Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 2 )

Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 2 ). Pada kajian sebelumnya (Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 1 ) ) kita telah mencoba selintas membahas tentang pemahaman tentang Islam sebagai agama tauhid terakhir yang diperuntukkan kepada seluruh umat manusia di dunia ini. Dengan prinsip pemahaman tersebut, seluruh syariat hukum Islam sangat cocok dan sesuai serta akan menjadi rahmat bagi setiap komponen yang mengamalkannya atau mengaplikasikannya dengan benar. Yaitu sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW atau terbebas dari syariat yang mengada-ada tanpa berdasarkan hukum Allah SWT yang termuat dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.

Syariat hukum yang tidak ada tuntunannya dari Allah SWT dan Rasulullah SAW itu disebut dengan Bid’ah. Bid’ah itu sendiri dari segi bahasa berarti hal yang baru yang diadakan tanpa ada contoh yang sebelumnya, sedangkan dalam pengertian syara’ bid’ah berarti hal baru yang tidak di nash dalam Al-Quran atapun Sunnah.

” Barang siapa yang menipu umatku, maka baginya laknat Allah, Mlaikat dan semua manusia. Rasulullah SAW ditanya ‘ Wahai Rasulullah apakah menipu itu ?. Beliau menjawab, ‘ Mengada-adakan perkara bid’ah serta mengamalkannya’. ( HR : Ad-Daruquthny dari Anas bin Malik )

” Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini ( agama Islam ) yang tidak ada perintah dari kami, maka pasti ditolak “ ( HR : Bukhari dan Muslim )

” Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Rda. ia berkata, ‘ Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ‘ Sesungguhnya Iblis berkata, ‘ Aku membinasakan manusia dengan ( berbuat ) dosa, Lalu mereka ( manusia ) mebinasakan dengan istighfar. Ketika akubmelihatitu, aku binasakan mereka dengan inigin melakukan perbuatan bid’ah agar mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk yang benar ( npadahal tidak ), maka akibatnya mereka tidak memohon ampunan kepada Allah ( karena merasa tidak berdosa ) “ ( HR : Ibnu Abi ‘Ashim )

Dari hadist tersebut, para ulama bersefaham bahwa timbulnya perkara bid’ah ini tak lain hanyalah salah satu dari strategi iblis dengan memanfaatkan nafsu manusia ahli ibadah yang sangat bersemangat dalam ibadahnya, sehingga terkadang mereka merasa kurang dalam amaliah ibadahnya dan merasa kurang cukup dengan contoh yang telah diberikan Rasulullah, lalau mereka menambah-nambah ibadah dan kaifiat ( tata cara ) ibadahnya tanpa landasan ilmu yang cukup.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya segala ibadah yang tidak dilandasi ilmu pengetahuan akan tertolah disisi Allah SWT. Bahkan dengan tegas Allah SWT melarang umat Islam untuk mengikuti dan mengerjakan sesuatu perbuatan tanpa dasar ilmu pengetahuan.

” Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu ( perbuatan ) tanpa dasar ilmu pengetahuan, karena sesungguhnya pendegaran, penglihatan dan hati, semua itu akan ditanya ( diminta pertangungjawabannya di akhirat kelak ). ( QS : Al-Isra : ayat : 036 )

” Barang siapa merintis ( memulai ) dalam agama Islam perkara baru yang baik, maka baginya pahala dari perbuatan tersebut juga pahala dari orang yang melakukannya ( mengikutinya ) setelahnya tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka, dan barang siapa merintis dalam Islam perkara yang baru yang buruk, maka baginya dosa dari perbuatan tersebut juga dosa dari orang yang melakukaknnya ( mengikuti ) setelahnya tanpa berkurang dosa-dosa mereka sedikitpun ” ( HR : Muslim )

Hadists ini telah terang menjelaskan bahwa sesungguhnya hal baru itu dalam Islam terdiri dari dua macam; ada yang sesui dengan syara’ dan ada yang menyalahi dan bertentangan dengan syara’.

Ibnu al-Arabi mengatakan “ Bid’ah dan Muhdats ( perkara baru ) tidak dicela karena lafazh dan maknanya, melainkan Bid’ah yang dicela adalah yang bertentangan dengan sunnah dan Muhdats yang dicela adalah yang membawa kepada kesesatan “

Berdasarkan hal tersebut para ulama membagi bid’ah menjadi dua kelompokyaitu:

  1. Bid’ah Hasanah.Yaitu hal yang baru yang sesui dengan Al-Quran dan Sunnah.
  2. dan Bid’ah Sayyiah. Yaitu hal baru yang bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah. Pembagian bid’ah ini diperkuat oleh hadists nabi SAW di atas .

Pada masa sahabat terjadi perkara-perkara yang baru yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an atau sunnah. Bid’ah tersebut masuk dalam pengertian bid’ah hasanah seperti dijelaskan oleh hadits tersebut sepertiyang disebutkan dalam Sahaih bukhari dalam bab shalat tarawih : ” ibnu Syihab berkata : ‘ Rasulullah SAW meninggal dunia dan orang-orang ( melaksanakan tarawih ) seperti itu ( Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa orang-orang tidak berjamaah dalam melaksanakan tarawih ). Kemudian Ibnu Syihab menyempurnakan perkataannya : ‘ kemudian ( pelaksanaan tarawih tetap ) seperti itu pada masa khalifah Abu Bakar dan pada awal kekhalifahan Umar Rda.

Menyempurnakan keterangan mengenai kejadian itu. Dalam Sahih Bukhari diriwayatkan dari Abdullah ibn Abd al-Qariy berkata : “ Aku pergi ke mesjid bersama Umar ibn al Khatab Rda pada salah satu malam bulan Ramadhan, di sana orang-orang terpisah-pisah dan berpencar-pencar, yang satu shalat sendiri dan yang lain sahlat mengimani beberapa orang, kemudian umar berkata :Aku berpikir seandainya aku kumpulkan mereka dengan satu imam maka akan lebih bagus”, kemudian beliau mengumpulkan mereka dengan imam Ubayy ibn Ka’ab. Pada malam yang lain, aku keluar lagi bersama beliau, dan orang-orang melaksanakan shalat dengan di-imani imam mereka; Ubayy ibn Ka’ab, Umar mengatakan : ” sebaik-baik bid’ah adalah ini ).

Contoh-contoh semacam ini sangat banyak ditemukan dari masa sahabat sampai masa sekarang, temasuk diantaranya Peringatan Maulid Nabi SAW, Istiqasah, Yasinan, Tahlilan, Menambah Kutbah Shalat Jumat dan Hari Raya dengan Bahasa Selain Bahasa Arab ( bahasa Indonesia misalnya supaya pesan taqwa yang disampaikan Khatib bisa difahami oleh jamaah ), Mengumandangkan Azan Lebih Dari Sekali, Menetapkan Waktu Imsyak, Berdoa Bersama, Perayaan Israk Mi’raj, dan lain sebagainya termasuk tarekat-tarekat yang dirintis oleh para wali Allah yang pada pada dasarnya adalah bid’ah hasanah meski kemudian beberapa pengikutnya ada yang menyimpang, namun begitu hal ini tidak membuat jelek tarekat yang asli seperti pada awal mulanya.

Sehingga tidak perlu diragukan lagi bahwa Tarekat tersebut adalah tarekat-tarekat yang benar dan diberkahi, termasuk bid’ah hasanah. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa mereka berada pada jalan yang lurus dan benar, menuntun manusia kepada ajaran nabi mereka dan kepada haliyyah nabi mereka. Mereka adalah orang-orang yang berilmu, ahli dzikir dan ahwal serta selalu ta’at kepada Allah. [ Hakikat bid’ah ]

” Jangan Menyangka Ibadah dan Pahala Yang Banyak Akan Mengantarkan Engkau Ke Syurga, Syurga Allah Hanya Untuk Orang-Orang Yang Diridhai-Nya Bukan Untuk Orang-Orang Yang Beribadah Hanya Untuk Mengejar Pahala Semata “

Comments 4

  • Untuk menukar wawasan dan memperdalam kajian tauhid dan tujuannya sudilah mengakses web saya di http://www.ponpesgratis.blogspot.com ” jika ada bacaan yang benar dan bermanfaat mohonlah kiranya untuk menyebarluaskannya”
    wassalam

  • Hi there very cool site!! Man .. Excellent .. Superb .. I will bookmark your web site and take the feeds additionally¡KI am happy to search out so many helpful information right here in the publish, we’d like develop extra techniques in this regard, thanks for sharing. . . . . .

  • menanggapi soal bid`ah ini harus didudukkan pada hukum pokok dalam AlQuran. Ingat secara jujur kalau kita tanya : Umat Islam mau mengikuti gaya Nabi saw ataukah mau mengikuti gaya Quran, kalau mengikuti gaya nabi pada zamannya, kita tidak akan mampu mengikutinya, mau pake onta saja nggak perlu pake mobil, atau pakaian nabi gamis sehari-hari bisa nggak umt Islam berpakaian seperti nabi, ah sdh nggak mampu. Nabi Hidup dengan rumah yang sederhana kecil, alat rumah tangganya juga sederhana, coba ikuti gaya seperti nabi, nggak mampu kan ente. maka quran yg amampu mengatasinya, karena plexibelitas AlQuran hebat dan akuntabel. jadi bila kita mau memahami Bid“ah pakai dan ikuti hukum Quran barulah umat Islam tidak bingung, bila memahahami bid`ah pakai gaya Nabi, ente-ente dan kita semua nggak ada yang amampu. tapi pakai patokan rukun Agama berdasarkan AlQuran, yaitu Iman, Islam dan Ihsan pasti kita umat tidak ada yang bertengkar tentang Bid`ah ini, marilah kita ubah POla fikir kita menjadi Pola fikir Qurani

  • saya sih setuju dgn wan Ahmad Syahroni, ini yang saya tunggu, jadi kita ikuti Quran saja, terus bagaimana hukumnya kita tidak mengikuti sunnad nabi wan ???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.