Ibnu Taimiyah Seorang Ulama Besar Berotak Miring

Ibnu Taimiyah Seorang Ulama Besar Berotak Miring. Ibnu Taymiyah dengan nama lengkap Ahmad Taqiyuddin Abu Abbas Bin Syaihabuddin Abdul Mahasin Abdul Halim Bin Syeikh Majduddin Abil Barakat Adussalam Bin Abi Muhammad Abdillah Bin Abi Qasim al Khadar bin Muhammad Bin Al Khadar Bin Ali Bin Abdillah dilahirkan di desa Heran sebuah desa Kristen Shabiin di salah satu tempat terpencil di Palestina pada tanggal 10 Rabiul Awal tahun 661 Hijriyah

Sedangkan asal dari kata Taimiyah sendiri pada nama Ahmad Taqiyuddin adalah dari neneknya yang bernama Muhammad Bin Al Khadhar yang pergi naik haji ke Mekkah melewati jalan Taima.

Sekembali dari haji dia mendapati isterinya telah melahirkan seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Taimiyah untuk mengenang jalan yang dilalui neneknya waktu berangkat haji, keturunannya kemudian disebut dengan keturunan Ibnu Taimiyah

Pada umur 7 tahun, kerena perperangan dengan kaum Tartari, Ahmad Taqiyuddin bersama ayahnya berangkat dan tinggal di Damsyik sampai akhir hayatnya ( Tahun 724 Hijriyah ). Dalam sejarah hanya tercatat sebanyak dua kali Ahmad Taqiyuddin pergi ke Mersir

Ibnu Taimiyah dalam sejarahnya kemudian menjadi seorang alim yang besar, Pengetahuannya banyak tentang Fikih dari Mazhab Hambali dan juga menguasai ilmu Usuluddin. Ibnu Taimiyah mengajar di Bani Umayyah di Damsyik denganjumlah murid yang sangat banyak.Penduduk Damsyik pun sangat menghormati Ibnu Taimiyah

Ibnu Bathuthah sebagai mana diketahui adalah seorang pengembara dunia pada abad ke VII Hijriyah. Ibnu Bathuthah sendiri berasal dari Tanjah dan pernah bertemu secara langsung dengan Ibnu Taimyah dan pernah beberapa kali mengkuti pengajian yang dilaksanakan oleh Ibnu Taymiyah ini

Ibnu Bhathutah dalam bukunya ” Rahlan Ibnu Bathuthah “ Jilid I mengatakan tentang Ibnu Taimiyah ini, bahwa : ” Adalah di kota Damsyik, Syiria, seorang ahli fikiq yang besar dalam mazahab Hambali. Namanya Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Ia banyak menbicarakan soal- soal ilmu pengetahuan, tetapi sayang sekali otaknya sedikit goncang “.

Pernyataan ini disampaikan Ibnu Bhathutah kerena fatwa Ibnu Taimiyah yang sangat menyimpang jauh dari kaidah Islam yang merupakan agama tauhid terakhir, dimana dalam fatwanya Ibnu Taimiyah menyampaikan bawa Tuhan itu mempunyai muka, tangan, mata, rusuk, duduk bersila, datang dan pergi, Tuhan itu adalah cahaya langit dan bumi, Tuhan berada diatas langit dan bisa ditunjuk dengan jari dan lain sebagainya.

Melihat kekeliruan dan kesesatan faham dari Ibnu Taimiyah ini, maka faham Ibnu Taimiyah ini tergolong kepada Faham Musyabbihah yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk atau Mujassimah yang menubuhkan Tuhan seperti manusia dan Hasyawiyah yang merupakan faham omong kosong belaka karena percakapannya sangat hina dina dan sudah melampaui batas, sehingga tidak layak menjadi ikutan.

Pada tahun 705 Hijriyah Ibnu Taimiyah diadili di Mesir karena fatwanya yang keliru dan dipenjara selama 18 tahun bersama dengan dua orang saudaranya yang bernama Syarafuddin dan Zainuddin

Setelah keluar dari penjara, Ibnu Taimiyah kembali melanjutkan fatwanya dengan mengatakan bahwa Tuhan duduk diatas Arsy, Tuhan bertempat, Tuhan turun ke langit dunia serta mulai menyerang para ulama – ulama sufi dan mencaci maki pengajian – pengajian tasawuf yang banyak berkembang di Mesir yang berakibat Dia dimasukkan kembali ke Penjara.

Setelah keluar dari penjara, Ibnu Taimiyah terus melanjutkan fatwanya dan mengatakan bahwa seluruh ulama – ulama Islam yang terkumpul dalam empat mazahab dan ulama – ulama Usuluddin adalah tukang Bid’ah. Yang paling benar dan paling bersih dari Bid’ah hanyalah dirinya saja, sehingga pada tahun 709 Hijriyah Ibnu Taimiyah dibuang selam tujuh bulan ke Iskandariyah

Pada tahun 712 Hijriyah, Ibnu Taimiyah kembali ke Damsyik melanjutkan fatwa dan pengajarannya, sehingga pada tahun 718 Hijriyah, penguasa Damsyik melarang Ibnu Taimiyah menyampaikan fatwanya, tapi Ibnu Taimiyah menolak, sehingga pada 22 Rajab tahun 720 Hijriyah Ibnu Taimiyah dimasukkan kembali ke penjara sampai akhirnya meninggal dengan cara yang tragis dan terhina pada 27 Syawal 728 Hijriyah di penjara benteng Damsyik setelah dipenjara selama beberapa tahun

Demikian akhir dari riwayat seorang Ibnu Taimiyah yang merupakan seorang ulama besar dengan ilmu pengetahun yang sangat luas dengan otak yang miring

Tersebut dalam kitab ” Dafus Syubah man tasyabbah wa tamarad “ yang ditulis oleh Mufti dan Taqiyuddin al Husaini ad Dimsyaqi :

” mengabarkan Abu Hasan Ali ad Dimsyaqi, ia terima dari bapaknya, bahwa bapaknya menghadiri majelis Ibnu Taimiyah di mesjid Damsyik “.

Ibnu taimiyah memberi pelajaran dihadapan umum. Ketika ia sampai kepada pengajian ayat ” Tuhan istiwa di atas Arsy ” maka ia ( ibnu Taimiyah ) mengatakan bahwa Tuhan duduk bersila serupa sela saya ini. “

Ketika itu para pendengar jadi ribut dan marah, sehingga ia dilempari dengan sepatu dan sandal, Dia diturunkan dari kursi duduknya. ditampar dan dipukuli bersama – sama

Dari dua keterangan tentang Ibnu Taimiyah yang bersumber dari Ibnu Bhathutah dan Taqiyuddin al Husaini dapatlah disimpulkan bahwa faham Ibnu Taimiyah ini tergolong faham Mussyabbihah yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk. ( Firqah – Firqah Dalam Islam )

Comments 4

  • … dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh …
    firanda.com/index.php/component/search/?searchword=musyabbihah&ordering=newest&searchphrase=all&limit=20

  • HUKUM MENGOLOK-OLOK ULAMA DAN ORANG-ORANG SHALIH
    almanhaj.or.id/content/3016/slash/0

    MEMBELA SYAIKH IBNU TAIMIYAH RAHIIMAHULLAHU TA’ALA
    yayasanalhanif.org/membela-syaikhul-islam-ibnu-taimiyyah/

  • Tarekat-Tarekat Sufi Dan Wirid-Wiridnya==almanhaj.or.id/content/1437/slash/0

    MENGENAL SYAIKH ABDUL QODIR JAILANI RAHIIMAHULLAH …mifty-away.tripod.com/id17.html
    metafisis.wordpress.com/2011/01/12/siapakah-syeikh-abdul-qadir-al-jailani/

  • terang saja sumber dari al-akh hanya dua orang tersebut, apalagi dua orang tersebut memang penentang dakwah ibnu taymiyyah, jadi tidak pantas jika al-akh mengambil hanya dari kedua orang ulama tersebut, dan perlu diketahui semua informasi yang al-akh sampaikan dusta, karena antum hanya copy-paste dan tidak pantas jika antum menajdikannya sebagai pendapat untuk menyerang sosok ulama islam yang besar seperti Ibn Taymmiyyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.