Fatwa Zakat Profesi dan atau Zakat Penghasilan Tidak Perlu Diikuti … !!!

Fatwa Zakat Profesi dan Zakat Penghasilan Tidak Perlu Diikuti – Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima, sehingga zakat merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan Allah melalui syariat – Nya. Zakat dalam bahasa berarti ath-Tath-hir wal Ishlah; mensucikan, serta memperbaiki. Dari segi istilah zakat adalah sebagian harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya dengan tujuan untuk mensucikan harta tersebut

Beranjak dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa yang wajib dizakatkan hanyalah jenis harta tertentu saja dan tidak semua jenis harta yang dimilki wajib dikeluarkan zakatnya yaitu Unta, Sapi, Kambing.Kurma, Zabib (anggur kering), Tanaman pertanian yang dijadikan makanan pokok dalam keadaan normal (tidak terpaksa), Emas, Perak, Barang tambang, Rikaz dari keduanya (emas dan perak)

Dalam madzhab Imam Malik diwajibkan zakat pada tanaman kacang-kacangan ( al Qathani ) seperti Fuul, Himmash, Lubiya’, turmus, ‘Adas dan semacamnya. Biji-bijian yang mengandung minyak seperti zaitun dikeluarkan zakatnya dalam bentuk minyaknya kalau memang biji-bijiannya telah mencapai nishab. Menurut imam Malik, tidak wajib zakat pada tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan seperti delima dan tin. Zakat barang temuan ( rikaz ) menurut satu qaul dalam madzhab Malik berlaku pada semua barang temuan yang berupa logam mulia, timah, tembaga dan lain sebagainya.

Sementara dalam madzhab Hanafi, menurut Abu Hanifah sendiri zakat wajib dalam semua jenis tanaman makanan dan tanaman buah-buahan dan tidak disyaratkan nishab. Sedangkan menurut kedua sahabat Abu Hanifah; Abu Yusuf dan Muhammad, berlaku nishab seperti dalam madzhab Syafi’i dan mereka berdua mensyaratkan tanaman yang wajib dizakati adalah yang memiliki hasil yang berdaya tahan satu tahun secara alami, jadi tidak wajib zakat menurut mereka pada tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan.

Harta selain dari pada itu seperti pakaian, gula, garam, kuda, keledai, ayam dan lain sebagainya baru wajib dizakati jika diperdagangkan, dijadikan sebagai komoditas yang diperdagangkan sebagaimana yang dimaksud dengan “Sesuatu yang tidak ada zakatnya pada bendanya, baru wajib dizakati jika diperdagangkan“.

Status zakat harus dipahami sebagai ibadah, yang tidak semua sisinya bisa diketahui makna dan hikmahnya (Ma’qul al Ma’na). Tidak bisa hanya dengan dalih nilai dan besar penghasilan, orang mewajibkan zakat pada harta-harta yang tidak diwajibkan zakatnya oleh Allah ta’ala (tidak ada nash yang mewajibkannya). Yang paling bisa dilakukan adalah menganjurkan para pemilik harta tersebut untuk berinfak sunnah atau bersedekah. Sehingga dengan dana yang terkumpul dari infak dan sedekah ini bisa ditasarrufkan untuk kemaslahatan umum seperti membiayai pendidikan atau kemaslahatan-kemaslahatan yang lain.

Jadi harta seperti ternak unggas, tanaman tebu, palawija, tanaman buah-buahan seperti semangka, melon dan lain-lain, tanah, rumah, logam mulia dan batu-batu permata selain emas dan perak tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali jika diperdagangkan. Padahal jika dilihat dari nilai dan besar penghasilan, orang yang beternak unggas bisa memiliki penghasilan yang lebih besar dari peternak unta, sapi atau kambing. Petani tebu atau palawija bisa berpenghasilan lebih besar dari petani makanan pokok seperti padi, bahkan ini fakta yang terjadi. Demikian juga ada jenis-jenis logam mulia dan batu permata yang nilai jualnya lebih mahal dari emas dan perak, namun demikian Allah tidak mewajibkan zakat kecuali pada emas dan perak.

Demikian juga tidak diwajibkan zakat pada kegiatan sewa menyewa karena sewa menyewa bukan lah termasuk jual beli dan tidak ada aktifitas menjual dan membeli di sana. Karenanya orang yang menyewakan tanah, mobil, rumah, hotel tidaklah berkewajiban untuk mengeluarkan zakat dari akad sewa tersebut

Selain itu mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar ketika membeli barang. jika diperdagangkan jelas wajib dizakati. Demikian emas dan perak wajib dizakati. Sedangkan mata uang selain emas dan perak, seperti mata uang logam atau kertas tidak wajib dizakati menurut imam Malik, Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal. Mereka melihat bahwa Allah ta’ala hanya mengancam orang yang tidak mengeluarkan zakat emas dan perak saja di antara alat tukar yang yang ada. Padahal Allah maha mengetahui pada azal bahwa nanti akan ada alat tukar selain emas dan perak namun demikian Ia hanya mengancam orang yang tidak mengeluarkan zakat alat tukar dari emas dan perak saja.

Ketentuan ini berlaku jika memang mata uang tersebut tidak diperdagangkan, sedangkan jika diperdagangkan seperti dalam pertukaran dengan mata uang asing atau pertukaran mata uang sejenis seperti rupiah dengan rupiah atau berbeda jenis misalnya maka berlaku padanya zakat perniagaan.

Sedangkan zakat penghasilan atau zakat profesi tidak dikenal sebelumnya dan tidak pernah dikemukakan oleh seorang mujtahid-pun, sehingga pendapat yang mengatakan adanya zakat prifesi atau zakat penghasilan merupakan pendapat yang baru dan tidak ada satu dalil pun yang mendukungnya sehingga tidak perlu diikuti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.