Kupas Tuntas Kesesatan Islam ESQ Ary Ginanjar ( 3 )

Kupas Tuntas Kesesatan ” Islam ESQ Ary Ginanjar ” Berikut ini saya kemukakan beberapa catatan kritik terhadap konsep ESQ yang dirintis Bapak Ary Ginanjar Agustian. Referensi kritik ini berdasarkan isi buku ESQ New Edition yang diterbitkan oleh Penerbit Arga Jakarta.

Catatan-catatan kritik ini tidak bermaksud untuk menetapkan konsep ESQ sesat, tetapi mendorong agar konsep itu diperbaiki lagi, sesuai ajaran Islam.

(4)� Salah Memahami Konsep �Suara Hati�

Dalam buku ESQ halaman 104 disebutkan, �Dari cara melihat yang obyektif, yaitu dengan cara yang adil dan bijaksana, sesuai suara hati (self conscience), ini maka keputusan yang akan diambil menjadi benar.� Pada halaman 74 disebutkan, �Ketika manusia mengiyakan kebenaran suara hati yang sebenarnya berasal dari God Spot itu, maka sesungguhnya manusia telah kembali kea lam fitrahnya, inilah yang disebut anggukan universal.� Dalam halaman 73 disebutkan, �Contoh-contoh yang disebutkan di atas, dimaksudkan agar semua manusia menyadari bahwa mereka semua sebenarnya memiliki suara hati yang sama, suara hati universal. Itulah yang terdapat dalam God Spot. Inilah yang disebut kesadaran spiritual.�

Di halaman 115 disebutkan saran-saran, �Teruslah berlatih hingga mata hati menjadi terbuka dan akhirnya mampu mendengar suara hati Anda dengan jelas. Lambat laun suara itu akan menjadi sahabat Anda, yang selalu memberi informasi maha penting. Namun tentu saja, dengan tak melupakan sarana logis otak sebagai pengolah dan pengasahnya. Sinergikan dengan hati-hati, kadang otak pun tak selalu bebas polusi dan suci dari hama.�� Di bagian �Dari Penulis� pada halaman 19, Ary Ginanjar menulis, �Saya pun mencoba memadukan logika serta suara hati secara sungguh-sungguh, yang merupakan referensi utama yang dimiliki setiap manusia pemberian Allah SWT.�

Selain itu, �Hati nurani akan menjadi pembimbing terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat. Artinya, setiap manusia sebenarnya telah memiliki radar hati sebagai pembimbing.� (Halaman, 40). Selanjutnya, �Dan yang terpenting adalah legitimasi suara hati Anda sendiri, sebagai narasumber kebenaran sejati.� (Halaman, 57). Disini sangat jelas, terang benderang, bahwa Ary Ginanjar menjadikan hati nurani sebagai referensi kebenaran sejati.

Seandainya seorang Muslim ditanya, �Apa kedudukan hati dalam kehidupan manusia?� Maka dia harus mengetahui, bahwa hati (qalbu atau fuad), pada dasarnya adalah AKAL. Bahkan ia adalah akal yang lebih jernih, lebih sensitif, dan jujur kepada manusia. Sekali lagi ingin ditegaskan, qalbu itu pada hakikatnya adalah AKAL bagi manusia.

Mungkin Anda heran dengan pernyataan ini. Dalam benak kita yang namanya akal ya pikiran, atau otak, atau ra�yu dalam bahasa Arab, atau brain dalam bahasa Inggris. Tidak, hati termasuk salah satu unsure AKAL manusia. Bahkan hati adalah akal yang lebih kuat daripada ra�yu (brain).

Dalilnya adalah beberapa ayat berikut ini: �Lahum qulubun laa yafqahuna biha� (mereka memiliki hati, tetapi tidak dipakai untuk memahami. Surat Al A�raaf ayat 179). Dalam ayat lain lebih jelas lagi, �Afalam yasiruu fil ardhi fatakuna lahum qulubun ya�qiluna bina� (apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka memiliki hati yang dengan itu mereka berakal. Surat Al Hajj ayat 46). Dalam ayat lain disebutkan, �Wallahu akh-rajakum min buthuni ummahatikum laa ta�lamuna syai�an, wa ja�ala lakumus sam�a wal abshara wal af�idah, la�allakum tasykurun� (Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tak tahu apapun. Lalu Dia jadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur. An Nahl ayat 78).

Jadi tampak jelas, bahwa qalbu adalah akal yang digunakan manusia untuk memahami, berakal, serta meresapi nilai-nilai ilmu. Hati itu alat untuk memahami kebenaran. Hati bukan kebenaran itu sendiri. Ia hanyalah alat untuk memahami kebenaran. Kalau hati manusia masih terbuka dan hidup, insya Allah akan bisa memahami nilai-nilai kebenaran agama Allah Ta�ala. Maka itu, manusia yang kafir atau zhalim, kerap disebut �hatinya mati�, �hatinya terkunci�, atau �hatinya sakit�.

Lebih buruk lagi ketika Ary Ginanjar di halaman 114 menyebut suara hati manusia sebagai suara hati Allah. Ini sangat berlebihan dan tidak sesuai dengan kebenaran. Dalam Islam tidak diajarkan istilah �suara hati Allah�. Tidak ada itu. Suara hati itu milik manusia, bukan Allah.

Seseorang yang hatinya bersih, suci, dengan tingkat kecerdasan tinggi sekalipun, jika hal itu tidak membawanya untuk mengimani Islam dan menjadi Muslim yang baik, maka kebersihan hati itu menjadi tidak berguna. Apa buktinya? Lihatlah pemuda Muhammad bin Abdullah, sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul! Mana lagi ada manusia yang hatinya lebih bersih dari Muhammad? Tidak ada. Bayangkan, beliau sangat jujur sehingga digelari Al Amin. Beliau sangat bersih moral, sangat peduli orang susah, sangat pro keadilan, sangat concern dengan menyambung shilaturahim. Tidak ada manusia yang hatinya lebih suci dari beliau.

Tetapi kemudian Al Qur�an menyebut dalam Surat Ad Dhuha, �Wa wajadaka dhal-lan fahada� (dan Allah mendapati engkau �Muhammad- dalam keadaan bingung, lalu Dia memberimu petunjuk). Nabi yang suci hatinya disebut dhal-lan (sesat), sebelum menerima Wahyu. Maka turunnya Wahyu menjadi petunjuk bagi Nabi dari segala gelap-gulita kehidupan.

Menjadikan hati sebagai alat memahami adalah benar. Tetapi itu masih harus ditunjang dengan Wahyu, yaitu Kitabullah dan Sunnah. Tanpa Wahyu, hati sesuci apapun menjadi tidak berguna. Maka disini, konsep ESQ harus diperbaiki, karena telah keliru dalam memposisikan qalbu tersebut.

(5) Mengumpulkan Dalil Pendukung Apa Saja

Dalam buku ESQ New Edition itu disebutkan berbagai macam dalil-dalil untuk mendukung gagasan Ary Ginanjar tentang konsep ESQ dan penjabarannya. Jenis dalil-dalil itu antara lain:

  • Petikan terjemah Al Qur�an.
  • Petikan terjemah hadits Nabi Saw, termasuk di dalamnya hadits Qudsiy.
  • Pandangan HS. Habib Adnan, guru Ary Ginanjar Agustian.
  • Pandangan pakar psikologi Barat, antara lain: Stephen Covey, Robert Cooper, Victor Frankl, Danah Zohar, Ian Marshall, Ramachandran, Daniel Goleman, Dale Carnegie, David Schwartz, Peter Drucker, Napoleon Hills, Robert Kelley, Ralph Eemerson, dll.
  • Pandangan tokoh-tokoh Barat seperti Albert Einstein, Michael Hart, Thomas Edison, dll.
  • Konsep berpikir, �99 Thinking Hat�.
  • Pandangan Dr. Ali Shariati, cendekiawan Syi�ah asal Iran.
  • Emha Ainun Nadjib.
  • M. Husein Haikal, penulis sejarah Nabi.
  • Filosofi Jepang, seperti Kaizen, Bushido.
  • Pandangan pastor Prof. Dr. Dryarkara SJ.
  • Pengalaman bisnis company.
  • Hasil kajian Abdurrazzaq Naufal.
  • Pandangan beberapa tokoh sejarah Islam.
  • Sejarah sains modern dan Islam.
  • Fakta-fakta media, di dalam dan luar negeri.
  • Dan lain-lain.


Sebenarnya, banyaknya keragaman sumber referensi bisa membuat sebuah karya ilmiah semakin berbobot. Tetapi dalam konteks buku ESQ ini rasanya lain. Pertama, sumber-sumber informasi itu seluruhnya bersifat mendukung konsep ESQ, sehingga ia tampak seperti upaya �penggalangan�. Kedua, dalam buku ESQ sedikit mengandung unsur dialog, sehingga terkesan sangat �searah�. Ketiga, kuatnya dominasi pandangan pakar psikologi Barat popular. Dalam buku ESQ pandangan pakar psikologi Barat sangat kuat, sedangkan referensi Islam dipakai sebagai pelengkap saja.

(6) Salah Memahami Sifat Allah

Ini adalah kesalahan paling serius. Dalam memahami atau menjelaskan Sifat Allah Ta�ala, Ary Ginanjar melakukan dua kesalahan besar. Pertama, dia menyamakan Sifat Allah dengan sifat manusia (melakukan personifikasi). Kedua, dia mengklaim bahwa Sifat-sifat Allah bersemayam dalam diri manusia. Kedua kesalahan ini sangat mendasar, sehingga ada yang memfatwakan ESQ sesat. Disini akan saya tunjukkan bukti-bukti otentik dari buku ESQ karya Ary Ginanjar Agustian.

PERSONIFIKASI SIFAT ALLAH

�Erwyn mampu memaknai pekerjaannya sebagai ibadah, demi kepentingan umat manusia dan Tuhan yang sangat dicintainya.� (Halaman, 47). [Penjelasan: Allah Maha Kaya, Dia tidak punya kepentingan terhadap manusia atau makhluk-Nya. Justru makhluk berkepentingan kepada-Nya].

Mengutip pendapat pastor Prof. Dr. Dryarkara SJ, �Hal tersebut dipertegas dengan adanya suara hati manusia, suara hati Tuhan yang terekam dalam jiwa manusia.� (Halaman, 73). [Penjelasan: Tidak ada dalil dalam Al Qur�an atau Sunnah yang menjelaskan, bahwa Allah memiliki suara hati. Suara hati adalah milik manusia, bukan milik Allah Al A�la].

Dalam gambar bagan di halaman 92, disebutkan sebuah kalimat yang berbunyi, �Ikuti suara hati Ilahi.� [Penjelasan: Suara hati ada pada manusia, bukan pada Allah].

Di halaman 114, Ary Ginanjar memberi ilustrasi-ilustrasi tentang munculnya bisikan-bisikan positif dalam hati manusia. Ary selalu menjelaskan, bahwa bisikan-bisikan di hati manusia itu sebenarnya ialah bisikan dari suara hati Allah. Contoh, dalam kalimat berikut, �Ikutilah, itu adalah suara hati Sang Maha Teratur Al Baari� (Sang Maha Menata Keteraturan).� Kalimat lain serupa itu, �Ikutilah, itu adalah suara hati Sang Maha Bersih Al Hafizh (Yang Maha Menjaga).� Kalimat serupa ini diulang-ulang sampai 11 kali.

�Semuanya terangkum dalam kesatuan tauhid, yang Esa Zat-Nya, Esa sifat-Nya, Esa pemikiran-Nya, juga Esa perbuatan-Nya.� (Halaman, 266). [Penjelasan: Kalau sebelumnya Allah disebut memiliki suara hati, kali ini Allah disebut memiliki pemikiran. Pandangan demikian jelas salah. Tidak ada satu pun dalil Kitabullah dan Sunnah yang menjelaskan bahwa Allah memiliki pemikiran].

�Ini adalah pujian dan pengakuan kepada Tuhan, Rabb yang selalu suci dalam berpikir dan suci dalam bertindak.� (Halaman, 287). [Penjelasan: Ary Ginanjar benar-benar mengklaim bahwa Allah memiliki sifat berpikir seperti manusia. Ini adalah ketidak-tahuan tentang ilmu tauhid yang sangat jelas].

Bukti lain ialah dalam kalimat berikut: �Maka ilmu sejatinya terlahir karena dorongan suara hati manusia untuk selalu ingin mengetahui segala sesuatu. Hal ini sesuai dengan sifat Allah Sang Maha Penguak hidayah yaitu Al Haadi dan Al �Aliim (Maha Ilmu).� (Halaman, 347). [Penjelasan: Ary Ginanjar mengklaim, ada korelasi antara sifat rasa ingin tahu manusia dengan sifat Al Haadi dan Al �Aliim pada Allah Ta�ala. Pandangan demikian adalah khas persepsi tasawuf yang tidak ada landasannya dalam Syariat Islam. Persepsi demikian sifatnya sangat subyektif].

Masih dalam halaman yang sama, �Berdasarkan ilmu pengetahuan tersebut, menurut fitrahnya manusia ingin menciptakan sesuatu �sesuai dengan sifat yang Maha Pencipta yaitu Al Khaliq- manusia selalu ingin menciptakan hal-hal baru seperti suara hati yang dimiliki Allah tersebut.� (Halaman, 347). [Penjelasan: Menurut Ary Ginanjar, manusia memiliki sifat kreatif, karena meniru Sifat Allah sebagai Maha Pencipta. Jika sifat-sifat manusia itu merupakan refleksi dari Sifat Allah, seharusnya manusia tidak jatuh dalam dosa atau tidak disalahkan ketika melakukan dosa. Karena pada hakikatnya, Sifat Allah Maha Sempurna, tidak memiliki cacat sedikit pun].

Paham personifikasi Sifat Allah kepada sifat manusia ini tampak sangat terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran teologis Nashrani. Masyarakat Nashrani memahami dan meyakini, bahwa Allah memiliki sifat-sifat seperti manusia. Jelas hal ini merupakan kesalahan akidah yang fatal.

SIFAT ALLAH DALAM DIRI MANUSIA

Dalam buku ESQ kita dapati bukti-bukti tentang paham menyimpang yang diyakini Ary Ginanjar Agustian. Sebagian orang menyebutnya sebagai paham, �Manunggaling kawula gusti� atau pantheisme. Dulu tokoh pelopornya ialah Al Hallaj yang akhirnya dihukum mati. Apakah konsep ESQ sudah sampai sejauh itu, saya kurang tahu. Wallahu A�lam bisshawaab.

�Ketika jiwa manusia mengangguk, mengakui Allah sebagai Tuhannya, maka saat itulah Sifat-sifat Tuhan yang Suci dan Mulia, akan mengemuka dan memancar dalam God Spot-nya, dan dari sinilah dasar pijakan kecerdasan spiritual bermula.� (Halaman, 108). Masih pada halaman yang sama, Ary Ginanjar menyebutkan daftar Asmaul Husna dengan judul: �99 Sifat Allah yang terefleksikan pada God Spot (Core Values)�. Di halaman 110 disebutkan, �Inilah 7 spiritual core values (nilai dasar ESQ) yang diambil dari Asmaul Husna yang harus dijunjung-tinggi sebagai bentuk pengabdian kepada sifat Allah yang terletak pada pusat orbit (God Spot).�

�Krisis multi dimensi yang sedang terjadi di Tanah Air adalah akibat dari usaha pemisahan kehendak-kehendak Allah �yang bersemayam dalam kehendak hati nurani manusia/fitrah manusia- dengan kehendak pribadi manusia yang cenderung egois.� (Halaman, 271).

�Dan dalam Al Qur�an sendiri terdapat 99 sifat Allah �dimana sifat-sifat tersebut telah terekam dalam hati manusia dan terbukti sesuai dengan sifat-sifat Asmaul Husna milik Allah- maka suara hati manusia dapat diidentifikasi melakui pemaknaan 99 sifat Allah.� (Halaman, 337).

�Kesemuanya hal di atas (kehendak bebas, pikiran bawah sadar, atau apapun nama yang diberikannya), pada dasarnya merupakan upaya mengenal serta mempelajari suara-suara hati yang berasal dari Allah.� (Halaman, 361).

Dari berbagai bukti di atas, jelas sekali bahwa Ary Ginanjar telah menetapkan Sifat-sifat Allah bersemayam dalam suara hati manusia. Bahkan suara hati itu mencerminkan Sifat-sifat Allah yang terangkum dalam Asmaul Husna. Jelas sekali pemahaman seperti ini adalah menyimpang jauh dari akidah Islam yang lurus.

Mengklaim Sifat Allah (bahkan 99 Sifat dalam Asmaul Husna) bersemayam dalam suara hati manusia (oleh Ary disebut God Spot), memiliki konsekuensi sangat serius. Pertama, hal itu berarti merendahkan Sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna dan Mulia. Bahkan Sifat Allah itu dipenjara dalam jasad manusia yang lemah, hina, dan pelupa. Kedua, menjadikan manusia bersikap arogan, sebab merasa dalam dirinya terkandung Sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna. Ketiga, akan menimbulkan kebingungan tentang balasan amal-amal manusia. Hendak diapakan amal-amal itu? Kalau amal itu baik, toh Allah sendiri yang beramal melalui diri manusia. Kalau amal itu buruk, toh Allah juga yang beramal melalui diri manusia. Keempat, semua ini adalah bentuk kemusyrikan tersembunyi, yaitu meyakini bahwa Sifat-sifat Allah tersebar dalam diri manusia yang jumlahnya miliaran jiwa itu. Apa artinya �Ke-Esa-an Allah� jika kita meyakini ada Sifat-sifat dalam diri kita (manusia)?

Sebaik-baik ucapan adalah, Subhanahu wa Ta�ala �amma yashifun (Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka sifatkan). Allah Maha Suci dari kelemahan, kekurangan, dan cacat. ( suara-islam.com� / Bersambung ke bagian-4 / Kajian Umum )

Comments 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.