Renungan Syawal

Renungan Syawal. Setelah meninggalkan Ramadhan memasuki Syawal pekerjaan berat adalah meningkatkan amaliyah secara kuantitas dan kualitas, karena “Syawal” berarti peningkatan. Berusaha meningkatkan semangat juang membela agama. Memelihara kesucian/ fitrah yang telah diraih melalui ibadah puasa juga Idul Fitri kembali kepada fitrah/ kesucian ibarat bayi baru lahir. Salah satu ajaran puasa dirasakan termotivasinya seseorang meningkatkan ibadah kepada Allah SWT, juga karena pengaruh lingkungan yang sangat kondusif.

Bila seseorang beramal yang didasari Iman dan ikhlas kepada Allah ia akan terpancing untuk lebih dapat meningkatkan ibadahnya secara kualitas dan kuantitas. Ia tidak merasakan cukup hanya berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi akan dilaksanakannya puasa-puasa sunat seperti puasa 6 hari dibulan Syawal, artinya tidak merasa puas dengan shalat tarwih dan witir di bulan Ramadhan ia akan melakukan shalat-shalat malam (tahjjud) pada hari-hari yang lain.

Ia tidak merasakan cukup hanya membantu sesama melalui zakat Fitrah tetapi akan dilanjutkan sikap dermawannya pertanda hasil didikan Ramadhan untuk membantu siapa saja yang membutuhkan dan kapan waktunya.

Di bulan Ramadhan sudah ditinggalkan telah terdidik membaca Al-Quran sendirian maupun mentadarus di Syawal tetap wiridkan terutama kapan selesai ibadah shalat Maghrib, sambil waktu Isya datang. Kebiasaan seperti ini dapat dipertahankan menunjukkan buah dari hasil tanaman selama Ramadhan peningkatan ubudiyah kepada Allah SWT. Sebaliknya seseorang tingkat amalnya dibulan Syawal lebih parah dari bulan luar Ramadhan Sya’ban sebelum Ramadhan tidak membekas sama sekali dalam hidupnya, artinya Syawal baginya tidak berarti “peningkatan” tetapi bermakna peluncuran.

Pada bulan Syawal dituntut meningkatkan semangat juang dalam diri terutama berjuang dalam menegakkan segenap ajaran Islam permukaan atau kedalam realitas kehidupan. Memang salah satu harus diperjuangkan umat Islam mendesak berusaha menegakkan ajaran Islam pada semua lini kehidupan. Diantara perjuangan sangat berat untuk umat Islam adalah amal salehat untuk diri dan masyarakat agar beramal sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah SAW.

Disinilah perjuangan yang paling berat, karena manusia berperang melawan nafsunya sendiri disadari itulah peperangan yang paling dahsyat. Sesuai apa yang disampaikan Rasulullah SAW, terhadap sahabat sekembali perang badar. “Kita baru saja kermbali dari perang yang kecil menuju peperangan yang paling besar yaitu peperangan dengan nafsu sendiri”.

Allah SWT, memperingatkan : “ Dan janganlah kamu seperti seseorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali “. ( Q.S. An-Nahl : 92). Jelas ditegaskan ayat ini perjuangan yang paling besar adalah manusia berperang dengan hawa nafsu sendiri itulah peperangan yang paling dahsyat.

Sesuai apa yang disampaikan Rasulullah SAW, pada hadis diatas terhadap para sahabat kembali dari perang badar sampai hari ini setiap diri insane yang sadar dapat merasakan dhsyatnya perjuangan tersebut. Artinya dituntut agar tidak mengalami kegagalan dalam berperang dengan nafsu sendiri, sama artinya buah puasa Ramadhan shalat tarwih dan witir jadi membusuk yang tak ada mamfaat dan tak bias jadi teman sehidup semati disebut amal salehat.

Inilah renungan Syawal yang harus dipahami. Bila Ramadhan dapat di raih hasilnya atau dipetik hasilnya dengan sukses dituntut konsentrasilah terhadap tugas berat sudah menunggu yakni menjaga fitrah kesucian tingkatkan ubudiyah dan kristalisasikanlah semangat juang demi keselamatan didunia kini dan di akhirat kelak.

Kesimpulan : Kpergian bulan Ramadhan telah dilepas secara resmi dengan melakukan shalat Idul Fitri dibanyak tempat runah iabadah serta mengumandangkan takbir hingga menggema seolah-olah umat Islam saat itu larut dalam kemenangan mengalahkan hawa nafsu lauwammahnya (nafsu yang tidak kenal kepuasan). Kedua selepasnya Ramadhan perkuat Iman beramal salehat berkata? Berwasiat dengan yang benar dan mengamalkan sifat-sifat sabar.

Inilah sesungguhnya renungan dan buah Ramadhan diamalkan pada renungan Syawal. (Berbagai sumber)….(bk).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.