Al – Ghaffar adalah Zat Yang Maha Pengampun

Al – Ghaffar adalah Zat Yang Maha Pengampun. Ampunan adalah hak Allah sebagai bukti sifat Ar-Rahman dan Ar – Rahim atau Ke Maha Pengasihan dan Ke Maha Penyayangan Allah yang diberikan kepada semua orang menginginkannya yang dizahirkan dengan cara bertobat dengan tobat yang sunguh – sungguh dan memohonkan ampun atas dosa yang telah dilakukannya.. Atau dengan kata lain, hak pengampunan hanyalah hak mutlak yang dimiliki Allah untuk diberikan kepada siapa yang dikehendakinya dan hak tersebut tidak dimiliki atau diberikan kepada makhluk – Nya, sehingga tidak seorang pun di dunia ini yang mampu dan mempunyai hak untuk mengampuni dosa manusia.

” Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengadzab siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS : 048 : Al – Fath : ayat : 14 )

Dan adalah salah, serta sungguh nyata kesesatan orang – orang yang mengatakan bahwa para pendeta mereka telah ditunjuk sebagai pengganti Allah untuk mengampuni dosa serta dapat menghilangkan semua kesalahan karena pengampunan itu hanya dimiliki oleh Allah SWT semata. Zat yang Maha Pemberi Pengambunan kepada siapa saja yang dikehendakinya

Ketahuilah bahwa sesungguhnya pengertian ampunan adalah penutupan atau menutupi serta menghilangkannya, mengampuni dosa berarti menutupi dosa sehingga tidak terlihat dan diketahui oleh manusia lain serta menghilangkannya baik hilang dan lenyap dari pandangan atau pun hilang dan lenyap dari ingatan manusia termasuk dari manusia yang diberi ampunan itu di dunia dan di akhirat

Dalam kajian Al – Asma Al – Husna tentang Al – Ghaffar adalah Zat Yang Maha Pengampun dalam Blog Kajian Hakikat Tauhid ini, difahami bahwa pengampunan itu sangat erat hubungannya dengan dosa dan kesalahan. Dosa dan kesalahan itu merupakan suatu tindakan penganiayaan dilakukan manusia terhadap dirinya sendiri, baik dilakukan dalam keadaan sadar atau pun tidak, terpaksa atau pun tidak sehingga berdampak dan menimbulkan kerusakan sampai kehancuran terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya

Setiap tindakan dan perbuatan apa saja yang dilakukan manusia di dunia ini, siapapun dia, kelak pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukannya itu, sampai akhirnya Allah sendiri akan menentukan ganjaran yang setimpal atas perbutan itu. Jika perbuatan itu adalah sebuah kebaikan, maka Allah akan memberikan balasan dengan hikmah kebaikan di dunia dan diakhirat. Dan setiap perbuatan yang dinilai sebagai sebuah dosa atau kejahatan, maka Allah akan mengganjarnya dengan dosa dan siksaan di dunia dan di akhirat secara adil sesuai dengan besar kecilnya dosa dan kesalahan yang dilakukannya

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? “ ( QS : 075 : Al – Qiyaamah : Ayat 36 )

Banyak orang – orang pintar yang tidak menyadari keterbatasan kemampuan yang diberikan Tuhan kepadanya telah dengan sombongnya menantang dan menyalahkan hukum – hukum yang telah ditetapkan Allah, Tuhan yang telah menciptakan mereka sendiri

Hukum potong tangan untuk dosa mencuri, hukum rajam untuk dosa berzina, dan lain sebagainya telah dianyatakan sebagai hukum yang zalim dan mengabaikan nilai – nilai dan harkat kemuliaan manusia. Dengan alasan pemahaman keadilan yang mereka ciptakan sendiri dengan mengatas namakan Hak Azazi Manusia ( HAM ), mereka telah berani menganggap hukum – hukum Allah tersebut tidak adil dan sekali gus berarti bahwa Allah yang menentapkan hukum tersebut telah bertindak tidak adil dan zalim terhadap manusia. Hukum Allah sudah tidak layak lagi dijalankan di bumi ciptaan Allah ini. Hukum – hukum tersebut harus dibuang dan diganti dengan hukum – hukum yang mereka ciptakan sendiri

Untuk orang pintar dan sombong tersebut perlu di sampaikan bahwa Allah adalah juga Al – Ghaffar yaitu Zat Yang Maha Pengampun yang merupakan pembuktian dari sifat Ar – Rahman dan Ar – Rahim yang berarti Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan sifat kasih dan sayang – Nya, Allah telah menutupi teramat sangat banyak dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia dan akan tetap menutupnya bahkan sampai – sampai manusia yang berbuat dosa itu telah lupa dan melupakannya

Jadi, tidak ada satu dosa dan satu kesalahan pun yang luput dari pengawasan Allah untuk menutupinya. Karena Allah adalah Zat Yang Maha Menutupi, maka tidak akan pernah satupun dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia akan diketahui oleh manusia yang lain kecuali manusia itu sendiri yang memberitahukannya atas izin Allah tentunya

Dengan sifat konsistensi yang dimiliki – Nya, Allah tidak akan pernah mengizinkan satu dosa dan kesalahan yang telah ditutupinya itu terbuka dan dibuka kecuali ada hikmah Kemahapengasihan dan Kemahapenyayangan – Nya yang bernilai kebaikan bagi manusia yang penutup dosa dan kesalahannya telah dicabut sehingga diketahui oleh orang lain

Sesungguhnya, kita tidak pernah tahu sudah berapa kali seorang itu mencuri sampai ketahuan, kita tidak pernah tahu sudah berapa kali dan berapa banyak seorang koruptor itu merampok uang rakyat melalui kekuasaan yang dimilikinya sehingga dia tertangkap, demikian juga kita tidak pernah tahu sudah berapa kali seseorang itu telah bezina sehingga terungkap. Hanya Allah dan dirinya sajalah yang tahu.

Hukum potong tangan untuk pencuri ( bukan untuk yang pernah mencuri ) yang tertangkap pada hakikatnya merupakan salah satu bukti dari Kasih Sayang Allah kepada manusia Itu, karena sesungguhnya, tidak ada seorang pun manusia yang telah beriman kepada Allah yang setuju dan menyetujui sebuah perbuatan dosa, baik dosa yang dilakukan orang lain atau pun dosa yang dilakukannya sendiri. Hal itu bisa dibuktikan dengan tidak adanya orang yang beriman yang berani melakukan sebuah perbuatan dosa secara terang – terangan melainkan dilakukan secara diam – diam agar tidak diketahui oleh orang lain.

Artinya, setiap dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh orang – orang beriman, akan senantiasa mendapat perlawanan dan pertentangan dari imannya sendiri dan setiat saat pertentangan itu akan menjadi beban batin yang terus menyiksa dirinya sendiri. Ketika beban batin itu terus bertambah dan menumpuk seiring frekuensi dosa dan kesalahan yang dilakukannya, maka untuk membebaskannya dari beban dosa dan rasa bersalah yang semakin berat tersebut

” Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya “ ( QS : 023 : Al – Mukminuun : Ayat : 062 )

Allah melalui sifat – Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya kembali memberikan kesempatan kepada manusia yang telah berdosa itu untuk menghapus dosanya sendiri dan menghilangkan beban batin yang membelenggunya dengan mencabut penutup dosanya dan memberikan kesempatan untuk bertobat dan menjalani hukumannya di dunia dan membebaskan dirinya sendiri dari hukuman di akhirat yang pastinya lebih berat dibandingkan dengan hukuman yang dijalaninya di dunia ini

Tentunya hukuman ini lebih adil dan sangat adil dibadingkan dengan hukuman 18 bulan atau 36 bulan dengan selingan ritual pengampunan setiap tanggal 17 Agustus dan kemudian berujung pemberian grasi untuk para koruptor yang telah merampok dan menyengsarakan jutaan rakyat. ( Al Asma – Al Husna )

2 Comments to "Al – Ghaffar adalah Zat Yang Maha Pengampun"

  1. July 5, 2011 - 12:07 pm | Permalink

    muantab bos ….

  2. wan's Gravatar wan
    January 25, 2014 - 5:05 pm | Permalink

    mohon remove iklan diatas, tidak sesuai di letak kn di artikel ini.

Leave a Reply