Memaknai Radikalisme Dalam Militansi Jihad Islam

Memaknai Radikalisme Dalam Militansi Jihad Islam – Islam sejak berabad-abad yang lalu sudah memiliki banyak musuh dan musuh yang banyak itu masih ada hingga sekarang. Sepanjang rentang waktu tersebut, kebenaran Islam semakin diterima dan diakui kebenarannya, sehingga satu – satunya cara yang bisa dilakukan untuk menyerang Islam hanyalah dengan menyebarkan fitnah dan kebohongan tentang Islam dan umat. Segala upaya akan mereka lakukan untuk menjauhkan umat Islam dari kebenaran ajaran agamanya seperti melalui propaganda kebohongan.

Salah satu kebohongan yang kerap dikabarkan oleh orang-orang yang ingin merusak Islam adalah dengan menyebarkan isu bahwa umat Islam menyebarkan agamanya dengan pedang, sebagaimana yang dipopulerkan oleh Edward Gibbon dalam Decline and Fall of the Roman Empire-nya yang menggambarkan tentang seorang prajurit Arab fanatik sedang mengendarai kuda menuju padang pasir dengan menghunus pedang disalah satu tangannya dan Al – Quran disalah satu tangannya yang lain, menawarkan pilihan diantara keduanya dengan kematian.

Gambaran tersebut bukan hanya salah tetapi juga mustahil terjadi, kecuali jika kita membayangkan pedang ditangan kiri, sebab dalam ajaran Islam, tangan kiri hanya digunakan untuk hal – hal yang kotor dan tidak ada seorang muslim pun, kini atau nanti akan menggunakannya untuk memegang Al – Quran.

Itulah salah satu kebohongan tentang Islam yang sangat terkenal yang diprakarsai oleh musuh – musuh Islam. Walau mustahil tapi kebehongan tersebut terus dimodifikasi dalam berbagai versi melalui teknik yang paling terkenal dalam perang propaganda yaitu penyebaran ‘informasi yang salah’ tentang pihak musuh secars berulang – ulang. Dengan mengulangi kebohongan yang sama berulang-ulang terbukti bisa membuat kemampuan berfikir kritis orang – orang yang mendengarnya akan mati rasa dan jika kebohongan itu ternyata tidak ada argumen yang melawannya, maka pada akhirnya kebohongan – kebohongan itu tidak bisa lagi dipisahkan dari kebenaran.

Kebohongan yang lain bisa dicermati dalam penggunaan kata “ militan ”. Karena kita mengikuti arus opini internasional, maka kata ini sudah dipahami oleh banyak orang sebagai kata yang “ buruk ”. Karena kata “ militan “  cendrung dikaitkan dengan terorisme. Padahal, makna kata “ militan ”  sendiri sebenarnya dapat bermakna baik, yaitu bersemangat dalam mengerjakan sesuatu “ . Namun, media massa terus – menerus memborbardir kita dengan kata “ militan ”  dengan makna yang identik dengan teroris.

Kata lain yang banyak dicitrakan dengan makna negatif adalah kata “ radikal ”. Para pejabat dan pemuka agama sering mengutuk kaum radikal dan mengaku “ moderat ”. Padahal radikalisme itu bukanlah sesuatu yang pasti buruk.

Makna dari kata “ radikal “ itu sendiri merupakan respon terhadap kondisi yang sedang berlangsung yang dapat berupa evaluasi, penolakan, atau perlawanan. Radikalisme biasanya bukan sekedar penolakan, tetapi berlanjut pada upaya mengganti tatanan yang ada dengan tatanan lain. Keinginan untuk mengubah keadaan secara mendasar tersebut ditandai dengan kuatnya keyakinan kaum radikalis terhadap program atau ideologi yang mereka bawa, dan sekaligus penafian kebenaran system lain yang akan diganti. Kaum radikal itu adalah kaum yang memiliki pandangan amat jauh ke depan dan berupaya mengganti tatanan dunia yang tidak adil dan menindas kaum yang lemah dengan tatanan yang lebih baik dan lebih berkeadilan.

Selain itu, kata “ fanatik “ selalu dikontraskan dengan kata “ toleransi ”  dan atau dengan kata “ kebinekaan “  yang mengindikasikan bahwa pengertian dari “ fanatik “  adalah progresif, anti kemajemukan, militan, dan dalam agama, merasa ajaran agamanya yang paling benar.

Sesungguhnya, kata “fanatik” itu berasal dari bahasa Latin “ fanaticus ”, kemudian dalam bahasa Inggris diartikan dengan “ frantic “ atau “ frenzied “ yang berarti gila – gilaan, kalut, mabuk, atau hingar – bingar. Sehingga kata fanatik bisa diartikan dengan sikap seseorang yang melakukan atau mencintai sesuatu secara serius dan sungguh-sungguh.

Dalam aspek keimanan, tidak ada tawar menawar dalam Islam. Keimanan umat Islam tidak bisa ditawar – tawar. Iman haruslah merupakah keyakinan yang pasti. Tidak ada keraguan di dalamnya, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa, tidak boleh ada tawar-menawar atas keyakinan tersebut. Seorang Muslim tidak akan ragu bahwa sorga dan neraka adalah wujud. Malaikat adalah wujud. Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Utusan Allah yang makshum, terjaga dari kesalahan. Tidak ada yang ragu akan hal itu, siapa pun orang mukmin sejati. Tidak ada kompromi. Yang haq tetaplah haq, dan yang bathil harus dikatakan sebagai bathil. Bahwa minuman keras, zina, judi adalah haram, sudah merupakan hal yang pasti.

Sehingga seorang muslim sejati itu adalah muslim yang militan dalam beribadah kepada Allah SWT dan bersifat radikal untuk mewujudkan rahmatan lil alamin serta fanatik dengan kebenaran agama dan keyakinan yang diyakininya. Mungkin itulah makna jihad yang sesungguhnya yang harus difahami dalam kondisi saat ini

Tentunya, jika kondisi militansi yang radikal serta fanatik tersebut benar – benar telah tertanam mendarah daging dalam diri setiap umat Islam akan menjadi fenomena yang sangat menakutkan bagi musuh – musuh islam dimana pun mereka berada, karena tidak ada lagi kebenaran yang perlu didiskusikan dengan umat Islam, semua kesempurnaan kebenaran itu sudah termuat secara utuh dalam Al – Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW serta tidak ada seorang pun di dunia ini sampai akhir zaman nanti akan mampu membantah kebenarannya.

Melalui postingan yang singkat ini, myrazano menghimbau kepada seluruh pembaca dan pengunjung  blog Kajian Hakikat Ilmu Tauhid ini, untuk jangan terjebak dalam propaganda sesat kaum kafir, lupakanlah informasi – informasi dari media kafir itu, karena tujuan mereka sudah sangat jelas yaitu untuk menjauhkan umat Islam dari kebenaran ajaran agamanya dengan program cuci otak masal agar umat Islam jadi asing dengan kebenaran agamanya sendiri

Tingkatkan militansinya dalam ibadah, perkuat radikalisme dalam muamalah, mantapkan fanatisme dalam tauhid, karena hanya itulah yang harus kita lakukan saat ini dan tetaplah berada dalam satu barisan dengan para mujahid pembela agama Allah yang lurus, Ikuti setiap komando para ulama pewaris Nabi, Bangkitlah wahai singa – singa Allah yang perkasa, Bangunlah wahai para pengusung panji – panji Rasulullah. Jaga dan lindungi para ulama pewaris Nabi-mu.. Allahu Akbar…!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.