Menentang Rasulullah Dan Menerima Imam

Menentang Rasulullah Dan Menerima Imam. Setiap ibadah apabila ditinjau dari kaidah hukum fikih, maka setiap ibadah hukumnya adalah haram untuk dilaksanakan kecuali ada aturan hukum yang tegas, jelas dan terang yang membolehkan ritual ibadah tersebut dilaksanakan termasuk didalamnya adanya rujukan yang bisa dijadikan sebagai sumber untuk menarik garis hukum yang tegas, jelas dan terang atas suatu ritual ibadah tersebut, seperti kesepakatan hukum yang diambil para sahabat nabi SAW yang telah diberi hidayah atau fatwa para ulama yang sudah diakui secara umum kemampuan dan kelurusan pemahaman agamanya

Selanjutnya, hakikat tata aturan yang jelas, tegas dan terang tersebut harus tidak tumpang tindih dan tidak saling mengalahkan atau melemahkan antara satu aturan dengan aturan diatasnya dan Al-Quran dan sunnah Rasulullah Muhammad SAW merupakan sumber hukum dasar utama dalam tata hukum Islam, sehingga setiap tata aturan ibadah yang sudah ditetapkan secara jelas, tegas dan terang dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW tidak memerlukan tata aturan pendamping untuk memperkuatnya karena tata aturan Al-Quran dan Sunnah merupakan hukum mutlak yang berasal dari Allah SWT yang tidak mungkin salah

Karena Al-Quran dan Sunnah merupakan hukum dasar utama dengan masa berlaku yang sangat panjang yaitu mulai dari diturunkannya sampai akhir zaman nantinya, maka sebagaian besar tata aturan hukum yang termuat didalamnya hanya berupa prinsip – prinsip hukum saja, sedangkan yang terkait dengan ritual ibadah wajib semua cendrung sudah sangat cukup dan lengkap serta tidak memungkinkan lagi untuk ditambah atau dikurangi, sehingga dalam prosesi ibadah wajib, setiap modifikasi atau pengembangan aturan sudah tidak bisa dilakukan lagi serta wajib untuk ditolak dan pasti ditolak secara hukum

Shalat subuh dilaksanakan dua rakaat dengan bahasa arab dengan rentang waktu mulai dari terbit fajar sampai terbitnya matahari, sehingga apabila dilaksanakan dengan jumlah bilangan rakaat yang lebih atau kurang dari dua rakaat, maka itu bukanlah shalat subuh, termasuk waktu dan tata cara pelaksanaannya, demikian juga dengan ibadah wajib yang lain seperti ibadah puasa yang dilaksanakn pada bulan Ramadhan dan pelaksanaan ibadah haji di Mekkah serta hukum kewajiban membayarkan zakat jika harta sudah cukup takaran dan timbangannya

Pertentangan pendapat atau perbedaan pemahaman yang mengarah kepada pertentangan, bahkan adakalanya menjurus kepada perpecahan, apabila dicermati dengan lebih seksama dan teliti, pada umumnya atau sebahagian besar hanyalah berkutat terjadi pada hal – hal yang secara hukum dikelompokkan kedalam kelompok ibadah sunat dan kelompok ibadah makruh saja. Sedangkan perbedaan pendapat pada hal – hal yang termasuk kelompok ibadah wajib cendrung relatih lebih sedikit kecuali perbedaan itu memang sudah dimulai dan terjadi dari perbedaan firqah dalam agama ( baca category Firqah – Firqah Dalam Islam )

Sebagai umat yang awam atau orang yang kemampuan pengetahuan tentang hukum islam yang relatif kurang karena sebagian besar dari kita memang tidak mengkhususkan dirinya untuk mempelajari hukum islam secara mendalam, kita harus bijak dan arif dalam menyikapi perbedaan – perbedaan pendapat tersebut, sehingga kita tidak terjebak dalam penghukuman yang kita sendiri tidak berpengetahuan yang cukup tentang perbedaan dan pertentangan itu

Kebijakan dan kearifan yang dimaksud adalah berusaha untuk memahami perbedaan dan pertentangan itu dengan tetap mengacu secara utuh kepada prinsip – prinsip dasar dalam memahami suatu hukum yang benar seperti, setiap hukum yang bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW jangan diterima dan apabila penetapan suatau hukum tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah tetapi tidak ditemui secara tegas, jelas dan terang dalam Al-Quran dan Sunnah, cari dan cocokkan dengan pemahamn dan penetapan para sahabat Nabi karena generasi sahabat tersebut adalah umat – umat yang terbaik dari umat setelahnya, apabila juga tidak ditemukan dalam pemahaman dan penetapan para sahabat Nabi SAW, maka lanjutkan dengan pemahaman dan penetapan para ulama pada generasi tabiin dan ulama – ulama sesudahnya dan seterusnya.

Apabila sudah ditemukan pada pemahaman dan penetapan para sahabat, maka cukuplah itu penetapan hukum yang paling benar sehingga apabila ada pemahaman dan penetapan ulama pada generasi sesudahnya yang bertentangan dengan pemahaman dan penetapan para sahabat Nabi SAW, sebaiknya jangan diterima dan harus ditolak seberapa pun benar logikanya sebagaimana yang telah disampikan dalam tuntunan berikut :

” Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang Telah dikuasainya itu ( * ) dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali “ ( QS : 004 : An Nisaa : Ayat 115 )

( * ) Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

” Maka bahwasanya siapa yang hidup ( lama ) diantaramu niscaya akan melihat perselisihan ( faham ) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khalifah Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gerahammu ” ( HR : Abu Daud )

” Ikutlah dua orang sesudah saya, yaitu Abu Bakar dan Umar ” ( HR : Ahmad, Tirmizi dan Ibnu Majah )

Sehingga, ketika Khalifah Umar bin Khatab telah menetapkan dengan segenap pemahaman yang dimilikinya dan tidak dibantah atau secara hakikat dibenarkan dan diterima oleh para sahabat Nabi SAW yang lain pada masa itu, bahwa pelaksanaan ibadah shalat tarwih itu dilaksanakan sebanyak 20 ( dua puluh ) rakaat secara berjamaah, karena tidak satupun ayat dalam Al-Quran dan tidak satu pun hadist Nabi SAW yang secara tegas, jelas dan terang yang menyatakan tentang tata cara pelaksanaanya ( berjamaah atau sendiri ) serta jumlah bilangan rakaat ibadah shalat tarwih tersebut, maka penetapan Khalifah Umar bin Khatab adalah penetapan yang paling benar, sehingga apabila dilaksanakan kurang atau lebih dari 20 ( dua puluh ) rakaat bukanlah dikatakan sebagai ibadah shalat tarwih

Demikian sekilas dasar – dasar pemahaman hukum dalam islam yang terkait dengan persoalan ibadah, dengan harapan bisa menjernihkan konsep – konsep pemahaman dan pembenaran yang benyak berkembang dan cendrung menyimpang dari kaidah hukum yang sebenarnya. Apabila ada bantahan, sanggahan, pendapat atau komentar seputar masalah ini silahkan sampikan pada kotak komentar yang tersedia dan semoga kajian yang singkat ini bisa menjadi topik bahasan dalam majelis masing – masing. Amin ( Hakikat Bid’ah )

Comments 6

  • saya hanya sedikit mengomentari, kalo pantaskan artikel tentang rasul menerima iman sedang kan di atasnya ada iklan untuk membesarkan PENIS, aku tunggu balasanya, mohon di balas!!!

  • @tajul : iklan itu berasal dari situs penerbit iklan dan saya tidak bisa mengatur mereka. terimkasih atas sarannya

  • Hello There. I discovered your blog using msn. This is an extremely smartly written article. I’ll make sure to bookmark it and come back to learn extra of your useful info. Thank you for the post. I’ll definitely return.

  • Please read John 1:1: In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God. Verse 14 says, And the Word became flesh and tabernacle among us (and we beheld His glory, glory as of the only Begotten from the Father), full of grace and reality. What is the Word mentioned in verses 1 and 14? Verse 1 speaks of the relationship the Word has with God. In reference to when, the Word was there from the beginning. In reference to where, the Word was with God. In reference to what, the Word was God. Today the Word has become flesh; He has taken on a human body and dwelt among men. As to how He dwells, it says that He is full of grace and reality, and we beheld His glory, glory as of the only Begotten from the Father. Who is this One? He is Jesus of Nazareth.Here we have only seen one of the five qualifications mentioned earlier. Only Jesus of Nazareth meets this first condition. This proves that He is God. We shall go on to see the four other conditions or qualifications. Jesus of Nazareth must meet all the other four qualifications before we can conclude that He is God.

  • Hello, Great work! Excellent website! Thank you for this specific material I had been seeking all Yahoo to be able to locate it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.