Abdullah Bin Saba Sang Inisiator Faham Syi’ah ( 2 )

Abdullah Bin Saba Sang Inisiator Faham Syi’ah ( 2 ) – Syi’ah adalah salah satu firqah sesat dalam islam yang yang memahami bahwa Syaidina Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat Rasulullah yang lain, sehingga beliau dan seluruh anak cucu Syaidina Ali lah yang paling berhak untuk menjadi khalifah pengganti Rasulullah SAW. Syaidina Abu Bakar Syidiq, Syaidina Umar bin Khatab, Syaidina Usman bin Affan adalah orang – orang yang telah merampok dan merampas hak kepemimpinan dari Syaidina Ali bin Abu Thalib

Pemahaman ini pada awalnya di kembangkan oleh salah seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam pada zaman akhir dari pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Pendeta Yahudi tersebut bernama Abdullah bin Saba’ ( baca : Abdullah Bin Saba Sang Inisiator Faham Syi’ah ), karena pengakuan keislamannya sebagai seorang tokoh dan ulama Yahudi tidak mendapat sambutan yang luar biasa sebagai mana yang diharapkannya dari khalifah Usman dan para pemuka Islam yang lainnya, maka mulailah Abdullah bin Saba’ ini mengembangkan propaganda untuk memusuhi Khalifah Syaidina Usman dengan membuat dan menyebarkan aneka fitnah serta mengembangkan hadist – hadist palsu yang kemudian dikenal dengan hadist “ Ghadir Khum “

Ketika Rasulullah SAW kembali dari haji wada’ yang diikuti oleh kira – kira 114.000 orang sahabat dan umat islam lainnya, laki – laki dan perempuan. Pada saat menuju Madinah, beliau singgah di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum, Pada saat berada di Ghadir Khum ini Rasulullah SAW menyampaikan wasiat beliau yang menyatakan bahwa yang akan menggantikan atau menjadi khalifah setelah Beliau wafat adalah Ali bin Abu Thalib :

” Nabi Muhammad berjalan malam hari menuju Madinah, tatkala sampai disuatu tempat dekat Juhfah, Ghadir Khum, pada malam 18 Zulhijjah beliau berpidato dengan memegang dan mengangkat tangan Ali sambil berkata : “ Apakah saya tidak berhak kepada orang mukmin dari diri mereka ? “ Jawab pendengar : “ Ya, hai Rasu Allah “. Lalu Nabi Muhammad Saw menyambung lagi : “ Barang siapa yang menganggap saya pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya “

Dalam riwayat yang lain diceritakan bahwa : “ setelah Nabi Muhammad SAW, turun dari mimbar kemudian masuk ke dalam kemah beliau dan menyuruh mendirikan sebuah kemah lagi untuk Syaidina Ali disamping kemah Nabi, maka duduklah Ali di dalam kemah tersebut. Disanalah Rasulullah membai’ah Syaidina Ali sebagai Amirul  Mukminin,. Syaidina Umar dan seluruh sahabat laki dan perempuan pun mengikutinya “

Pengangkatan Syaidina Ali bin Abu Thalib ini sebagai khalifah pengganti Nabi difatwakan oleh golongan Syi’ah ini sebagai kelanjutan dari “ Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. “ ( QS : 005 : Al – Maa’idah : Ayat : 067 ).

Ayat tersebut turun merupakan peringatan kepada Rasulullah SAW karena Beliau telah enggan atau tidak mau menyampaikan risalah yang sudah diperintah Allah SWT untuk disampaikan yaitu perintah pengangkatan Syadina Ali sebagai Khalifah pengganti setelah Beliau wafat nantinya. Setelah mendapat peringatan dari Allah SWT melalui ayat tersebut, barulah beliau menyampaikan perintah pengangkatan Syaidina Ali bin Abu Thalib sebagai Khalifah Pengganti setelah Beliau di Ghadir Khum

Melalui hadist palsu tersebut, maka kalum Syi’ah berkeyakinan dan menyakini bahwa telah terjadi pengingkaran dan pembangkangan terhadap wasiat Rasulullah SAW dalam pengangkatan Khalifah yang seharusnya untuk Syaidina Ali bin Abu Thalib tetapi telah di rampok dan dirampas oleh para sahabat yang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah pada hari wafat Rasulullah SAW untuk diserahkan kepada Syaidina Abu Bakar, kemudian dilanjutkan oleh Syaidina Umar bin Khatab dan Syaidina Usman bin Affan

Karena hak kekhalifaan yang seharusnya dikuasai oleh Syaidina Ali bin Abu Thalib melalui hadist Ghadir Khum, maka kaum Syi’ah tidak pernah mengakui dan sangat membenci khalifah Abu Bakar, Syaidina Umar bin Khatab dan Syaidina Usman bin Affan. Bahkan saking bencinya kaum mereka terhadap khalifah – khalifah dan sahabat utama Rasulullah SAW ini, kaum Syi’ah tidak segan – segan meberikan kutukan dan mejatuhkan hukum khafir terhadap mereka dan sahabat – sahabat yang lain walau sebagian diantara para sahabat tersebut adalah termasuk orang – orang yang telah dijamin Allah langsung masuk surga tanpa hisab sebagai imbalan dan penghargaan atas pengabdian dan keikhlasan mereka dalam membela Islam sebagai agama tauhid terakhir dan kecintaanya yang sangat luar biasa terhadap Rasulullah Muhammad SAW,  melebihi cintanya terhadap diri mereka sendiri – Bersambung  ( Firqah – Firqah Islam )  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.