Hari – Hari Setelah Masjid Al – Aqsa Benar – Benar Hancur

Hari – Hari Setelah Masjid Al – Aqsa benar – Benar Hancur. Yahudisasi Al-Quds pun terus berlanjut yang tujuannya adalah merobohkan Masjid Al-Aqsa untuk digantikan dengan Solomon Temple (Kuil Sulaiman) yang diklaim kaum Yahudi berada dibawah masjid tersebut. Tidak mudah memang, untuk melaksanakan ambisi yang satu ini karena warga sekitar Al-Quds bersumpah untuk mati syahid guna mempertahankan simbol kiblat pertama umat Islam sedunia itu.

Meskipun dunia Islam terutama Arab nantinya tetap sebagai penonton setia, intifadha babak ketiga dipastikan meletus lagi sebagaimana kejadian intifadha kedua pada September 2000. Seperti dimaklumi, intifadha kedua meletus menyusul kunjungan provokatif mantan PM Israel, Ariel Sharon ke areal Masjid Al-Aqsa.

Meskipun demikian, tetap tidak menutup kemungkinan perobohan Masjid Al-Aqsa tersebut dalam kondisi dunia Arab dan Islam yang sangat lemah dewasa ini. Bila akhirnya masjid ini akhirnya roboh La Samahallah (amit-amit), kira-kira skenarionya tidak ubah dengan saat pembakaran yang dilakukan Yahudi radikal, Michael Dennis Rohan yang berasal dari Australia pada 21 Agustus 1969.

Menarik disimak tulisan dari seorang penulis Arab asal Yordania, Maher Abu Their dalam kolomnya di harian alarabonline edisi 27 April 2010 tentang kemungkinan beberapa skenario respon dunia Arab setelah sepekan diruntuhkannya Masjid Al-Aqsa La Samahallah oleh kaum Yahudi radikal yang mendapat restu resmi pemertintahan radikal Israel.

Sehari setelah ambruknya Masjid Al-Aqsa, momentum tersebut dijadikan Arab untuk melaksanakan KTT darurat yang khusus untuk mendiskusikan peristiwa besar itu. Pernyataan pun disiapkan berisi kecaman keras dan ancaman terhadap Israel. Berbarengan dengan itu berlangsung unjuk rasa besar di seluruh dunia Islam yang diwarnai pula bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan yang menjaga sejumlah kedutaan Barat pro Israel sebagai salah satu target kemarahan massa.

Boneka Netanyahu dan Obama serta bendera Israel dan AS dibakar dimana-mana. Sementara warga Palestina di Tepi Barat melampiaskan murka mereka dengan menembakkan jutaan peluru ke langit bukan ke arah musuh. Warga Arab Israel menyalakan lilin sebagai ungkapan kesedihan, kemudian warga Gaza tak dapat berbuat banyak kecuali menunjukkan murka lewat unjuk rasa pula.

Pada hari kedua, demonstrasi intensif menyebar ke negara-negara lain dibarengi seruan pelaksanaan KTT OKI darurat kemudian mengeluarkan pernyataan yang tak jauh berbeda dengan KTT Arab dibarengi permintaan maaf dari bawah meja untuk Israel, karena pernyataan yang sedikit tajam bahasanya. Keluahan selanjutnya hanya disampaikan kepada UNESCO karena Al-Aqsa adalah peninggalan sejarah bukan (dalam kapasitas) sebagai tempat Isra` dan Mi`raj Nabi Muhammad SAW.

Pengaduan juga ditujukan ke PBB lalu keluarlah resolusi PBB yang mengutuk peruntuhan Masjid Al-Aqsa dimana resolusi itu nasibnya sama dengan resolusi-resolusi sebelumnya sebatas tinta di atas kertas. Bahkan para diplomat PBB yang biasa makan di restoran mewah di New York menggunakan robekan-robekan kertas resolusi itu untuk mengelap mulut setelah manyantap menu “sushi”.

Pada hari ketiga, dilakukan distribusi pesan melalui ponsel untuk membaca surat Al-Zalzalah untuk Israel, dan juga surat Al-Kaafirun. Sebaliknya di layar-layar TV bermunculan ulama-ulama yang telah menjual hati nurani mereka untuk menenangkan massa dengan mengatakan bahwa itu bentuk kedengkian Zionisme dan kemenangan pasti dekat. Lalu mereka mengingatkan pula bahwa semua tanah adalah suci dan boleh menunaikan shalat dimana saja di areal tanah suci Al-Quds termasuk di atas puing-puing reruntuhan Masjid.

Pada hari keempat, buldoser-bolduser Israel mulai membersihkan puing-puing termasuk batu-batu bekas runtuhan bangunan Masjid Al-Aqsa. Pada saat yang sama, ratusan warga yang mempertahankan keberadaan Masjid tersebut ditangkap tentara pendudukan. Sisa-sisa batu runtuhan tersebut dikumpulkan dekat tembok yang mengelilingi kota tua Al-Quds dan mengizinkan bagi warga Muslim setempat untuk mengambil sebiji batu untuk setiap orang guna disimpan di rumah sebagai kenangan-kenangan.

Pada hari kelima, membajirlah kaum ekstremis dan rabi Yahudi untuk melakukan sembahyang dan doa di atas reruntuhan sebagai bentuk kesyukuran atas ambruknya Masjid. Peristiwa ini terjadi di musim dingin sehingga unjuk rasa pun dilarang karena hanya membuang-buang waktu. Saat itu muncul pula beberapa orang yang menamakan dirinya ulama di layar – layar TV menenangkan massa dengan mengingatkan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah milik Tuhan dan Dia yang akan melindunginya.

Pada hari keenam, orang-orang Arab kembali ke rumah mereka dimana sebagian dari mereka membeli keperluan makan sehari-hari. Yang lainnya mulai memikirkan semangkok bubur fuul (kacang) hangat, sebagian lagi kembali memikirkan cara menyelundupkan narkoba ke Eropa untuk melepaskannya dari jerat kemiskinan. Ada pula yang memilih mengisolasi diri dengan bertapa ke gunung. Sebagian yang tidak tahan akan cobaan ini akhirnya murtad (na`uzubillah min zdalik). Ada pula yang minta fatwa pemotongan kaki dan tangan kaun wanita yang pamer aurat sebagai penyebab kekalahan umat.

Pada hari ketujuh, yang bertepatan dengan hari Jum`at, shalat Jum`at berlangsung di mana-mana di belahan bumi ini kecuali di Masjid Al Aqsa. Sebelum berangkat ke Masjid terlebih dahulu pada pagi harinya mandi air hangat setelah semalam suntuk badan terasa panas akibat melihat pemandangan yang memilukan itu. Kaum Muslimin berbondong ke masjid-masjid terdekat karena tidak ada bedanya mendokan kaum kafir dimana saja. Israel telah meletakkan batu pondasi untuk pembangunan Kuil Sulaiman di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsa. Sejumlah khatib Jum`at yang telah menjual dirinya dengan dunia, berkata bahwa Masjid Al-Aqsa tidak penting sebab jika penting tidaklah kiblat berpindah ke Ka`bah ( Masjidil Haram ).

Selanjutnya ajaran Islam sebagai ajaran rahmat hanyalah sebuah slogan dan kata – kata mutiara indah para penceramah dalam menghasilkan uang. Ajaran Islam tidaklah lebih baik dan lebih sempurna dari ajaran HAM ( Hak Azazi Monster ). Umat yang sebetulnya sangat mengetahui tentang prinsip dasar dari ajaran Islam sebagai agama rahmat seperti para kiyai, para santri dan para pelajar serta para pemuda muslim terdidik lainnya di seluruh dunia lebih memilih kembali menjadi budak orang – orang kafir atau tersingkir.

Sampai suatu ketika, para cucu dari generasi sekarang bertanya kepada kakeknya tentang kebenaran sebuah situs sejarah dan salah satu agama yang pernah besar yang katanya lagi ( menurut sejarah ) berasal dari Tuhan pernah ada dibawah Solomon Temple (Kuil Sulaiman). Dengan senyum kecut yang kakek menjawab ” Cucuku …. Itu adalah masa lalu, dulunya agama Islam memang pernah ada dengan semua kebesarannya, tapi bukankah kebebasan yang ada dalam naungan HAM ( Hak Azazi Monster ) lebih baik untuk kemajuan dan kebebasan kita di dunia yang kita tempati sekarang ini ? ( Bangsa – Bangsa Predator / hidayatullah.com )

Comments 1

  • allahu akbar…….
    dimanakah engkau sekarang wahai umat yang mengaku islam?
    apa yang engkau lakukan hari ini sementara engkau terdiam sesungguhnya adalah bencana…
    allahu akbar…….
    bersatulah,bergabunglah pada masjid terdekat.kobarkan semangat bahwa hukum allah lebih tinggi dari HAM dan demokrasi.
    allahu akbar,,,,,,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.