Melatih lahir dan Bathin

Melatih lahir dan Bathin. Ibadah puasa Ramadhan khususnya yang diwajibkan kepada umat Islam melalui Nabi Muhammad Saw adalah bulan latihan didalam mengendalikan hati dan pikiran manusia dari segala aspek kehidupan yang cendrung pada sifat monopoli dan menguasai. Pada dasarnya ibadah puasa tidak hanya berfungsi untuk menahan dan menyetir hawa nafsu, seperti nafsu makan, minum, nafsu amarah, nafsu ingin berkuasa dsb.

Tetapi amalan yang satu ini lebih difokuskan pada penyetiran pikiran plus hati nurani agar tetap berada pada garis prinsip berfikir yang berdasarkan ajaran Islam. Disinilah letaknya keunggulan puasa  Ramadhan satu bulan penuh disamping puasa-puasa sunah lainnya. Dijelaskan,  bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan latihan dalam konteks pengendalian dan melatih diri lahir bathin, terhadap nafsu duniawi yang berlebihan, boros, serakah, sombong angkuh dan takabur.

Berpuasa pada bulan Ramadhan memiliki berbagai keistimewaan, dan ini tidak dapat dirasakan kalau kita menjalankan ibadah puasa bukan pada bulan suci ini. Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw “Mansama Ramadhana Imanan wahtisaban qufirallahu mathaqadam minzambih”. Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu “( HR. Bukhari ).

Hadis Rasulullah Saw diatas harus terus kita pelajari dan pahami untuk selanjutnya diampikasikan terutama selama bulan Ramadhan maupun diluar bulan Ramadhan. Hadis Beliau Saw tersebut mengatakan bahwa siapa saja berpuasa yang dilandasi dengan keyakinan akan adanya balasan pahala, dan tulus mengharapkan keridhaan Allah semata, maka akan diampuni dosa-dosa dan perbuatan salah yang pernah dilakukanya.

Namun,  hal ini bukan berarti selepas bulan Ramadhan nanti kita bebas lagi melakukan hal-hal yang dilarang-Nya. Puasa adalah suatu bentuk latihan akan keadaan lahir dan bathin kita, selama satu bulan penuh untuk menghadapi sebelas bulan yang akan datang. Bagaimana kita mampu mengendalikan diri, menahan emosi, sabar, ikhlas dsb selama bulan Ramadhan tersebut.

Dimana bulan penuh rahmat ini dan penuh dengan toleransi antar umat Islam yang waktu itu sama-sama berpuasa. Hal ini akan menjadi lain selepas bulan puasa dan Idul fitri nanti, dimana kesibukan kita didalam menyelesaikan segala persoalan hidup mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, dan tak jarang membuat kita lupa pada apa-apa yang diajarkan atau yang didapat selama bulan Ramadhan tersebut.

Untuk itu, agar kita dapat melaksanakan ibadah puasa dengan baik dan selalu berbekas pada tingkah laku kita sehari-hari, dengan harapan akan terlahirnya akhlak karimah melalui latihan diri sebulan penuh. Maka, sangat perlu sekali kita mengetahui bagaimana akhlak orang berpuasa tersebut diantaranya. Orang yang berpuasa itu pertama sekali harus ikhlas, karena keikhlasan yang tinggi akan memicu lahirnya nilai keimanan yang kuat dan kokoh dengan satu landasan yang menjadi esensi dari ibadah khusus ini yaitu Iman danTaqwa.

Dan hal ini telah dirangkum oleh Allah Swt dalam Qs Al Baqarah-183 “ Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa “. Keikhlasan dalam berpuasa harus mampu membawa dan membimbing hati kita sendiri yang dilakukan semata karena perintah dari sang khalik sehingga menjadi suatu kewajiban untuk menjalankannya dengan ikhlas dan penuh kekhusyukan.

Selain ikhlas kita pun harus selalu jujur didalam menjalankannya, karena ibadah puasa ini sifat dan bentuknya abstrak atau tidak bisa dilihat. Dibulan Ramadhan orang yang mengaku beriman dan bertaqwa wajib melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan syariat. Lalu apakah setiap orang yang berpuasa sudah bisa dikatakan beriman dan bertaqwa ?, sementara segala apa yang dilarang selama bulan itu tidak diindahkanya ?.

Mari tanyakan hati nurani kita masing-masing apakah diri kita sudah termasuk kedalam orang-orang seperti apa yang dikatakan Allah dalam Qs Al Baqarah ayat 183 diatas dan selalu menjaga eksistensi dari puasa itu sendiri. Jawabanya adalah kejujuran terutama dalam menjalankanya,  jujur pada Allah dan jujur pada diri sendiri serta selalu memahami bahwa Allah itu maha mendengar dan maha melihat, Dia berkuasa sekali terhadap segala sesuatu.

Selain itu kesabaran yang tinggi juga tidak kalah pentingnya, karena kebanyakan yang selalu megurangi nilai dari ibadah puasa itu sendiri dimata Allah adalah tidak bisa menahan amarah. Hal ini kalau terus dipelihara akan memicu pula lahirnya sifat-sifat tercela lainnya. Hal inilah yang sangat dikawatirkan Rasulullah Saw.

Beliau mengatakan betapa banyak orang yang melaksanakan ibadah puasa ini namun tiada yang diperolehnya kecuali hanya lapar dan dahaga saja. Agar kekhawatiran dari Rasulullah Saw ini tidak menimpa diri kita dan nilai dari ibadah puasa tersebut dapat kita raih dengan nilai yang terbaik dari Allah yaitu Iman dan Taqwa tadi. Maka iringilah ibadah puasa itu dengan niat yang ikhlas dan selalu berusaha untuk mengendalikan diri sendiri, keluarga dan masyarakat dari segala hal-hal yang akan merusak atau membatalkan puasa tersebut.

Didalam menjalankan ibadah puasa kita sebagai muslim / muslimah harus tetap menjalankan aktifitas dan selalu menumbuhkan etos kerja yang tinggi sebagai mana hari-hari diluar bulan Ramadhan. Dengan kata lain jangan dijadikan bulan penuh rahmat ini sebagai ajang untuk berleha-leha dalam bekerja dan berusaha. Salah satu dari sekian banyak ajaran puasa yang harus selalu kita amplikasikan dalam kehidupan ini adalah lahirnya etos kerja yang mantap, komitmen yang kuat dalam setiap mengambil keputusan yang berkepribadian muslim sejati. Maka, jadikanlah bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah ini sebagai sirkuit untuk perbaikan diri, peningkatan ibadah, introspeksi diri dengan menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat ( mutawazun ).

Al Quran menerangkan bahwa hawa nafsu merupakan sesuatu yang melekat dalam setiap diri manusia.tak jarang hawa nafsu ini menyeret manusia kearah keburukan, sehingga setiap orang bagaimanapun harus mampu mengendalikannya  kearah yang benar dan bermanfaat. Didalam Qs Al Jatsiyah-23 Allah berfirman “ Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya?. Dan Allah membiarkanya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya. Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah ( membiarkanya sesat ). Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran “.

Berdasarkan firman Allah diatas  menerangkan bahwa orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya sangat dimurkai Allah, bahkan bahaya dan dosanya disamakan oleh Allah dengan orang yang menyembah berhala. Nauzubillah min zhalik. Disebabkan karena nafsu ini mengandung ketertarikan syahwat dan hanya untuk mencari dan menemukan kelezatan lahir maupun bathin belaka. Sehinga Setan dan Iblis dengan mudahnya membujuk dan merasukinya untuk melakukan hal-hal yang tercela.

Maka, salah satu jalan terbaik yang diajarkan agama Islam pada umatnya guna mengendalikan dan membentengi diri dari desakan  hawa nafsu ini adalah dengan melakukan ibadah khusus yang diberikan Allah sebulan dalam dua belas bulan yang kita lalui yaitu As Syiaamu atau berpuasa sebulan penuh.

Apabila nafsu manusia mengikuti syahwatnya maka itulah yang disebut nafsu amarah yaitu nafsu yang menyuruh manusia pada keburukan dan kejahatan, apabila nafsu itu telah melakukan perbuatan buruk tadi maka hadirlah nafsu lawamah yaitu. Nafsu yang suka mencela atau mengecam.dan apabila nafsu itu telah menyesal dan menyadari dosa dan kesalahanya maka perasaan menyesal itu keluar dari nafsu Mutma’inah yaitu. Nafsu yang selalu tenang dan tentram. Nafsu inilah yang telah diberi rahmat dan diberkati oleh Allah Swt.

Dan sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap insan untuk memeliharanya dari kejaran dan rongrongan dua nafsu jahat diatas (  nafsu amarah dan lawamah  ). Didalam Qs Yusuf-53 Allah berfirman “ Dan Aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan karena sesungguhnya itu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang dibei rahmat oleh tuhanku.

Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun dan maha penyayang”. Mari kita jadikan satu bulan penuh ini sebagai bulan untuk melatih lahir dan bathin kita dari kejaran dan rongrongan hawa nafsu yang terlalu over dan berlebih-lebihan selama ini semoga Allah selalu memberi kita petunjuk dan semangat didalam melatih lahir dan bathin kita guna menghadapi hari-hari berikutnya. Berbagai sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.