Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 1 )

Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 1 ). Sesungguhnya postingan ini bukan bertujuan untuk memperdebatkan sebuah kata Bid’ah yang sangat sering kita baca dan dengar dari orang-orang yang mengaku-aku sangat tahu dan sangat faham tentang hakikat kedudukan dari kata Bid’ah tersebut dalam syariat hukum Islam, sehingga mereka yang merasa sangat faham tersebut dengan gampang dan terkesan serampangan menempelkan cap bid’ah terhadap seseorang atau terhadap suatu prosesi ritual yang dilakukan seseorang.

Sesungguhnya dunia ini sangat luas dan dihuni oleh banyak manusia dengan aneka ragam budaya dan adat istiadat kebiasaan setempat. Islam adalah sebuah agama yang diperuntukkan untuk semua umat manusia itu. Walau islam diturunkan pertama sekali di tanah Arab, tapi bukan berarti Islam hanya untuk sekelompok manusia dari suku Arab saja. Islam adalah agama tauhid terakhir untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat kelak.

Sebagai agama tauhid terakhir, tata aturan dan hukum yang berlaku sebagai syariat hukum dalam islam harus berdasarkan kepada Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Biasanya orang-orang yang suka memberi label bid’ah kepada sesorang atau kepada suatu ritual peribadatan yang tidak atau belum dikenalnya, memahami syariat hukum Islam berhenti sampai pada kalimat itu saja.

Sesungguhnya agama Islam sebagai agama tauhid terakhir, seluruh syariat hukum yang dibawanya adalah syariat hukum yang sudah sempurna dan bisa diberlakukan di seluruh dunia ini. Tidak peduli apa budaya dan adat kebiasaan yang umum dan khusus disuatu tempat. Syariat hukum Islam pasti bisa diterapkan dan pasti bisa memberi keberkahan di sana karena Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin. Sekali pun pada suatu tempat itu umat Islam berada dalam kondisi minoritas.

Sesungguhnya hal ini sudah tergambar dengan sangat jelas dalam percakapan Rasulullah Muhammmad SAW dengan sahabat Beliau Mu’az bin Jabal yang dikenal dengan Hadits Mu’az sebagai berikut: Ketika Nabi Muhammad SAW mengirimkan seorang sahabatnya ke Yaman dari Medinah untuk menjadi gubernur di sana. Sebelum berangkat, Nabi Muhammad SAW menguji sahabatnya yang bernama Mua’az bin Jabal itu. Dengan menayakan sumber hukum yang akan dipergunakan kelak untuk memecahkan berbagai masalah dana atu sengketayang dijumpainya di daerah baru tersebut.

Pertanyaan itu dijawab oleh Mu’az dengan mengatakan bahwa dia akan mempergunakan Al-Quran. Jawaban tersebut disusul oleh nabi dengan poertanyaan : Jika tidak terdapat petunbjuk khusus ( mengenai suatu masalah ) dalam Al-Quran bagaimana ?. Mu’az menjawab : saya akanmencarinya dala Sunnah Nabi. Nabi bertanya lagi : Kalau engkau tidak menemukanpetunjuk pemecahannyadalam Sunnah Nabi bagaimana ?. Mu’az menjawab : Jika demikian, saya akan berusaha sendiri mencari sumber pemecahannya dengan mempergunakan ra’yu atau akal saya dan akan mengikuti pendapat saya itu. Nabi sangat senang atas jawan Mu’az tersebut dan berkata : Aku bersyukur kepada Allah yang telah menuntun utusan Rasul-Nya.

Dari hadist Mu’az tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Al-Quran bukanlah kitab hukum yang memuat kaidah-kaidah hukum secara lengkap terperinci. Al-Quran hanya memuat kaidah-kaidah hukum fundamental yang harus dikaji dengan teliti dan dikembangkan oleh akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk diterapkan. Sunnah atau Hadis hanya mengandungkaidah-kaidah umumyang harus dirinci oleh orang yang memenuhi syarat untuk dapat diterapkan dalam kondisi tertentu. Sehingga semua kaidah-kaidah hukum yang dimuat dalam Al-Quran dan Sunnah atau Hadist sebelum diterapkan, harus terlebih dahulu difahami dan dikaji secara mendalam dan seksama sebelum diterapkan.ditengah masyarakat dan terhadap diri sendiri.

Apabila dalam suatu kasus hukum ternyata tidak ditemukan landasan hukum dalam Al-Quran dan Hadist, maka diperbolehkan mencari landasan hukum yang lain yang tidak bertentangan atau berlawanan dengan Al-Quran dan Hadist dan atau menetapkan hukum baru yang diberlakukan secara khusus sampai ditemukan penetapan hukum baku yang tepat ( bisa jadi hukum khusus tersebut pada akhirnya ditetapkan sebagai hukum baku yang berlaku umum ). Penetapan hukum itu bisa dilakukan dengan bebrbagai metoda yang dikenal dengan beberapa macam tingkatan seperti Ijmak, Qiyas, Istidal, Masalihal-mursalah, Istihsan, Istisab dll ( Insya Allah Akan dibahas Lebih lanjut )

Jadi penetapan hukum bid’ah atas suatu perkara hukum bukanlah sesuatu yang dengan serta-merta bisa diterapkan. Syariat hukum Islam yang datang terakhir untuk semua umat manusia, pada hakikatnya bukanlah sebuah tata aturan yang bersifat mengganti aturan lama yang sudah ada, Syariat hukum Islam lebih bersifat memperbaiki tatanan hukum yang sudah ada sebelumnya. Setiap suatu hukum yang belum lengkap akan dilengkapi, yang salah akan diperbaiki, yang kurang akan ditambah sampai seluruh dunia ini dipenuhi Rahmatan Lil ‘Alamin sebagai mana tujuan Agama Islam itu diturunkan.

Pemahaman hukum secara sempit akan cendrung mengarah kepada radikalisme dalam beragama. Menolak tiap sesuatu yang belum diketahui bukanlah sifat yang bijaksana dalam menjalankan dan mengembangkan ajaran Islam Yang Mulia ini. Radikalisme dalam memahami hukum Islam justru akan sangat merugikan umat islam itu sendiri. Ajaran Islam akan dijauhi, Umatnya akan dimusuhi, bahkan gara-gara radikalisme yang dilakukan sekelompok kecil orang Islam yang belum tentu benar pemahamannya, telah melahirkan sinisme dan kecurigaan berlebihan terhadap para ustadz dan penceramah pada bulan Suci Ramadhan ini ( 1430 H ) dari negara yang para pahlawan kemerdekaannya sebagain besar adalah umat Islam. [ memahami logika Al-Quran ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.