Kupas Tuntas Kesesatan ‘Islam ESQ’ Ary Ginanjar ( 4 )

Kupas Tuntas Kesesatan �Islam ESQ� Ary Ginanjar � Berikut ini saya kemukakan beberapa catatan kritik terhadap konsep ESQ yang dirintis Bapak Ary Ginanjar Agustian. Referensi kritik ini berdasarkan isi buku ESQ New Edition yang diterbitkan oleh Penerbit Arga Jakarta.

Catatan-catatan kritik ini tidak bermaksud untuk menetapkan konsep ESQ sesat, tetapi mendorong agar konsep itu diperbaiki lagi, sesuai ajaran Islam.

(7) Kerapuhan Konsep Ilmiah ESQ

Dalam bagian Pengantar dari Tokoh Ulama, yang dibawakan oleh Prof. KH. Ali Yafie, disebutkan penjelasan sebagai berikut:

�Karya ilmiah ini bersifat terbuka, sehingga mampu menerima penyempurnaan-penyempurnaan, dan justru inilah ciri khas yang akan menambah bobotnya di kemudian hari. Sementara orang lain, umumnya hanya menggarisbawahi atau mengkritik pendapat-pendapat yang ada. Di samping itu, buku ini memiliki nilai kejujuran ilmiah yang dapat dijadikan sebagai kajian siding pembaca secara terbuka, khususnya intelektual Muslim.� (Halaman, 13).

Dalam hemat saya, buku ESQ tidak mencerminkan sikap kejujuran ilmiah. Secara penampilan tampak ilmiah, tetapi secara substansi tidak. Contoh mudah, ESQ begitu tergantung pada struktur God Spot, bahkan hal itu sampai dibuat dalam bentuk ESQ Model. Padahal God Spot itu sendiri tak akan bekerja, tanpa struktur-struktur jaringan syaraf lain di otak. Got Spot seolah sebuah kekuatan dominan, padahal ia sejatinya hanya merupakan bukti eksistensi tabiat religius manusia saja. Bahkan dalam buku ESQ, posisi God Spot seringkali tercampur-baur dengan suara hati. Padahal keduanya sangat berbeda. God Spot di otak, sedangkan hati (qalbu) di dada.

Sisi lain yang lebih jelas lagi, yaitu tentang fokus kajian buku ESQ sendiri. Kalau mau jujur, fokus buku ESQ itu apa? Apakah pelatihan SDM? Apakah pembentukan karakter? Apakah metode spiritualisme? Apakah hasil sintesa psikologi Barat populer? Apakah ilmu etika dan norma? Apakah ajaran tasawuf? Apakah konsep etika bisnis? Apakah tafsir ibadah ritual? Dan sebagainya. Dalam buku ini tidak ada fokus yang jelas. Sekali waktu tampak seperti model pelatihan SDM, tetapi renungan-renungan sufistiknya banyak. Sekali waktu tampak seperti ajaran spiritualisme, tetapi hasrat bisnisnya kuat. Sekali waktu tampak pendapat-pendapat pakar psikologi Barat, tetapi juga mencerminkan sebuah buku dakwah yang sangat bersemangat. Sekali waktu kagum pada pendapat para ahli, namun di lain kesempatan jelas menonjolkan pendapat-pendapat pribadi Ary Ginanjar sendiri.� Hampir tidak ada suatu fokus yang memuaskan untuk dikaji secara ilmiah. Andai dianggap sebagai tesis ilmiah, karya Ary Ginanjar ini terlalu banyak percabangannya, sehingga tidak tampak fokus yang jelas.

(8) ESQ Menawarkan Jalan Hidup

Setelah membaca buku ESQ ini secara jelas, saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa ESQ bukan model pelatihan SDM biasa. ESQ membawa missi dakwah yang kental. Hal itu justru terlihat dari klaim Ary Ginanjar Agustian sendiri terhadap konsep ESQ yang dia bangun. Di bawah ini sebagian bukti-buktinya:

Dalam pengantar buku, Ary Ginanjar mengutip pandangan Prof. Dr. Gay Hendrick dan Kate Ludeman, �In the global market in future, you will find saint mystics or sufis in the big corporation or modern organization, not in the viharas, monasteries, synagogues, temples, church, mosque.� (Halaman, 8). Kalau diartikan, �Di tingkat pasar global di masa nanti, Anda akan menjumpai ilmu spiritualitas dan sufisme di perusahaan besar, organisasi modern, bukan di vihara, monasteris, sinagog, kuil, gereja, juga masjid-masjid.� Kalimat ini merupakan introduction menuju gerbang spiritualisme yang akan semakin ditegaskan oleh Ary Ginanjar di halaman-halaman lain.

Ary Ginanjar mengatakan, �Tren kebangkitan spiritualitas di seluruh dunia ini, sesungguhnya adalah tanda-tanda keruntuhan paham materialisme, dan inilah awal kebangkitan spiritualitas. Dengan kata lain, nilai-nilai spiritual akan segera ditempatkan di atas materialisme sebagai nilai, makna, dan tujuan hidup tertinggi.� (Halaman, 9-10).

Dalam bagian lain Ary mengatakan, �Seperti yang saya alami, bahwa ajaran Islam lewat kebebasan berpikir tersebut telah banyak memberikan kontribusi dalam hidup saya, dalam lingkungan bisnis saya, yang memang berangkat dari bawah.� (Halaman, 15).

Di bagian lain, masih pandangan Ary Ginanjar, �Di posisi inilah ESQ tampil menjawab permasalahan tersebut. ESQ sebagai sebuah metode dan konsep yang jelas dan pasti, adalah jawaban dari kekosongan batin sang jiwa. Ia adalah konsep universal yang mampu menghantarkan seseorang pada �predikat memuaskan� bagi dirinya sendiri, juga bagi sesamanya. ESQ pula yang dapat menghambat segala hal yang kontra-produktif terhadap kemajuan umat manusia.� (Halaman, 17).

Masih dari Pak Ary, �Dan pada akhirnya, melalui usaha yang terus-menerus, maka terbentuklah pemahaman, visi, sikap terbuka, integritas, konsisten, dan sikap kreatif yang didasari atas kesadaran diri, yang sesuai dengan suara hati terdalam, yang pada akhirnya akan menjadikan Islam tak sebatas agama ritual, namun juga sebagai �the way of life�. Inilah dia The ESQ Way 165.� (Halaman, 18-19).

Anda perhatikan secara jelas kalimat Ary Ginanjar di atas. Melalui kalimat ini, seolah Ary memiliki agenda untuk mereformasi ajaran Islam. Ajaran Islam dianggap membutuhkan konsep ESQ-nya, agar ia menjadi �The Way of Life� bagi kaum Muslimin. Padahal sejak lama, sebelum Ary menemukan hidayah, para ulama Islam sudah menyebut agama ini sebagai Minhajul Hayah (metode kehidupan manusia). Kalimat Ary Ginanjar itu sangat pekat bermakna: Missi, arogansi, sekaligus penyesatan opini.

Selanjutnya Ary Ginanjar mengatakan, �Cara pandang Emha Ainun Nadjib yang begitu moderat dan pluralis, tanpa kehilangan karakter dalam memandang agama dalam puisinya di bawah ini, kiranya mampu merepresentasikan apa yang juga saya rasakan kini.� (Halaman, 19).

Di halaman 26 Ary Ginanjar membuat kalimat persembahan. �Saya persembahkan secara khusus yang sangat saya cintai dan kasihi anak-anakku, Anjar, Erick, Rima, Eqi, dan Esqi. Semoga tulisan ini bisa menjadi pegangan hidupmu, sehingga pemikiran ini bisa terwariskan kepadamu.� (Halaman, 26). Jelas sekali, bahwa ESQ bukan hanya pelatihan biasa, bukan klub spiritualitas belaka, bukan hanya sebuah perusahaan; tetapi juga missi dakwah yang menawarkan nilai-nilai tertentu.

Lebih jauh Ary mengatakan, �Dan insya Allah buku ini akan memberikan metode pelatihan dan pengasahan kecerdasan emosi dan spiritual, yang bersifat independen dan bisa dilaksanakan sepanjang waktu, sehingga akan menghasilkan peningkatan ESQ secara berkesinambungan dan berkelanjutan seumur hidup.� (Halaman, 54).

Dan Ary juga mengatakan, �Melalui buku ini, atas ijin dan kerunia-Nya, penulis menggagas konsep pemikiran baru yaitu ESQ Model, yang merupakan sebuah perangkat spiritual engineering, dalam hal pengembangan karakter dan kepribadian berdasarkan nilai-nilai Rukun Iman, Rukun Islam, dan Ihsan, yang pada akhirnya akan menghasilkan manusia unggul di sektor emosi dan spiritual, yang mampu mengeksplorasi dan menginternalisasi kekayaan ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah dalam hidupnya.� (Halaman, 57).

Sebenarnya ESQ bukan konsep pemikiran berdasarkan Rukun Iman, Rukun Islam, dan Ihsan. Dalam buku itu rujukan utamanya adalah pendapat pakar-pakar psikologi Barat. Kajian seputar Rukun Iman, Rukun Islam, dan Ihsan sangat sempit. Itu pun diulas dengan paradigm berpikir Barat, atau pemikiran Ary Ginanjar Agustian sendiri. Istilah Rukun Iman-Rukun Islam-Ihsan itu pada akhirnya hanya simbol saja, tanpa substansi dan interest yang serius. Mungkin dengan simbol �165� ini Ary Ginanjar akan lebih mendapatkan apresiasi dari ummat Islam. Teringat kalangan JIL yang memakai nama Islam untuk melariskan ajarannya, atau institusi IAIN/UIN tetap mempertahankan nama Islam agar banyak pelajar masuk studi ke perguruan tinggi seperti itu.

Ketua PP Muhammadiyyah yang beru terpilih, Prof. Din Syamsuddin memberikan komentar seputar ESQ di media, �Sejauh yang saya ketahui, tidak ada alasan yang menyatakan bahwa lembaga itu (ESQ �pen.) memberikan ajaran sesat dan haram.� (Pikiran Rakyat, 24 Juli 2010, halaman 20). Menurut Pak Din Syamsuddin, pelajaran dan pendidikan ESQ secara hukum Islam tidak ada yang menyimpang dan melanggar, sehingga tidak bisa disebut haram. Beliau sangat mendukung ESQ, karena lembaga pelatihan ini bergerak di bidang pelatihan SDM. �ESQ selama ini sudah bisa masuk ke kalangan masyarakat menengah ke atas, dan sudah banyak politisi dan birokrat menjadi alumninya. Saya dukung keberadaan ESQ,� kata Din Syamsuddin.

Menurut bukti-bukti yang saya tunjukkan di atas, ESQ jelas membawa paham SPIRITUALISME. ESQ mengedepankan konsep kebangkitan spiritual, tanpa peduli apapun agama seseorang, dan bagaimana amaliyahnya menurut ajaran Islam. Apa yang dikatakan oleh Prof. Din Syamsuddin atau Ketua PBNU, Prof. Dr. Said Agil Siradj, adalah mencerminkan sikap permissif (sangat longgar) dalam konteks akidah Islam. Said Agil malah membatasi sesuatu dinilai sesat jika: Satu, tidak mengajarkan paham bahwa Shalat 5 Waktu tidak wajib; Dua, Nabi Muhammad bukan Nabi terakhir.� (Pikiran Rakyat, 24 Juli 2010, halaman 20). Jika pandangan Said Agil Siradj ini diikuti, jelas akan merebak banyak sekali paham-paham sesat di tengah masyarakat. MUI sendiri memiliki kriteria-kriteria untuk menyebut apakah suatu kelompok layak disebut sesat atau tidak.

Sekali lagi saya tegaskan, ESQ bukan konsep pelatihan SDM biasa, atau perusahaan bisnis yang bergerak di bidang pelatihan semata; ESQ membawa missi besar mengajarkan prinsip-prinsip spiritualitas, tanpa membedakan agama dan amalan manusia. Padahal dalam Islam, syarat diterimanya amal itu ada dua, yaitu: Ikhlas karena Allah dan mutaba�ah (mengikuti metode) Sunnah Nabi Saw. Ikhlas saja, tanpa Sunnah, tidak diterima. Mengikuti Sunnah, tanpa ikhlas, juga tidak diterima.

PENTINGNYA SIKAP ISTIQAMAH

Membuat tulisan kritik, bantahan, atau gugatan, sungguh tidak ringan. Resikonya, kita akan banyak �dimusuhi orang�. Minimal, sikap kita tidak disukai oleh pihak-pihak yang dikritik. Bukan sekali dua kali saya menerima cacian, celaan, umpatan, dll. dari orang-orang yang tidak mau dikritik. Sejujurnya, dari sudut pragmatis, lebih enak menulis tema-tema yang bertema membangun (development), misalnya tentang pengembangan diri, kiat usaha, konsep etika, dll. Selain resiko �musuh�-nya sedikit, juga peluang sukses materinya lebih besar.

Namun amanah nahi munkar harus tetap ditunaikan, apapun resikonya. Nabi Saw menggambarkan, jika di suatu masyarakat sudah tidak ada lagi kaum yang mencegah kemungkaran, maka ia serupa seperti membiarkan sebuah perahu dilubangi dari dasarnya, sehingga perahu itu tenggelam dan ikut tenggelam bersamnya seluruh penumpang. Para pemikul amanah nahi munkar (baik di lapangan maupun ilmiah) rata-rata tidak disukai oleh banyak kalangan. Kritik, bantahan, atau gugatan mereka kerap membuat �muka memerah�. Tetapi keberadaan mereka mencegah suatu bangsa dihancurkan oleh Allah Ta�ala. Tanpa keberadaan mereka, suatu masyarakat akan diguncang bencana tanpa henti.

Para pemikul amanah nahi munkar seperti memberi �subsidi silang�. Keberadaan mereka membuat masyarakat selamat dari adzab dan bencana, sehingga masyarakat bisa menikmati kehidupan. Tetapi dalam kemapanannya, masyarakat kerap membenci dan salah paham kepada pemikul amanah nahi munkar.� Dikiranya, mereka itu �sampah�, �perusuh�, �pembuat onar�, �perusak tradisi�, �kurang ajar�, �preman berjubah�, �kaum ekstrim�, dan seterusnya.

Dalam Al Qur�an disebutkan, �Dan sekali-kali Allah tidak akan meng-adzab mereka, ketika engkau (Muhammad Saw) ada di tengah mereka, dan tidaklah sekali-kali Allah akan meng-adzab mereka sedangkan mereka masih istighfar memohon ampunan.� (Al Anfaal: 33). Keberadaan para pemikul amanah nahi munkar melanjutkan tugas Nabi Saw, menjaga kelurusan agama ini. Selagi masih ada nahi munkar, masyarakat masih bisa makan-minum, mencari nafkah, dan tidur dengan tenang. Meskipun dalam praktiknya, mereka kerap memaki-maki pejuang-pejuang nahi munkar.

Selama ini banyak kemungkaran-kemungkaran berkembang di tengah-tengah kehidupan bangsa ini. Kemungkaran-kemungkaran itu harus dicegah, diberi peringatan, atau diluruskan. Jika tidak demikian, kehidupan kemanusiaan di antara kita akan sirna, berganti perikebinatangan. Di bawah ini beberapa fakta tentang merebaknya kemungkaran-kemunkaran sosial di sekitar kita.

Baru-baru ini ada sebuah partai politik yang melaksanakan Munas di sebuah hotel milik Amerika/Yahudi. Mereka membuat Munas di hotel itu, ketika saudara-saudaranya di Palestina menderita akibat blockade 3 tahunan lebih. Lebih ironi lagi, setidaknya dalam 10 tahun terakhir, mereka aktif menyuarakan kampanye boikot produk Yahudi/Amerika. Ada pula pemikiran seorang tokoh terkenal. Selama puluhan tahun dia menjadi ketua ormas Islam dan dikenal sebagai cucu pendiri ormas tersebut. Ketika masyarakat tidak berani mengkritik dirinya, suatu saat dia berkata, �Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur�an.� Masyarakat takut mengecam dia, karena takut kualat. Pada saat yang sama mereka tidak takut terkena murka Allah karena Al Qur�an dihina serendah-rendahnya.

Lalu orang-orang kecil diseret ke pengadilan, karena mengambil semangka, buah kakao, jagung, kapok randu, dll. Mereka mengambil semua itu karena sangat terdesak oleh kemiskinan. Tetapi di lain pihak ada skandal bailout bank swasta yang merugikan negara sampai Rp. 6,7 triliun, telah diputuskan ada pelanggaran hukum oleh sidang peripurna DPR yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah. Ternyata kasus itu tidak kelar-kelar. Tidak tahu siapa yang bersalah disana, dan kapan pengadilan digelar? Kalau mau diselesaikan, para anggota DPR amat sangat malas menyelesaikannya.

Orang kecil kalau telat membayar listrik, instalasi dicabut oleh PLN. Pemilik motor kalau telat mengansur cicilan kredit, motor disita. Pengendara kendaraan, kalau telat tidak membayar pajak STNK, bisa ditilang oleh polisi. Namun di lain kesempatan, ada pengusaha besar, pemilik bisnis supermarket besar. Bertahun-tahun menunggak pajak sampai puluhan triliun. Lalu dengan �solusi sim salabim� di Departemen Keuangan dan Direktorat Perpajakan, masalah dianggap selesai. Ibu menteri yang �berjasa memberi solusi� kemudian malah menjadi pejabat elit Bank Dunia.

Ada lagi yang lain. Seorang aktivis anti korupsi dari LSM tertentu, suatu saat dia dikeroyok oleh orang-orang tak dikenal sehingga menderita luka cukup parah. Sejak kejadian itu, semua politisi, aktivis, media massa, bahkan sampai Presiden turun untuk menunjukkan sikap simpati. Sementara ketika pemuda-pemuda Islam yang belum jelas kesalahannya, belum pernah dibuktikan di pengadilan, mereka ditembak mati oleh aparat keamanan di jalan-jalan, disergap, dibunuh, bahkan disiksa. Allahu Akbar, kesalahan belum terbukti, tetapi hukuman sudah dijatuhkan. Seolah, istilah perlindungan HAM itu berlaku bagi siapapun, selain bagi aktivis-aktivis Islam.

Ada kasus lain lagi, yang tak kalah aneh. Tiba-tiba tersebar video porno yang diperankan oleh Ariel, Luna, Cut Tari. Katanya, masih ada video serupa yang lain lagi. Jelas-jelas itu pelakunya artis-artis tersebut. Tetapi sebuah komisi penyiaran memperingatkan media-media massa agar tidak menuduh artis-artis tersebut. Akhirnya, muncul istilah-istilah aneh seperti �mirip artis�, �yang diduga artis�, �wajah seperti artis�, dll. Masyarakat dipaksa mengingkari penglihatan mata dan pengetahuan mereka tentang artis-artis itu. Masyarakat tidak boleh menuduh, jika tak memiliki bukti. Bukti rekaman video dan penglihatan mata dianggap tidak cukup. Seharusnya, artis-artis itu yang harus dipaksa untuk membuktikan, bahwa orang-orang dalam video itu bukan diri mereka. Bukan masyarakat disuruh membuktikan kalau pelaku dalam video itu adalah artis-artis tersebut. Masyarakat hanya konsumen atau korban. Begitu hebatnya sikap komisi itu dalam melindungi hak-hak privasi pelaku zina, tetapi tidak memperhatikan hak-hak masyarakat luas yang dirugikan akibat adanya video-video amoral itu.

Fakta lain lagi. Sejak tahun 2001 kalangan Islam terus-menerus dihujani tuduhan seputar aksi-aksi terorisme. Di Bali sampai dibuatkan monumen untuk mengenang kekejaman teroris-teroris Muslim yang kebanyakan dari kalangan aktivis pengajian itu. Tetapi ketika terjadi ratusan ledakan �bom tabung gas 3� di seluruh Indonesia, dengan tingkat kerusakan dan korban jiwa yang banyak. Maka tidak ada satu pun yang mengklaim, telah terjadi �terorisme gas� oleh instansi-instansi tertentu. Tidak ada liputan TV yang dibuat sangat menyayat hati tentang penderitaan korban ledakan tabung gas. Liputan �menyayat hati� hanya diperlukan untuk menjelek-jelekkan pemuda-pemuda teroris Muslim.

Ada perguruan tinggi dengan label Islam. Dikenal dengan istilah IAIN atau UIN. Dosen-dosen disana digaji, diberi tunjangan, mendapat pensiun, dll. dengan label �dosen PT Islam�. Mereka tak berani gentle menghapus nama Islam dari label PT-nya, bersaing dengan perguruan-perguruan umum lain. Tetapi ironisnya, di kampus-kampus seperti itu, anak-anak kaum Muslimin diajari cara menghujat Al Qur�an, cara menghujat Hadits Nabi, menghujat Fiqih Islam, menghujat sejarah Islam, dll. Mereka makan karena label Islam, tetapi kerjanya menyerang Islam. Sangat aneh bin ajaib.

Ada pula sebuah novel terkenal, karangan anak negeri, berlatar-belakang kehidupan di Mesir. Novel ini best seller, mungkin melebihi buku ESQ. Sisi menarik novel ini ialah toleransi dan cinta kasihnya yang sangat mendalam kepada sebagian Kristen Koptik di Mesir.� Dalam novel itu diceritakan, Fahri seorang pemuda yang shalih. Ketika Maria jatuh sakit, sampai koma, dokter meminta Fahri menyentuh Maria, sebagai terapi penyembuhan. (Meskipun terapi seperti ini di dunia medis, rasanya sangat mustahil). Fahri tidak mau menyentuh Maria, karena bukan mahrom. Sebagai solusinya, Fahri harus menikahi Maria, demi menyelematkan jiwanya. Fahri pun setuju menikahi Maria, dalam keadaan Maria sendiri sedang koma. Ini adalah contoh pemahaman fiqih yang lucu. Seseorang boleh menyentuh wanita bukan mahrom, kalau alasannya darurat, sebagai upaya pengobatan. Kalau tidak boleh, maka seluruh dokter laki-laki di dunia tidak akan boleh menyentuh tubuh pasien wanita non mahrom. Sebaliknya, menikahi wanita dalam keadaan koma itu dilarang. Itu haram. Dia harus sadar dulu dari koma, dari pingsan, atau dari tidur. Amal manusia tidak dianggap, selama dirinya tidak sadar diri. Namun, novel seperti ini membuat jutaan manusia terkesima, dengan puja-puji luar biasa. Yo wis lah.

Banyak fakta-fakta kemungkaran yang sangat ironis dalam kehidupan masyarakat ini. Kalau dijelaskan satu per satu, mungkin kita akan secara bersama melantunkan syair Taufik Ismail, �Malu (aku) menjadi orang Indonesia.� Negara ini mengaku menganut �Ketuhanan Yang Maha Esa� dan �Kemanusiaan yang adil dan beradab�, tetapi realitas hidupnya penuh kebohongan dan skandal. Negara ini semakin hari semakin sakit saja. Baik pemimpin maupun rakyatnya betah berlama-lama hidup dalam kubangan penyakit. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dalam situasi demikian, ketika ada sebagian Muslim yang tetap konsisten membela kebenaran, menjelaskan kekeliruan, mengagungkan prinsip Islami, menunjukkan bukti-bukti. Mereka kerap diserang, dihujat, dicaci-maki, dimusuhi, dan seterusnya.� Mereka dituduh sebagai �tukang fitnah�, �ahli ghibah�, �tidak tahu strategi�, �sok munafik�, �tukang adu-domba�, �pemecah belah ummat�, �mendengki kemajuan orang lain�, �kelihatan alim padahal doyan duit�, �tidak kreatif�, �hanya pandai mengkritik�, dll. Allahu Akbar!!! Diingatkan yang benar, malah marah.

Saudaraku, dalam hidup ini kita harus istiqamah. Istiqamah dalam belajar kebenaran, mengamalkan kebenaran, dan menjaga eksistensi kebenaran. Terserah orang mau berkata apapun, itu hak mereka. Andaikan banyak hati yang murka ketika ditunjukkan kebenaran, maka masih banyak generasi muda, anak-anak, remaja, dan kaum lemah yang membutuhkan kebenaran itu. Perjuangan mengawal KEBENARAN tidak akan surut, atas reaksi seburuk apapun dari kaum pembenci.

Dalam konteks kritik terhadap konsep ESQ, inilah tulisan sederhana yang bisa disampaikan. Besar harapan kami Bapak Ary Ginanjar Agustian dan tim bersedia memperbaiki konsep-konsepnya, baik secara ilmiah, maupun terutama dari sisi tinjauan Islam. Hendaklah komunitas ESQ tulus ingin memberdayakan SDM masyarakat, bukan menyebarkan pemikiran-pemikiran spiritualisme menyesatkan. Masyarakat sudah lemah, jangan dibuat semakin jauh dari ajaran Islam. Kepada tokoh-tokoh Islam atau masyarakat, hendaknya berhati-hati saat memberikan rekomendasi. Gunakanlah standar Syariat Islam sebagai metode untuk melihat persoalan. Insya Allah, pengembangan SDM itu sangat positif; tetapi jangan menyebarkan pemikiran-pemikiran keliru di balik program pemberdayaan tersebut. Bila diperlukan, insya Allah saya bersedia berdialog secara jernih isi tulisan ini.

Secara khusus saya menyampaikan rasa terimakasih dan hormat kepada Mufti Persekutuan Malaysia, Datuk Haji Wan Zahidi bin Wan Teh, atas keberanian beliau mengeluarkan fatwa tentang ESQ. Atas sebab terbitnya fatwa itu, kami tergerak untuk ikut melihat isi konsep ESQ. ESQ dimulai sekitar 10 tahun lalu dan memiliki visi menuju �Generasi Indonesia Emas 2020�. Terbitnya fatwa dari Mufti Persekutuan Malaysia persis ketika ESQ berada di tengah jalan menuju visinya. Berbagai kritik yang dialamatkan kepada konsep ESQ, insya Allah akan lebih membantu Bapak Ary Ginanjar Agustian dan kawan-kawan dalam meraih sukses di 2020 nanti. Sebagaimana ESQ merupakan konsep character building yang menekankan aspek etos, etika, dan moralitas; maka datangnya kritik jangan dianggap sebagai permusuhan, tetapi sebagai realitas yang akan mematangkan suatu kebaikan.

Mohon maaf bila ada kesalahan, kekurangan, dan sikap berlebihan-lebihan. Tidaklah yang kami lakukan, selain hanya membuat PERBAIKAN sekuat kesanggupan kami. Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan, memohon karunia, dan berserah diri. Hasbunallah wa Nikmal Wakiil, Nikmal Maula wa Nikman Nashir, wa laa haula wa laa quwwata illa billah. ( suara-islam.com� / Tamat / Kajian Umum )

Comments 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.