu‘anha, ia berkata :Sering kali Rasulullah mengerjakan shalat 4 rakaat pada malam hari, lalu beliau Yatarawwah ( beristirahat ) dan beliau melamakan istirahatnya hingga aku merasa iba ”.

Menurut Imam al-Baihaqi, bahwa hadis ini diriwayatkan melalui sanad al – Mughirah dan ia bukan orang yang kuat.  Jika hadis ini memang jelas ketetapannya maka hadis inilah yang menjadi landasan Tarawihah ( istirahat ) imam pada waktu shalat Tarawih tersebut.

Adapun tujuan dari pelaksanaan shalat Tarawih itu diantaranya adalah untuk menghidupkan malam – malam bulan Ramadahan, karena itu shalat Tarawih disebut juga dengan Qiyam Ramadhan,  namun bukan berarti Qiyam Ramadhan itu hanya sebatas shalat Tarawih saja tapi shalat Tarawih itu merupakan bagian dari Qiyam Ramadhan.

Ketika disebut Qiyam Ramadhan artinya penyebutan secara umum tentang shalat – shalat yang dilaksanakan untuk menghidupkan malam – malam pada bulan Ramadahan termasuk didalamnya shalat Tarawih, tetapi ketika shalat Tarawih disebut artinya sebutan khusus untuk shalat itu saja tidak termasuk shalat – shalat yang lain yang dilaksanakan pada malam – malam Ramadahan

Pemahaman ini menjadi penting ketika ada sebagain orang berusaha mencoba dengan cukup keras untuk mengaburkan hakikat kekhususan shalat Tarawih dengan hanya menyebut keumumannya saja dengan Qiyam Ramadhan, padahal shalat Tarawih sudah mempunyai penyebutan khusus dan ketentuan yang juga khusus yang hanya ada dan dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan tidak ada pada bulan – bulan lain selain dari bulan Ramadahan

Dengan memahami kekhusussn shalat Tarawih, maka  dapatlah dengan mudah kita memahami bahwa hadist Siti Aisyah radhiyallahu‘anha di atas bukan merupakan dalil untuk pelaksanaan shalat Tarawih karena dalam hadist tersebut terdapat kalimat Pada bulan Ramadhan dan di selain Ramadhan dimana sudah diketahui bahwa selain bulan Ramadhan tidak ada dilaksanakan shalat Tarawih.

Selanjutnya angka 11 dalam rakaat shalat malam Nabi SAW tersebut adalah bilangan ganjil sedangkan shalat sunat yang rutin dilaksanakan Nabi SAW dalam hitungan bilangan rakaat ganjil adalah shalat Witir, sehingga mungkin yang dimaksud dengan shalat Nabi SAW pada hadis Siti Aisyah radhiyallahu‘anha itu adalah shalat Witir bukan shalat Tarawih karena shalat Tarawih dan shalat sunat yang lain selain shalat Witir dilaksanakan dengan jumlah rakaatnya dalam hitungan bilangan genap dan shalat Witir dilaksanakan dalam bilangan rakaat ganjil

Cara shalat yang dilaksanakan Nabi adalah 4 rakaat kemudian 4 rakaat dan 3 rakaat sehingga menjadi 11 rakaat. Artinya 11 rakaat tersebut merupakan satu kesatuan shalat untuk satu jenis shalat bukan untuk dua jenis shalat, sehingga satu dalil tidak bisa dipakai sebagai dasar untuk pelaksanaan dua jenis ibadah ( shalat Tarawih 8 rakaat dan shalat Witir 3 rakaat ) karena masing – masing dari jenis ibdah itu sudah mempunyai ketentuan sendiri – sendiri sesuai dengan kekhususannya [ ( Hakikat Ibadah ) => ( Bersambung ) ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.