Wahabi, Firqah Salah Nama Kaum Pemilik Surga

Wahabi, Firqah Salah Nama Kaum Pemilik Surga -  Faham Wahabi dibangun oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Muhammad bin Abdul Wahab ini berasal dari kabilah Bani Tamim yang dilahirkan pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H di sebuah desa yang bernama ‘Ainiyah dan meninggal di Nejdi. Penamaan firqah atau aliran ini dengan sebutan Wahabi disandarkan kepada bapaknya Abdul Wahab yang merupakan seorang Qadhi dan sekaligus guru pertamanya di ‘Aniyah tempat kelahirannya

Pemberian nama Wahabi menurut sebagian pendapat dilakukan oleh musuh – musuh dan para penantang aliran ini, sedangkan para pengikut Muhammad Abdul Wahab ini sendiri menamakan alirannya dengan “ Al Muwahhidun “ dengan tariqat “ Muhammadiyah “ yang mazahab Hambali dengan penafsiran yang disesuaikan dengan seorang seorang ulama terkenal dari firqah Mujasimmah yang bernama  Ibnu Taimiyah

Namun berdasarkan fakta dan realita yang ada dilapangan, penamaan Wahabi terhadap firqah atau aliran bentukan Muhammad bin Abdul Wahab ini bukanlah hal yang baru apabila tidak mau dikatakan sudah ada semenjak awal keberadaanya. Setidaknya dapat dilihat pada beberapa kitab yang ada pada pada awal keberadaan firqah atau aliran ini diantaranya kitab  “ Ash Sahwa’iqul Ilahiyah firraddi alal Wahabiyah “ yang ditulis oleh saudara Muhammad bin Abdul Wahab sendiri yang bernama Sulaiman bin Abdul Wahab

Selain itu terdapat juga kitab “ ad Durarus Saniyah firraddi alal Wahabiyah “ yang ditulis oleh Syeikh Sayud Ahmad Zaini Dahlan ( wafat tahun 1304 H ). Beliau merupakan seorang ulama besar Mufti Safi’i di Makkah dan kitab yang ditulis oleh ulama Wahabi sendiri yang berjudul “ Al Hijatussaniyah wat Tuhtaful Wahabiyah an Nijdiyah “ yang diterbitkan pada tahun 1344 H oleh penerbit Ummulqura Makkah, sehingga pernyataan Wahabi ini sebagai firqah salah nama bisa dikatakan seluruhnya salah

Pada masa mudanya, Muhammad bin Abdul Wahab berguru kepada ayahnya sendiri, Abdul Wahab dan setelah dewasa dia belajar kepada beberapa ulama besar di Makkah dan Madinah. Dari sinilah sesungguhnya awal mula pemahaman radikal muncul dalam diri Muhammad bin Abdul Wahab. Menurut penilainya, orang – orang di Makkah dan Madinah serta umat islam secara keseluruhan sudah tersesat dan terjebak dalam kekafiran karena dia menyaksikan banyaknya umat Islam yang datang berziarah ke kuburan Nabi SAW dan berdo’a di sana. Perbuatan ini menurutnya tidak sesuai dengan syari’at Islam

Selanjutnya Muhammad bin Abdul Wahab ini pindah ke Basarah. Di basrah di mulai mengeluarkan fatwa – fatwanya yang menantang dan mengharamkan segala bentuk perbuatan yang menurutnya telah keluar dari syariat Islam yang benar dan pelakunya telah kafir kepada Allah. Karena fatwanya yang aneh – aneh ini, oleh penguasa Basarah ketika itu dia diusir dari Basrah. Selanjutnya dia pindah ke Hassa dan berguru ke pada Syeikh Abdullah bin Abdul Lathif yang merupakan seorang ulama di Hassa. Setelah itu dia pindah ke Huraimalah, sebuah desa kecil di Nejdi

Dari Huraimalah Muhammad bin Abdul Wahab ini, selanjutnya di pulang ke kampung halamannya sendiri di ‘Aniyah dan melanjutkan fatwanya di sana, Namun karena fatwa – fatwanya yang aneh dan ganjil itu, Utsman bin Ahmad bin Ma’mar yang menjadi raja di ‘Aniyah mengusirnya dan bahkan berusaha untuk membunuhnya

Dari ‘Aniyah, Muhammad bin Abdul Wahab lari ke Dur’iyah dan meminta perlindungan kepada Muhammad bin Sa’ud yang merupakan raja yang berkuasa di Dur’iyah ketika itu. Dibawah perlindungan Muhammad bin Sa’ud, penguasa Dur’iyah, Muhammad bin Abdul Wahab mulai dengan leluasa mengembangkan ajarannya dengan mengeluarkan fatwa – fatwanya yang radikal

Melihat fatwa – fatwanya yang ternyata sangat bermanfaat bagi raja dan kerajaan, Muhammad bin Sa’ud selanjutnya memberikan perlindungan penuh kepada Muhammad bin Abdul Wahab sebagai ulama kerajaan, sehingga terjadilah koalisi yang saling menguntungkan antara Muhammad bin Sa’ud yang membutuhkan seorang ulama yang mampu mengisi ruhani rakyatnya dengan faham yang radikal guna memperkokoh dan mempertahankan kekuasaannya dan Muhammad bin Abdul Wahab juga membutuhkan seorang pelindung untuk mengembangkan fahamnya

Melalui koalisi antara Muhammad bin Sa’ud inilah selanjutnya Muhammad bin Abdul Wahab melalui Firqah Salah Nama ini berkembang merambah seluruh pelosok negeri Islam dengan slogan “ Mengembalikan Syariat Islam Kepada Al – Qur’an dan Sunnah Nabi SAW Sesuai Dengan Pemahaman dan Pengamalan Para Sahabat

Berdasarkan slogan tersebut, setiap para pengikut Wahabiyah sebelum melakukan ibadah dan perbuatan baik lainnya akan selalu mencari rujukannya terlebih dahulu. Apabila mereka tidak menemukan perbuatan tersebut pernah diperintahkan Nabi SAW dan atau pernah dilakukan nabi, maka baik perbuatannya atau pun tatacaranya dinyatakan sebagai perbuatan bid’ah yang tidak bermanfaat sama sekali dan pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka

Demikianlah sekilas lintas tentang firqah Wahabi yang mengklaim bahwa umat manusia yang beribadah dan berbuat kebaikan di muka bumi ini, apabila tidak sesuai dengan pemahaman keilmuan yang mereka pahami sudah dipastikan akan masuk neraka, Yang paling benar dan yang berhak untuk masuk surga hanyalah kaum Wahabi saja. Selain dari kelompok Wahabi dipastikan akan masuk neraka, seakan – akan surga dan neraka itu adalah warisan dari nenek moyang dan guru mereka Muhammad bin Abdul Wahab dan hanya merekalah yang paling berhak menentukan siapa yang pantas dan tidak pantas untuk masuk surga ( Kajian Firqah – Firqah Islam )

1 Comment to "Wahabi, Firqah Salah Nama Kaum Pemilik Surga"

  1. Ramli's Gravatar Ramli
    December 3, 2012 - 9:50 am | Permalink

    Wahabi identik dg Salafy yg suka mengkafirkan orang islam yg tidak sejalan dg pemikiran mereka.

Leave a Reply