Mu’tazilah Adalah Kaum Yang Menjadikan Akal Sebagai Raja

Mu’tazilah Adalah Kaum Yang Menjadikan Akal Sebagai Raja. Sesuai dengan namanya Mu’tazilh bersal dari kata I’itizal yang berarti menyisihkan diri dan kaum Mu’tazilah adalah kaum yang menyisihkan diri.

Bedasarkan asal usulnya yang paling kuat tentang sebab musabab kaum ini dinamai kaum Mu’tazilah adalah dimulai dari seorang guru besar di Bagdad yang bernama Syeikh Hasan Basri ( meninggal tahun 110 Hijriyah ). Beliau mempunyai banyak sekali murid, salah seorang muridnya ada yang bernama Wasil Bin ‘Atha ( meninggal tahun 131 Hijriyah )

Ketika Syeikh Hasan Basri menerangkan bahwa, apabila ada orang islam yang telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi ia kebetulan mengerjakan dosa besar, maka orang itu tetap muslim tetapi merupakan seorang muslim yang durhaka. Di Akhirat nanti, kalau dia wafat sebelum bertaubat dari dosanya, ia dimasukkan ke dalam neraka buat sementara waktu. Setelah dia menjalankan hukuman atas perbuatan dosanya di neraka, dia akan dikeluarkan dari neraka tersebut dan dimasukkan kedalam surga sebagai seorang mukmin dan muslim.

Wasil Bin ‘Atha tidak sependapat dengan gurunya itu, lantas dia membentak lalu keluar dari majelis gurunya dan kemudian membentuk majelis sendiri di pojok mesjid Basrah.. Selanjutnya Wasil Bin ‘Atha dinamai dengan kaum Mu’tazilah karena mengasingkan diri dari gurunya.

Dalam mengasingkan diri, Wasil Bin ‘Atha didampingi oleh seorang temannya yang bernama Umar Bin Ubeid ( meninggal Thaun 145 Hijriyah ), tetapi sejarah tidak mencatat watu tepatnya Umar Bin Ubeid mulai mengasingkan diri.

Selanjutnya dua orang ini yaitu Wasil Bin ‘Atha dan Umar Bin Ubeid dikenal sebagai guru besar dari faham Mu’tazilah yang penyebarannya dimulai kira – kira pada tahun 120 Hijriyah atau pada zaman khalifah Hisyim Bin Abdul Muluk dari Bani Umaiyah ( Berkuasa pada tahun 100 Hijriyah sampai dengan tahun 125 Hijriyah )

Sedangkan masa emas atau puncak dari kejayaan penyebaran faham Mu’tazilah ini adalah pada abad ketiga sampai abad kelima Hijriyah yaitu pada masa Khalifah Ma’mun Bin Harun Rasyid, Khalifah al-Mu’tashim Bin Harun Rasyid dan Khalifah Al- Watsiq Bin al- Mu’tashim

Salah satu keistimewaan bagi kaum Mu’tazailah ialah dalam cara mereka membentuk madzhabnya yaitu mereka kaum Mu’tazilah lebih banyak memakai akalnya dan atau lebih mengutamakan akalnya dari pada memakai Al-Qur’an dan Hadist sebagai landasan utama, sehingga segala sesuatu terlebih dahulu dipertimbangkan dengan mempergunakan akal baru kemudian memperhatikan ayat – ayat Al-Quran dan hadist.

Apabila sesuatu hal tidak bisa diterima oleh akal mereka, maka hal itu langsung ditolak walau Al-Quran dan Hadist telah dengan terang menyatakannya. Sehingga akal bagi kaum Mu’tazilah kedudukannya lebih tinggi dari pada Al-Quran dan Hadist

Apabila kita mencoba mempelajari dan mencermati kembali sejarah perkembangan islam dari tahun 40 Hijriyah sampai 232 Hijriyah, daerah – daerah islam sudah berkembang dengan sangat luas, mulai dari jazirah Arab sampai Parsia, India, Afganistan, Khuraisan bahkan pada masa itu orang islam sudah sampai ke Indonesia dan Tiongkok.

Banyak orang yang masuk islam tersebut berasal dari orang – orang Nasrani, Budha, Majusi dan ahli – ahli filsafat dari Yunani yang menganut faham filsafat Aristoteles dan faham filsafat Plato, Para Pendeta, Rahib – Rahib dan guru – guru besar Injil juga sangat banyak yang telah masuk islam.

Dan tentunya setelah masuk islam mereka juga turut membicarakan soal – soal ketuhanan dan soal – soal hukum dalam ajaran Agama Islam , pada hal dalam kepala mereka waktu itu masih melekat sangat kuat ajaran dan pemahaman agama lama mereka serta Pola pikir dan pemikiran mereka masih sangat dipenuhi oleh pemikiran – pemikiran dari ajaran agama mereka yang lama itu. Sedangkan Al-Quran dan Hadist belum banyak yang mereka fahami, sehingga ketika muncul faham Mu’tazilah yang menjadikan Akal sebagai raja, maka banyaklah diatara mereka yang tertarik memasuki ajaran dan pemahamn Mu’tazilah ini,

Selain itu diantara mereka yang masuk islam tersebut ada juga orang – orang yang berniat jahat terhadap islam yaitu mereka hendak mencoba menghancurkan ajaran Islam dari dalam dengan jalan memasukkan faham Nasrani, faham Yahudi, faham Budha, faham Yunani dan pemikiran pemikiran lain yang keliru yang bertentangan dengan Sunnah Nabi dan kitab suci Al-Quran kedalam Ajaran Islam yang suci

Hal itu semakin diperparah dengan sebuah kecelakaan besar yang terjadi untuk pemahaman ajaran Islam yang benar, yaitu ketika Khalifah Ma’mun Bin Harun Rasyid, demi kepentingan ilmu pengetahuan memerintahkan untuk menterjemahkan kitab – kitab Yunani ke dalam bahasa Arab, akibatnya pemahaman dari filsafat – filsafat Yunani mulai bercampur aduk kedalam ruang pemahaman agama Islam yang suci.

Selanjutnya muncullah nama – nama seperti Ibnu Rawandi, Abu Isa al Warraq, Ahmad Bin Haith dan Fudhal al Hadits yang dikenal sebagai orang – orang yang masuk islam dengan niat yang jahat. Hal itu dapat dilihat dari fatwa – fatwa aneh dan ganjil yang dikeluarkannya

Ibnu Ruwandi yang merupakan salah satu dari imam besar dari kaum Mu’tazailah dalam bukunya “ At Taj ” atau “ Mahkota “ dengan tegas mempertahankan pendapatnya yang mengatakan bahwa, Sesungguhnya alam ini bersifat Qadim yakni tidak berpermulaan adanya atau alam ini sama qadim-nya dengan Tuhan.

Dan dalam kitab “ az Zamradah “ dia juga dengan gigih mempertahankan pendapatnya yang mengatakan bahwa, sesungguhnya risalah Nabi – Nabi telah habis seiring dengan wafatnya nabi – nabi tersebut.

Dia juga pernah mencemooh dan menghina Kitab Suci Al-Quran dengan menyatakan bahwa, sesungguhnya ucapan – ucapan Aktsman Bin Saifi lebih bagus dan lebih manis dari pada salah satu ayat dalam surat ” Al-Kautsar “

Pendapat dan pemahaman yang dikembangkan oleh kaum Mu’tazailah ini jelas sangat berbahaya dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam sebagai agama tauhid terakhir yang risalahnya akan berlaku abadi sampai akhir zaman nantinya. ( Firqah – Firqah Dalam Islam )

Comments 1

  • Katanya dlm ajaran tauhid tdk ada yg trlepas dr pengetahuan Allah, knp anda mencaci maki paham lain,,,, bukankah mu’tazilah ini Allah dh tau???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.