Al – Ghaffar adalah Zat Yang Maha Pengampun ( 2 )

Al – Ghaffar adalah Zat Yang Maha Pengampun ( 2 ) – Pada kajian Al – Ghaffar adalah Zat Yang Maha Pengampun sebelumnya pada blog Kajian Hakikat Tauhid ini, telah difahami tentang hakikat pengampunan yang diberikan Allah kepada manusia yang terjebak dalam perbuatan dosa dengan cara menutupnya sedemikian rupa dari pandangan dan pengetahuan manusia lain sehingga tidak ada yang akan bisa mengetahuinya serta dan menghilangkannya dari ingatan melalui sifat lupa yang dianugrahkan kepada manusia

“Sesungguhnya, penghukuman yang diberikan Allah terhadap hamba – Nya di dunia yang terjebak dalam perbuatan dosa harus difahami sebagai aplikasi nyata ” dari sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang ( Ar – Rahman dan Ar – Rahaim ). Penghukuman tersebut merupakan kesempatan yang diberikan Allah untuk membebaskan hambanya yang berdosa itu diri siksa lahir dan batin serta siksa neraka di akhirat. Kalau setiap dosa itu hanya mendapat penghukuman di akhirat saja, tentunya akan terasa sangat berat karena di akhirat kelak sudah tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat.

Dalam konsep penghukuman dalam islam difahami bahwa, apabila dosa dan kesalahan tersebut hanya merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah saja dan tidak berakibat terhadap manusia yang lain selain dirinya sendiri, maka hanya Allah saja yang berhak memberikan penghukuman. apabila dosa dan kesalahan tersebut berhubungan dengan manusia, maka penghukumannya menjadi Hak Manusia dan Hak Allah

Apabila seseorang telah memilih jalan kekafiran dan tetap di jalan kekafiran itu, maka tidak ada hak bagi seorang manusia pun untuk menghukumnya, namun ketika kekafirannya itu telah menganggu umat islam, maka wajib hukumnya bagi semua umat islam untuk berperang dan berjihad dengan cara – cara yang dihalalkan Allah.

Mempengaruhi orang – orang yang sedang berjihad untuk menghentikan misi jihad yang sedang berlangsung seperti lari dari medan pertempuran, sehingga bisa melemahkan semangat pasukan muslim dan menambah semangat pasukan musuh, maka hak dan wajib bagi manusia untuk membunuhnya, sedangkan Hak Allah adalah memasukkannya ke dalam neraka sebagai orang munafik. Mungkin ini merupakan rentetan contoh kasus yang cukup baik dalam memahami hak penghukuman dalan islam

Dalam kasus potong tangan, seorang pencuri, apabila dia dengan sungguh – sungguh menyesali perbuatannya dengan bertaobat yang sebenar – benarnya, maka setelah menjalani penghukuman di dunia yang merupakan hak manusia ( mencuri adalah dosa yang berhubungan dengan manusia yang lain ), maka dia akan terbebas dari penghukuman di akhirat atas dosa tersebut. Karena Allah adalah Al – Ghaffar, Tuhan Yang Maha Pengampun

Penting dan sangat perlu difahami bahwa, hukuam potong tangan hanya diberlakukan terhadap pencuri dengan ketentuan :

  1. Pencuri tersebut sudah baligh, berakal, melakukan perbuatan pencurian itu atas kehendak dan kesadarannya sendiri dan atau tidak berada dibawah tekanan siapapun. Anak – anak, orang gila yang mencuri tidak di potong tangannya, termasuk orang – orang yang mencuri atas perintah orang lain seperti atas perintah atasannya sebagai mana yang benyak terjadi di Indonesaia saat ini
  2. Barang yang dicuri tersebut nilainya minimal sama atau lebih besar dari nilai satu nisab emas ( 93,6 gram emas ) yang diambil dari gudang tempat penyimpanannya, bukan milik si pencuri tersebut dan tidak ada jalan yang bisa menyatakan bahwa si pencuri mempunyai hak atas barang tersebut seperti hubungan ayah dan anak, suami isteri dan atau seorang miskin mencuri harta baitul mal dan lain lain.

Apabila si pencuri tersebut bisa dibuatkan garis hukum atau jalan yang secara langsung atau tidak langsung memiliki hak atas barang yang dicurinya itu seperti contoh di atas, maka untuk pencuri itu tidak di potong tangannya. Menyesali perbuatannya dengan tobat yang sebenar – benarnya, Insya Allah, itu akan membebaskan dirinya dari hukuman dunia dan hukuman di akhirat.

Untuk pencuri yang nyata – nyata telah mencuri seperti tertangkap tangan, ada saksi atau mengaku, tangan pencuri tersebut wajib di potong serta wajib mengembalikan harta yang dicurinya atau menggantinya apabila barang yang dicurinya tersebut telah rusak atau hilang

” Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya ( sebagai ) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “ ( QS : 005 : Al – Maidah : Ayat : 033 )

Jadi hukum potong tangan untuk pencuri bukanlah pelanggaran terhadap hukum buatan manusia yang bernama Hak Azazi Manusia ( HAM ), tetapi merupakan hukum yang ditetapkan Allah, Tuhan yang telah menciptakan manusia. Dan adalah hak dan wajib hukumnya bagi umat Islam untuk tunduk, taat dan patuh atas aturan hukum yang telah di tetapkan Tuhannya. Pengingkaran terhadap ketetapan hukum Allah adalah sebuah kedurhakaan

Sehingga adalah salah dan sangat tidak sesuai dengan syariat hukum Islam, apabila seorang pencuri di keroyok ramai – ramai, diikat dan diseret kemudian dibakar sampai mati. Perlu diketahui bahwa tindakan membakar sesesorang sampai mati tersebut, tanpa memandang alasan atau sebab yang menyebabkannya bisa mengkhafirkan para pelakunya atau para pelaku pembakaran manusia sampai mati telah keluar dari agama Islam serta menjadi kafir karenanya. Seluruh ibadah dan nilai kebaikan yang selama ini telah dia lakukan sebelum kekafirannya hilang dan hangus bersamaan dengan jatuhnya hukuman kekhafiran kepadanya. ( Al Asma – Al Husna )

Comments 2

  • Waktu saya naik haji, banyak saya lihat orang2 yg tangannya pontong2 kiri kanan tidak saja anak-anak bahkan banyak orang dewasa dan sebahagian besar 99% adalah orang2 kulit hitam. Saya denga2 orang arab sendiri yg mencuri tidak ada yg dipotong tangannya. Hukum islam diarab hanya diterapkan utk orang non arab.

  • @Ramli : sebenarnya negara arab bukanlah contoh yang baik dalam penerapan hukum Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.