Hakikat Keutamaan Shalat Tarawih

Hakikat Keutamaan Shalat Tarawih – Adapun hikmah shalat Tarawih ialah menguatkan, merilekskan dan menyegarkan jiwa serta raga guna melakukan ketaatan. Selain itu, untuk memudahkan pencernaan makanan setelah makan malam. Sebab, apabila setelah berbuka puasa lalu tidur, maka makanan yang ada dalam perut besarnya tidak tercerna, sehingga dapat mengganggu kesehatannya dan membuat jasmani menjadi lesu dan rusak

Yang harus diperhatikan ada jeda yang cukup setelah makan besar, baik setelah berbuka puasa atau setelah sahur dengan tidur. Karenanya, Rasulullah menganjurkan Ta’khir Sahur yakni makan sahur dilakukan mendekati waktu subuh, agar setelah sahur langsung shalat Subuh tidak tidur lagi. Jadi, bukan santap sahur pukul 02:00, lalu tidur lagi. Alasannya, sewaktu tidur tubuh menjadi sangat rileks, sehingga gerakan usus menjadi lambat sekali, sedangkan kita makan sampai perut penuh. Jadi, metabolism (proses perputaran) pencernaan terganggu, karena makanan terus-menerus berada di dalam usus. Penulis teringat ungkapan ulama yang pernah disebutkan oleh orang tua kami

Abuya K.H Saifuddin Amsir ketika beliau memberikan penjelasan Taqrir kitab Ta’lîm al-Muta’allim karya Syaikh Burhanuddin al-Zarnûjiy sebagai berikut: Artinya: ”Apabila engkau makan siang maka boleh engkau tidur setelahnya sekalipun di atas kepala kambing, dan apabila engkau makan malam maka berjalan/berkelilinglah sekalipun di atas tembok (jangan langsung tidur).”

Syaikh Ali Ibn Ahmad al-Jurjâwiy (W. 1340 H/1922 M) salah seorang tokoh ulama al-Azhar, Kairo; Mesir, dalam sebuah kitabnya yang bernama Hikmah al-Tasyrî’ Wa Falsafatuhu mengatakan:”Telah banyak doktor dari negara barat yang mengatakan bahwa umat Islam yang menjalani ibadah puasa dengan shalat-shalat yang biasa mereka kerjakan setelah shalat Isya telah membuat mereka terhindar dari aneka penyakit yang hampir membahayakan mereka.

Mr. Edwar Leeny mengatakan:” Suatu hari saya diundang makan dalam acara buka puasa oleh salah seorang saudagar muslim yang sukses. Saya melihat banyak di antara mereka menyantap hidangan yang tersedia dengan lahap dan sangat banyak sehingga, saya berkeyakinan bahwa mereka pasti akan mengalami gangguan pencernaan pada perut mereka.

Kemudian waktu datang waktu Isya mereka berbondong-bondong mengerjakan shalat Isya dan dilanjutkan dengan shalat Tarawih. Seketika melihat itu, saya menyimpulkan dan berkeyakinan bahwa gerakangerakan yang mereka lakukan di saat mengerjakan shalat sangat bermanfaat dalam mengembalikan tenaga dan semangat serta menghindari mereka dari berbagai macam penyakit yang mengancam mereka. Dari situlah saya yakin bahwa agama Islam memang benar-benar bijaksana dalam Syariatnya”

Keutamaan Shalat Tarawih

Diriwayatkan dari Sayidina Ali, ia berkata: Rasulullah ditanya tentang keutamaan shalat Tarawih pada bulan Ramadhan, beliau menjawab:

  • Pada malam ke-1, Keluar seorang mu’min dari dosanya pada awal malam, seperti ia dilahirkan oleh ibunya.
  • Pada malam ke-2, diampuni baginya dan kedua orang tuanya jika keduanya beriman.
  • Pada malam ke-3 malaikat berseru kepada makhluk yang berada di bawah Arsy:”Mulailah kalian beramal, Allah akan menganpuni dosa-dosamu yang terdahulu.
  • Pada malam ke-4, baginya dari bagian pahala seperti membaca kitab Taurat,Injil, Zabur dan al-Qur’an.
  • Pada malam ke-5, Allah berikan pahala seperti orang yang shalat di Masjid al- Haram, Masjid Madinah dan Masjid al-Aqsha.
  • Pada malam ke-6, Allah berikan kepadanya pahala orang yang melakukan thawaf di baitul ma’mur, dan membacakan istighfar oleh setiap bebatuan dan lumpur kepadanya.
  • Pada malam ke-7, seakan-akan ia berjumpa dengan Nabi Musa dan dia menolongnya dalam melawan Fir’aun dan Haman.
  • Pada malam ke-8, Allah berikan kepadanya sesuatu yang Allah kepada Nabi Ibrahim.
  • Pada malam ke-9, seakan-akan dia menyembah Allah seperti ibadahnya Nabi.
  • Pada malam ke-10, Allah berikan kepadanya dua kebaikan dunia dan Akhirat.
  • Pada malam ke-11, dia keluar dari dunia seperti hari pada hari dilahirkan ibunya.
  • Pada malam ke-12, dia datang pada hari qiyamat sedangkan wajahnya laksana bulan di malam empat belas.
  • Pada malam ke-13, dia datang di hari qiyamat dalam keadaan aman dari setiap kejahatan.
  • Pada malam ke-14, para malaikat datang menyaksikannya bahwa dia telah melakukan shalat Tarawih, maka Allah tidak menghisabnya di hari qiyamat.
  • Pada malam ke-15, para malaikat dan pemikul Arsy bershalawat (memohonkan ampun) untuknya.
  • Pada malam ke-16, Allah catatjan baginya kebebasan selamat dari api neraka dan kebebasan dari masuk Surga.
  • Pada malam ke-17, dia diberikan pahala seperti para Nabi.
  • Pada malam ke-18, malaikat berseru wahai hamba Allah sesungguhnya Allah telah meridhoimu dan kedua orang tuamu.
  • Pada malam ke-19, Allah angkat derajatnya pada Surga Firdaus.
  • Pada malam ke-20, Allah berikan pahala pahala orang-orang yang Syahid dan para orang shalih
  • Pada malam ke-21, Allah bangunkan baginya rumah di Surga dari cahaya.
  • Pada malam ke-22, dia datang pada hari Qiyamat dalam keadaan aman dari segala keluh kesah dan duka cita.
  • Pada amlam ke-23, Allah bangunkan baginya sebuah kota di dalam Surga.
  • Pada malam ke-24, dia akan memiliki doa mustajab.
  • Pada malam ke-25, Allah angkat (jauhkan) dirinya dari azab kubur.
  • Pada malam ke-26, Allah angkat (berikan) baginya pahala 40 tahun.
  • Pada malam ke-27, dia akan lewat pada hari kiamat di atas Shirath secepat kilat yang menyambar.
  • Pada malam ke-28, Allah angkat baginya 1000 derajat di Surga.
  • Pada malam ke-29, Allah berikan pahala 1000 haji yang diterima.
  • Pada malam ke-30, Allah berfirman:”Whai hambaKu makanlah buah-buahan Surga dan mandilah dari air Salsabil (mata air Surga) dan minumlah dri telaga Kautsar. Aku tuhanmu dan engkau adalah hambaku.

Utsman Ibn Hasan Ibn Ahmad Syakir al-Khubuwiy al-Rumiy al-Hanafiy, Durrah al-Nashihin, (Beirut: Dar al-Fikr 2000) halaman 19. Sebagian ulama memberikan komentar hadis di atas sebagai hadis Maudhu’. Sedangkan pengertian hadis maudhu’ adalah hadis palsu. Syaikh al-Bayquniy mengatakan:”Kedustaan yang diada-adakan, yang dibuat orang atas Nabi, maka itulah yang disebut Maudhu’ (palsu)

Dikembangkan dari berbagaui sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.