Ahmadiyah Adalah Faham Sesat Dari Kesesatan Syi’ah ( 3 )

Ahmadiyah Adalah Faham Sesat Dari Kesesatan Syi’ah ( 3 ) Sebagaimana pemahaman yang dikembangkan oleh ajaran – ajaran sesat lainnya, Mirza Ghulam Ahmad sang pencetus faham Ahamadiyah, juga mengkampanyekan kalimat atau slogan yang sama yaitu  menyempurnakan ajaran islam yang masih belum sempurna, sehingga dialah kesempurnaan itu, para pengikut faham Ahmadiyah adalah orang – orang yang mengikuti dan mengamalkan ajaran islam yang sudah disempurnakan oleh Mirza Ghulam Ahmad . Barang siapa yang tidak mempercayai dan menjadi pengikutnya dinyatakan sebagai orang – orang yang kafir

Basyiruddin, salah satu adik Mirza Ghulam Ahmad, mengatakan: ” Di Lucknow, seseorang menemuiku dan bertanya: “Sebagaimana berita yang tersebar di kalangan orang ramai, benarkah anda telah mengafirkan kaum Muslimin yang tidak menganut agama Ahmadiyah?” Pertanyaan itu aku jawab: “Tak syak lagi, kami memang telah mengkafirkan kalian!” Mendengar jawabanku itu, orang tadi terkejut dan tercengang keheranan.”
(Anwar Khilafat, hal. 92).

” Barangsiapa mengingkari Ghulam Ahmad sebagai ‘nabi’ dan ‘rasul’ Allah, sesungguhnya ia telah kufur kepada nash Quran. Kami mengafirkan kaum Muslimin karena mereka membeda-bedakan para rasul, mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian lainnya. Jadi, mereka itu kuffa ! “ ( Kitab al-Fazal hal. 5 ).

Untuk menguatkan pendapat tentang martabat kenabian dan pangkat kerasulan atas dirinya, maka Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya membangun konsep pemikiran sesat dan menyimpang dari kosep pemikiran manusia pada umumnya dengan tujuan untuk mendukung kesesatan misi mereka, termasuk didalamnya meberikan penafsiran ayat Al – Quran yang disesuaikan dengan kehendak seleranya saja tanpa memperhatikan kaidah – kaidah hukum yang berlaku dalam menafsirkan sebuah ayat Al – Quran

” Khataman Nabiyiin “ dalam surat Al Ahzab ayat 40, menurut penafsiran seluruh ulama dari faham Ahlulussunah wal jamaah yang termuat dalam kitab – kitab tafsirnya seperti tafsir Khazen, Tafsir Nasafi, Tafsir Jalalein, Tafsir Shawi, Tafsir Ibnu Katsir dan lain – lain, menyatakan bahwa “ Khataman Nabiyiin “ itu berarti tidak ada lagi Nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah Nabi dan Rasul yang penghabisan, Nabi dan Rasul yang akhir, Nabi dan Rasul Akhir Zaman

Karena penafsiran dari para ulama Ahlulussunah wal jamaah tersebut nyata dan terang sangat tidak mendukung keinginan Mirza Ghulam Ahmad untuk menjadi Nabi dan rasul, maka dibuatlah penfasiran yang lain yang mendukung kehendak nafsunya itu, yaitu ‘dengan menafsirkan bahwa ” Khataman Nabiyiin “ itu berarti “ Nabi dan Rasul terakhir yang membawa syariat ” Penambahan arti dan makna dengan kata Yang membawa syariat ” kemudian dijadikan sebagai salah satu dasar utama dalam pemahaman ajaran Ahmadiyah, sehingga selanjutnya, pintu bagi Mirza Ghulam Ahmad untuk menjadi Nabi dan Rasul menjadi terbuka kembali yaitu dengan membangun pemahaman bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul yang tidak membawa syariat baru tetapi, Mirza Ghulam Ahmad hanya menyempurnakan syariat yang belum sempurna diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Mirza Ghulam Ahmad berkata : “ Seperti yang aku katakan berkali-kali bahwa apa yang aku bacakan kepadamu adalah benar-benar kalam Allah, sebagaimana al Quran dan Taurat adalah Kalam Allah, dan bahwa aku adalah seorang Nabi ” Dzilli ” ( Nabi yang mendapat wahyu dan syariat ) dan ” Buruzi “. ( Nabi yang tidak membawa syariat ) Dan setiap muslim harus mematuhiku dalam masalah-masalah agama. Siapa saja yang mengetahui kabarku tentang diriku, tetapi tidak menjadikanku hakim dalam memutuskan masalahnya, ataupun tidak mengakuiku sebagai Al Masih yang dijanjikan, ataupun tidak mengakui wahyu yang aku terima dari Tuhan, maka dia akan mendapat azab di akhirat kelak karena dia telah menolak apa yang seharusnya dia terima “. ( Tuhfat an Nadwah hal. 4 ).

Dalam kitab – kitab yang lain, Mirza Ghulam Ahmad menyatakan : ” Jadi ketahuilah wahai umat Muhammad, bahwa akulah satu-satunya yang telah menerima sebagian besar wahyu daripada Allah taala dan juga menerima pengetahuan tentang alam ghaib. Tak seorangpun dari orang suci sebelumku yang diberi karunia besar seperti ini. Atas dasar ini, aku telah dipilih sebagai seorang Nabi dan tidak akan ada lagi yang berhak menyandang gelar ini “ ( Haqiqatul Wahyu, hal. 391 ).

Pengakuan ini juga terdapat dalam ” Akhbar ‘Am’ “ “Saya Nabi menurut hukum Allah. Seandainya saya mengingkarinya, tentunya saya berdosa. Ketika Allah menamai saya Nabi, bagaimana saya bisa mengingkarinya. Saya akan mengikuti akidah ini sampai saya berpindah dari dunia ini.”

Dengan pengakuan pangkat kenabian dan martabat kerasulan yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, secara nyata telah menyimpang dari pemahaman islam tentang risalah kenabian dan risalah kerasulan yang difahami dan diyakini dalam ajaran islam yang lurus lagi benar. Ketahuilah bahwa sesungguhnya rislah kenabian dan risalah kerasulan telah berakhir sampai dengan kedatangan Rasulullah Muhammmad SAW. Tidak ada ada lagi Nabi dan Rasul setelah Baginda Rasulullah dengan dan atau tanpa syariat. Keyakinan ini termasuk salah satu dari Rukun Iman. // bersambung ( firqah – firqah Islam )

Comments 2

  • Hadits2 Ahlsunnah ttg Penetapan Walayah (Kepemimpinan) Ali bin Abi Thalib as. setelah Wafat Rasulullah saaw.

    1. Imam Ali as meminta saksi atas kepemimpinan dirinya.
    Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku telah menceritakan kepadaku [‘Ubaidullah bin Umar Al Qawariri] telah menceritakan kepada kami [Yunus bin Arqam] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Abu Ziyad] dari [Abdurrahman bin Abu Laila] berkata; saya menyaksikan [Ali] Radhiallah ‘anhu meminta orang-orang untuk bersaksi di Rahabah; “Demi Allah, siapa yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir Khum: “Barangsiapa saya menjadi walinya maka Ali juga menjadi walinya, ” tatkala belau berdiri dan bersaksi, ” Abdurrahman berkata; dua belas orang ahli Badar berdiri, sampai aku dapat melihat salah seorang dari mereka. Mereka berkata; kami bersaksi bahwa kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Ghadir Khum: “Bukankah Saya lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka, dan istri-istriku adalah ibu mereka.” Kami menjawab; “Ya. Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Barangsiapa saya menjadi walinya maka Ali juga menjadi walinya. Ya Allah lindungilah orang yang berwali kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
    (Musnad ahmad, hadits no.915 juga terdapat pada hadits no.606, 633,18497 1242)

    Dengan hadits yg sama, …Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Hakim] telah memberitakan kepada kami [Syarik] dari [Abu Ishaq] dari [‘Amru Dzi Murrin] sebagaimana hadits Abu Ishaq yaitu dari Sa’id dan Zaid, dan tambahan redaksi di dalamnya; “Tolonglah orang yang menolongnya, hinakan orang yang menghinakannya.”
    (musnad ahmad hadits no.906)

    [Aswad bin ‘Amir] telah mengabarkan kepada kami [Isma`il] dari [Al Hakam] dari [Abu Sulaiman] dari [Zaid bin Arqam] dengan hadits yg serupa sejumlah enambelas orang berdiri lalu bersaksi.
    (musnad ahmad hadits no. 22062)

    Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja’far] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Abu Ishaq] berkata; Aku mendengar [Sa’id bin Wahb] berkata; ‘Ali menyumpah orang-orang kemudian [lima atau enam sahabat] Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri lalu bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang aku adalah pemimpinnya maka ‘Ali adalah pemimpinnya.”
    (musnad ahmad hadits no. 22028)

    Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Umar Al Waqi’i] telah menceritakan kepada kami [Zaid bin Al Hubab] telah menceritakan kepada kami [Al Walid bin ‘Uqbah bin Nizar Al ‘Ansi] telah menceritakan kepadaku [Simak bin ‘Ubaid bin Al Walid Al ‘Absi] berkata; saya menemui [Abdurrahman bin Abu Laila] kemudian dia menceritakan kepadaku bahwa dia menyaksikan [Ali] Radhiallah ‘anhu di Rahabah berkata; “Demi Allah, saya meminta kepada orang yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyaksikan hari Ghadir Khum untuk berdiri, dan jangan berdiri kecuali orang yang melihat beliau.” Maka berdirilah dua belas orang laki-laki, mereka berkata; “Kami melihatnya dan mendengarnya, saat beliau mengambil tangannya dan bersabda: “Ya Allah lindungilah orang berwali kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Tolonglah orang yang menolongnya dan hinakan orang yang menghinakannya.” Maka berdirilah kecuali tiga orang. Lantas dia mendoakan kebinasaan bagi mereka, sehingga mereka tertimpa musibah dengan doa tersebut.
    (musnad ahmad hadits no. 918)

    2.Pengangkatan Imam Ali as di Ghadir Khom sebagai pemimpin setelah Rasulullah saaw.

    Telah menceritakan kepada kami [‘Affan] Telah menceritakan kepada kami [Abu Awanah] dari [Al Mughirah] dari [Abu Ubaid] dari [Maimun Abu Abdullah] ia berkata, [Zaid bin Arqam] berkata sementara saya mendengarnya; Kami pernah singgah di suatu lembah yang bernama Wadi Khum bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian beliau memerintahkan untuk shalat, maka beliau pun shalat pada pertengahan hari saat terik matahari begitu menyengat. Setelah itu, beliau berkhutbah kepada kami, sementara beliau dinaungi dari panasnya terik matahari dengan kain yang diletakkan di atas pohon Samurah. Kemudian beliau bersabda: “Bukankah kalian telah mengetahui, bahwa saya adalah lebih utama terhadap setiap mukmin atas diri mereka sendiri?” para sahabat menjawab: “Benar.” Beliau bersabda: “Maka siapa saja yang aku menjadi walinya, maka Ali adalah walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
    (musnad ahmad hadits no. 18519)

    Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] Telah menceritakan kepada kami [Abdul Malik] yakni Ibnu Abu Sulaiman, dari [Athiyah Al ‘Aufi] ia berkata; Saya bertanya kepada Zaid bin Arqam, saya berkata, “Sesungguhnya, mertuaku telah menceritakan kepadaku suatu hadits dari Anda, terkait dengan Ali radliallahu ‘anhu pada hari Ghadir Khum. Dan saya suka, untuk mendengarnya langsung darimu.” [Zaid] pun berkata, “Kalian adalah penduduk Irak, dosa kalian adalah (dosa) yang terdapat pada diri kalian sendiri.” Saya pun berkata kepadanya: “Dariku tidak ada masalah denganmu.” Ia berkata, “Ya. Waktu itu, kami berada di Juhfah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui kami pada waktu zhuhur. Beliau memegang lengan Ali radliallahu ‘anhu seraya bersabda: “Wahai sekalian manusia, bukankah kalian telah mengetahui, bahwa saya adalah lebih utama bagi kaum muslimin atas diri mereka sendiri?” para sahabat menjawab: “Benar.” Beliau bersabda: “Maka siapa saja yang aku menjadi walinya, maka Ali juga menjadi walinya.” Saya bertanya kepada Zaid, “Apakah beliau mengatakan; ‘Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya dan musuhilah orang yang memusuhinya.’?” Zaid menjawab; “Yang saya beritakan kepada kalian hanyalah sebagaimana apa yang saya dengar.”
    (musnad ahmad hadits no. 18476)

    Telah menceritakan kepada kami [Waki’] telah menceritakan kepada kami [Al A’masy] dari [Sa’id bin ‘Ubaidah] dari [Ibnu Buraidah] dari [ayahnya] berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang aku adalah pemimpinnya maka ‘Ali adalah pemimpinnya.”
    (musnad ahmad hadits no. 21979)

    Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bassyar] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja’far] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Salamah bin Kuhail] dia berkata; saya mendengar [Ath Thufail] bercerita dari [Abu Sarihah] atau [Zaid bin Arqam] -Syu’bah ragu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sekiranya aku menjadikan seorang wali, maka Ali adalah walinya.” Abu Isa berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan gharib. Dan hadits ini juga telah di riwayatkan pula oleh [Syu’bah] dari [Maimun Abu Abdullah] dari [Zaid bin Arqam] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti di atas. Sedangkan Abu Sarihah adalah Hudzaifah bin Asid Al Ghifari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”
    (Shahih Turmudzi hadits no. 3646)

    Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Muhammad] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abul Husain] berkata, telah mengabarkan kepadaku [Hammad bin Salamah] dari [Ali bin Zaid bin Jud’an] dari [Adi bin Tsabit] dari [Barra` bin ‘Azib] ia menuturkan, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat haji diwaktu beliau melakukan haji. Lalu beliau singgah di tengah perjalanan, beliau lalu memerintahkan shalat berjama’ah. Kemudian beliau memegang tangan Ali radliallahu ‘anhu dan bersabda: “Bukankah aku lebih utama bagi kaum mukmin dari pada jiwa-jiwa mereka?” Para sahabat menjawab; “Benar.” Beliau melanjutkan kembali: “Bukankah aku lebih utama bagi seorang mukmin dari pada dirinya? Mereka menjawab; “Benar”. Beliau bersabda: “Maka ini (Ali) merupakan wali bagi orang yang menjadikan aku sebagai walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang mencintainya. Ya Allah, musuhilah orang yang memusuhinya.”
    (Sunan Ibnu Majah hadits no. 113)

    3.Tafsiran Hadits Ghadir Khum atas Wilayah (kepemimpinan) Ali as.

    Telah menceritakan kepada kami [Affan] Telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] telah mengabarkan kepada kami [Ali bin Zaid] dari [Adi bin Tsabit] dari [Al Baraa` bin Azib] ia berkata; Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Kemudian kami singgah di Ghadir Khum dan tak lama kemudian adzan shalat pun dikumandangkan. Sebagai tempat beliau, dibersihkanlah semak-semak yang berada di bawah dua batang pohon, baru kemudian beliau shalat Zhuhur. Setelah itu, beliau langsung memegang tangan Ali radliallahu ‘anhu seraya bertanya: “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa diriku lebih berhak terhadap kaum mukminin atas diri mereka sendiri?” para sahabat menjawab, “Benar.” Beliau bertanya lagi, “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa saya lebih berhak terhadap setiap mukmin atas dirinya sendiri?” para sahabat menjawab, “Benar.” Kemudian beliau memegang erat tangan Ali dan bersabda: “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali juga merupakan wali baginya. Ya Allah, tolonglah orang-orang yang menolongnya, dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Setelah itu, Umar bin Khaththab Radliayallahu ‘Anhu berkata, “Selamat bagimu wahai Ali, kamu telah menjadi wali bagi setiap mukmin dan mukminah.” Abu Abdurrahman berkata, Telah menceritakan kepada kami [Hudbah bin Khalid] Telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] dari [Ali bin Zaid] dari [Adi bin Tsabit] dari [Al Barra` bin ‘Azib] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semisalnya.
    (Musnad Ahmad hadits no.17749)

    Telah bercerita kepada kami [Yahya bin Adam] telah bercerita kepada kami [Hanasy bin Al Harits bin Laqith An Nakha’I Al Asyja’i] dari [Riyah bin Al Harits] berkata; Serombongan orang mendatangi ‘Ali di Rahbah, mereka mengucapkan; ASSALAAMU ‘ALAIKA YA MAULAANAA? ‘Ali berkata; Bagaiamana aku menjadi pemimpin kalian sementara kalian adalah kaum ‘arab. Mereka berkata; Kami mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda saat hari Ghadir KHumm: “Barangsiapa yang aku adalah pemimpinnya maka orang ini adalah pemimpinnya.” Berkata Riyah: Saat mereka pergi, aku mengikuti mereka lalu aku tanya siapa mereka, mereka menjawab: Mereka adalah sekelompok orang Anshar, diantara mereka ada [Abu Ayyub Al Anshari]. Telah bercerita kepada kami [Abu Ahmad] telah bercerita kepada kami [Hanasy] dari [Riyah bin Al Harits] berkata: Aku mendengar sekelompok kaum dari Anshar mendatangi ‘Ali di Rahbah lalu berkata; Siapa mereka? Mereka menjawab: Mereka adalah rakyatmu wahai Amirul Mu`minin. Lalu ia Riyah menyebut maknanya.
    (musnad ahmad hadits no. 22461)

    Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Muhammad] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Mu’awiyah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Musa bin Muslim] dari [Ibnu Sabith] -yaitu Abdurrahman- dari [Sa’d bin Abu Waqqash] ia menuturkan; Mu’awiyah tiba dari sebagian pelaksanaan ibadah hajinya, lalu masuklah Sa’d menemuinya, mereka memperbincangkan Ali dan menggunjingnya. Maka marahlah Sa’d seraya berkata: “Kamu katakan ini kepada seorang lelaki yang aku sendiri mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali (juga) walinya.” Dan aku mendengarnya bersabda: “Kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.” Dan aku mendengarnya bersabda: “Sungguh aku akan memberikan bendera pada hari ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
    (Sunan Ibnu Majah hadits no. 118)

    4. Imam Ali as telah di nubuwah sebagai pemimpin sepeninggal Rasul saaw sebelum peristiwa Ghadir Khum.

    Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah bercerita kepadaku [Ajlah Al Kindi] dari [‘Abdullah bin Buraidah] dari ayahnya, [Buraidah], berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin ‘Ali bin Abi Thalib dan yang lain dipimpin Khalid bin Al Walid, beliau bersabda: “Bila kalian bertemu maka yang menjadi pemimpin adalah ‘Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya.” Buraidah melanjutkan: “Kami bertemu dengan Bani Zaid dari penduduk Yama, kami berperang lalu kaum muslimin memenangkan kaum musyrikin, kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian ‘Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya sendiri. Khalid bin Al Walid mengirim surat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan hal itu. Saat aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku menyerahkan surat, surat pun dibacakan dihadapan beliau lalu aku melihat muka marah diwajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian aku berkata: Wahai Rasulullah! Inilah aku meminta perlindungan kepadamu, sebab engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang lelaki dan baginda memerintahkanku untuk menaatinya, dan aku hanya melakukan tugasku karena diutus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, Jangan membeci ‘Ali karena ia bagian dariku dan aku bagian darinya, ia adalah pemimpin kalian sepeninggalku, ia bagian dariku dan aku bagian darinya, ia adalah pemimpin kalian sepeninggalku.”

    (Musnad Ahmad hadis no 21934).
    Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [Ja’far bin Sulaiman Adl Dluba’i] dari [Yazid Ar Risyk] dari [Mutharrif bin Abdullah] dari [Imran bin Hushain] dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sebuah ekspedisi perang dan mengangkat Ali bin Abu Thalib sebagai pemimpin mereka, lalu Ali (menggauli) seorang budak perempuan (dalam sariyah tersebut). Sehingga merekapun mengingkari perbuatan Ali, dan empat sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadakan kesepakatan, dan mereka berkata; “Bila kita bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita laporkan apa yang telah diperbuat oleh Ali.” Dan apabila kaum muslimin kembali dari peperangan, mereka akan menghadap dan mengucapkan salam terlebih dahulu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka pergi kerumah masing-masing. Maka tatkala ekspedisi perang tersebut telah kembali, mereka menghadap kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka salah seorang diantara empat orang tersebut berdiri sambil berkata; “Wahai Rasulullah! Tidakkah anda mengetahui (apa yang di perbuat) Ali bin Abi Thalib, dia telah melakukan begini dan begini.” Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling darinya. Lalu berdirilah laki-laki yang kedua seraya mengatakan seperti apa yang dikatakannya, namun beliau masih berpaling darinya. giliran lelaki yang ketiga, dia berdiri sambil mengatakan seperti apa yang dikatakannya, namun beliau tetap berpaling darinya. Lalu berdirilah lelaki keempat seraya mengatakan seperti apa yang telah mereka katakan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan mukanya dan tampak dari raut wajahnya beliau sangat marah, baliau bersabda: “Apa yang kalian inginkan dari Ali?” Apa yang kalian inginkan dari Ali? Apa yang kalian inginkan dari Ali? Sungguh Ali adalah bagian dariku dan aku juga termasuk bagian darinya, dia adalah walinya setiap orang yang beriman sepeninggalku.”
    (Shahih Turmudzi hadits no. 3645)

    Telah menceritakan kepada kami [Waki’] telah menceritakan kepada kami [Al A’masy] dari [Sa’id bin ‘Ubaidah] dari [‘Abdullah bin Buraidah] dari [ayahnya] bahwa ia melewati suatu majlis, mereka membicarakan ‘Ali lalu ia berhenti dihadapan mereka, ia berkata: dulu dalam diriku ada sesuatu ganjalan terhadap ‘Ali, dan Khalid bin Al Walid juga seperti itu lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku dalam tentara ekspedisi pasukan dipimpin ‘Ali, kami menangkap tawanan kemudian ‘Ali mengambil seorang budak wanita dari harta rampasan perang untuk dirinya sendiri kemudian Khalid berkata: Mundur. Buraidah melanjutkan: Saat kami tiba dihadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku menceritakan yang terjadi kepada beliau lalu aku berkata: ‘Ali mengambil seorang budak wanita dari harta rampasan perang. Buraidah berkata: Aku adalah orang yang biasa menunduk kemudian aku mengangkat kepalaku, ternyata wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah lalu bersabda: “Barangsiapa yang aku adalah pemimpinnya maka ‘Ali adalah pemimpinnya.”
    (Musnad Ahmad hadis no 21950).

    Telah menceritakan kepada kami Abdullah Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Hammad] telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Awanah] telah menceritakan kepada kami [Abu Balj] telah menceritakan kepada kami [Amru bin Maimun] berkata; “aku duduk di samping [Ibnu Abbas], ketika itu datang Sembilan orang kepadanya, lalu mereka berkata; ‘Wahai Abu Abbas..’.” Dari Amr bin Maimun berkata: Ketika aku duduk-duduk dekat Ibnu Abbas tiba-tiba datang sembilan orang sambil berkata: “Wahai Ibnu Abbas, pilihlah, apakah engkau yang ikut bersama kami ataukah mereka yang akan terus bersama kami di sini!”, Ibnu Abbas berkata: “baiklah aku akan ikut kalian”, Amr bin Maimun berkata: ketika itu Ibnu Abbas masih sehat sebelum dia kehilangan penglihatannya, Amr berkata: lalu mereka mulai berbincang namun aku tidak tahu apa yang mereka ucapkan, kemudian Ibnu Abbas merekatkan bajunya sambil berkata: cukup, cukup, mereka telah mencela seorang lelaki yang memiliki sepuluh keutamaan, mereka telah mencela seorang lelaki yang Nabi berkata kepadanya: “Aku akan memberikan bendera (pada perang Khaibar) kepada seorang lelaki yang tidak akan Allah hinakan selamanya, dia mencintai Allah dan Rasulnya”, dan semuanya ingin mendapatkan kemuliaan tersebut. Nabi bertanya: dimanakah Ali? Para shahabat menjawab: “dia sedang membuat tepung di sebuah rumah”. Nabi berkata: “tidakkah salah seorang dari kalian yang melakukannya!” Ibnu Abbas berkata: lalu Ali datang dengan mata kesakitan dan hampir tidak dapat melihat, Berkata Ibnu Abbas: Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam meniup kedua matanya dan menggoyangkan bendera tiga kali lalu memberikannya kepada Ali, kemudian beliau datang dengan membawa Shofiyyah binti Huyay. Ketika itu Nabi telah mengutus seseorang untuk menyampaikan surat Taubah lalu beliau mengutus Ali dibelakangnya untuk mengambil alih tugas tersebut darinya, dan beliau berkata: “tidak ada yang menyampaikan surat tersebut kecuali seorang lelaki dari keluargaku,” Ibnu Abbas berkata: Nabi pernah berkata kepada anak-anak pamannya: siapakah yang bersedia menjadi pembelaku di dunia dan akherat? Ketika itu Ali sedang bersamanya, Namun para sahabat engga namun Ali berkata: Saya bersedia menjadi pembelamu di dunia dan akherat. Lalu Nabi berkata: “Engkau adalah pembelaku di dunia dan akherat.” berkata Ibnu Abbas: Ali juga orang yang pertama masuk Islam setelah Khodijah. Ibnu Abbas melanjutkan: Nabi juga mengambil bajunya dan memberikannya kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (Al Ahzab: 33). Berkata Ibnu Abbas: Ali Juga pernah mengorbankan nyawanya dengan memakai baju Rasulullah dan tidur di tempat beliau untuk menggantikannya padahal ketika itu orang-orang musyrikin melempari Nabi, kemudian Abu Bakar datang ketika Ali sedang tidur, Abu Bakar mengira yang tidur adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar memanggilnya: Wahai Rasulullah, Ali Menjawab: Sesungguhnya Rasulullah telah pergi ke sumur Maimun maka cepatlah engkau menyusul beliau.” Lalu Abu Bakar pun menyusulnya. Kemudian Ali lah yang dilempari dengan batu sebagaimana Rasulullah dilempari dan Ali tidak tahan hingga melindungi kepalanya dengan bajunya sampai pagi baru kemudian membukanya, lantas kaum musyrikin berkata: “Celakalah engkau, temanmu kami lempari namun dia bertahan sedang kamu kami lempari namun tidak tahan dan kami telah mencurigai akan hal ini.” Ibnu Abbas juga berkata: Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berangkat untuk perang Tabuk, Ali berkata kepada Nabi: Aku akan ikut bersama engkau, Nabi berkata: “Tidak”, lantas Ali pun menangis. Lalu Nabi berkata: Tidakkah engkau rela berada disisiku seperti kedudukannya Harun disisi Musa? Hanya saja engkau bukan seorang Nabi?, tidak sepatutnya Aku pergi kecuali engkau sebagai penggantiku di Madinah. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga berkata kepadanya: Engkau adalah waliku atas setiap mukmin sepeninggalku. Nabi juga berkata: Tutuplah semua pintu masjid (bagi yang junub) kecuali pintunya Ali, berkata Ibnu Abbas: lalu Ali masuk masjid dalam keadaan junub dan itu adalah jalannya tidak ada jalan untuknya kecuali jalan tersebut. Nabi juga bersabda: Barang siapa yang Aku adalah walinya maka Ali juga menjadi walinya. Beliau juga bersabda: Allah mengabarkan kepada kami di dalam Alquran bahwa Dia ridho atas orang-orang yang berbai’at di bawah pohon serta Dia juga mengetahui isi hati mereka, lantas apakah pernah Dia mengabarkan bahwa Dia membenci mereka setelah itu?. Berkata Ibnu Abbas: Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada Umar tatkala dia meminta izin untuk memenggal lehernya: Jika engkau lakukan, tahukah engkau siapa tahu Allah telah melihat isi hati Ahli Badar lalu berfirman: Berbuatlah sekehendak hati kalian. Bercerita kepada kami [Abu Malik] yaitu Katsir bin Yahya dia berkata: Telah bercerita kepada kami [Abu ‘Awanah] dari [Abu Balh] dari [Amr bin Maimun] dari [Ibnu Abbas] seperti hadits di atas.
    (Musnad Ahmad, Kitab “Dari Musnad Bani Hasyim” hadits no. 2903)

  • Exceptional defeat! I need to novice as you amend your web site, how do i sign up to to get a blog site? A bill aided us a appropriate offer. I’m a little bit common of the the over the air presented vibrant crystal clear thought

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.