Al – Mutakabbir artinya Allah adalah Zat Yang Maha Agung

Al – Mutakabbir artinya Allah adalah Zat Yang Maha Agung – Arti Al – Mutakabbir adalah Zat yang agung  yang memiliki segala kebesaran dan yang jauh dari sifat – sifat makhluk. Yang melebihi semua kebesaran, keagungan dan kekuasaan, sehingga asma ini merupakan bentuk dan ungkapan ke – ada – an yang sempurna yang mutlak hanya dimiliki Allah Rabb Al ‘Alamin, maka kehadiran – Nya melebihi ketidakterbatasan sang hamba.

“ Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. “ ( QS : 059 : Al – Hasyr : Ayat : 23 )

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa, hanya Allah yang boleh dan berhak mengangungkan dirinya karena hanya Allah lah dibenarkan untuk bersifat agung dan menamakan diri – Nya dengan Al – Mutakabbir dan makhluk tidak diperbolehkan dan tidak berhak untuk memakai sifat ini termasuk menamakan dirinya dengan sebutan Al – Mutakabbir ini

Larangan untuk memakai asma Al – Mutakabbir  sebagi sifat dan mensifati diri dengan sifat ini secara tegas telah disampaikan Allah SWT dalam sebuah hadist Qudsi:  “ Kesombongan adalah selendang – Ku, Keagungan adalah kain – Ku, Barang siapa yang memakai salah satu diantara keduanya, maka Aku akan memasukkannya ke dalam neraka “ dan neraka sebagai imbalan untuk orang – orang yang sombong dan menyombongkan diri adalah neraka Jahanam

“Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahanam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. “ ( QS : 039  : Az – Zumar : Ayat : 72 )

Cara yang telah dipilih dan ditetapkan Allah SWT untuk memasukkan para penghuni neraka Jahanam ke dalamnya adalah “ Di atas jembatan neraka Jahanam terdapat besi-besi berkait dan berduri, yang merenggut barang siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian nur orang-orang munafik padam, sedangkan orang-orang mukmin tetap bersinar. “ ( HR : Muslim  )

Dari hadist tersebut dapat difahami bahwa, kesombongan dan keangkuhan itu tempatnya di hati, hati itu adalah tempat ilmu dan hikmah, Apabila hati dipenuhi oleh ilmu dan hikmah, maka ketersediaan ruang untuk kesombongan akan berkurang bahkan bisa hilang terdesak oleh kehadiran ilmu dan hikmah yang terus bertambah.

Karena kesombongan dan keangkuhan itu merupakan refleksi dari ruang kosong yang tersedia di dalam hati. Maka semakin besar kesombongan dan keangkuhan seseorang, maka semakin memperlihatkan kemiskinan hati orang tersebut akan ilmu dan hikmah. Selanjutnya, kemiskinan hati akan ilmu dan hikmah itu akan memadamkan cahaya keimanan dan cahaya keislaman yang ada dalam diri orang tersebut.

Karena hakikat hati sebagai tempat ilmu tentunya tidak akan pernah diam, Hati akan selalu haus minta diisi dengan ilmu dan hikmah. Namun karena telah padamnya cahaya keimanan dan cahaya keislaman, maka peran dan fungsi cahaya sebagai penerang dan pembeda akan digantikan oleh nafsu.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya nafsu adalah kendaraan utama bagi iblis. Hanya melalui nafsu yang ada dalam diri manusia inilah iblis bisa menggoda dan menjerumuskan manusia. Ketika nafsu ini sudah dikuasai oleh iblis, maka gairah yang menjembatani antara akal dan ilmu yang kemudian melahirkan perbuatan dan tindakan mutlak berada di bawah kendali iblis.

Sebelumnya perlu difahami bahwa salah satu karakteristik dari nafsu ( selebihnya Insya Allah akan kita bahas dalam kajian “ Hakikat Nafsu “ ) adalah, “ nafsu tidak pernah merasa cukup “. Karena nafsu tidak pernah merasa cukup ini sudah berada dibawah kendali iblis, maka kesombongan yang ada didalam hati akan terus bertambah kesombongannya, sebanding dengan ketersediaan ruang kosong yang ada di dalam hati

“ Bahwa Nabi saw. bersabda: Neraka Jahanam selalu berkata: Apakah masih ada tambahan? Sehingga Allah Maha Suci lagi Maha Tinggi meletakkan telapak kaki-Nya, lalu Jahanam berkata: Cukup, cukup! Demi keagungan-Mu! Dan sebagiannya dikumpulkan kepada sebagian yang lain. ( HR : Muslim )

Berzikir dengan asma Allah Al – Mutakabbir ini adalah dengan tunduk dan tertunduknya hati atas keanggungan dan kemahabesaran Allah atas kekuasaan – Nya. Sehingga seluruh pengabdian yang dipersembahkan hanyalah merupakan perwujudan ketertundukan tersebut yang kemudian melahirkan rasa takut apabila berada jauh dari – Nya karena sesungguhnya, tidak ada ketersiksaan yang paling berat yang dialami oleh seorang pecinta sejati selain ketika menyadari bawah sang kekasih yang sangat dicintainya sudah tidak ada lagi berada di sampingnya ( Al – Asma Al – Husna )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.